Menakar Agama

AGAMA, sesuatu yang belakangan ini menjadi trending topic di Indonesia secara khusus.

Apa itu agama?

Agama itu bagaikan suatu korporasi yang tokonya berada di suatu negara yang bernama ‘Surga’ dengan kompetitornya bernama ‘Neraka’. Dapet info dari kamar sebelah, gan (kayak diskusi di forum internet), PT. Agama ini sudah membuka banyak cabang di negara yang guedeee banget, bernama BUMI…

 

Nah, sebenarnya, meskipun saling kompetisi, PT. Agama yang ada di Surga, Neraka, or Bumi, konon menjual produk yang sama…ehhh, gak juga produk dink…jasa juga…

Korporasi ini menjual berbagai tulisan-tulisan kuno yang pabrikannya kurang jelas dan hanya bisa diterawang dengan menggunakan mesin bernama ‘iman’. Konon, tulisan-tulisan kuno ini ditulis oleh mereka yang mendapat penerawangan…jeng jeng jeng…jadi, kalo saya ingin membayangkan, ibaratnya waktu lagi mengetik artikel ini, terus ada cahaya yang datang di atas kepala, dan….WUZZZZZZ artikel selesai…Saya juga tidak paham sampai akhirnya banyak banget penerbit yang mau menerbitkan tulisan-tulisan kuno ini…

Korporasi ini juga menjual aneka aksesoris loh…misal, foto, pahatan-pahatan, dan sebagainya intinya tentang si CEO korporasi ini. Dan, kamu bisa memperoleh itu semua di toko atau cabang mereka terdekat. Konon, complementary product ini sering didebat. Ahhh, tapi saya tidak mau lanjutkan dehhh…mayeeessss…

Tidak hanya itu yang dijual oleh PT. Agama.

Mereka juga menawarkan jasa yang bernama ‘Jalan Keselamatan’, entah apa definisi operasional dari ‘Jalan’ dan ‘Selamat’. Kalo “Selamat jalan kekasihku, ku tak bisa bersamamu, walau itu…” Kandy, please…itu lagunya J-Rcok yang terkenal waktu Elu zaman SMA…Jadi, intinya, jasa yang mereka tawarkan ini lebih pada complement product juga. Jadi, kalo kamu sudah membeli produk-produk tadi, gunain dengan bener, kamu bisa mendapatkan jasa ini juga…gae opo??? Nanti tak jelaske…

Cara ordernya gampang banget, gan. Cukup kirim SMS ke…*paan sih*…gak gak…caranya gak bisa online, trus gak bisa rame-rame juga. Kamu musti order sendiri, yang konon, harus di order pakai hati…piye jal pakai hati itu…ahhh, hatiku aja gak mau tak kasi ke calon bini nanti…kecuali perlu…eh ini,literally ngomongin hati kan? Back to orderan, they called itu…Doa…

Salesman nya pun sangat handal, mampu cuap-cuap berjam-jam bagai motivator terkenal yang kadang ucapan sama pikiran dan perbuatannya tidak selaras (bahasa motivator kan penuh dengan mutiara, ‘selaras brooo…’); berdiri berlama-lama, entah di dalam gedung mewah seperti tim MLM yang lagi merekognisi para playernya untuk menarik calon konsumen baru, ataupun berjalan dari rumah ke rumah…sungguh! Keren banget!

Tapi, hati-hati! Jangan pernah menghina perusahaan ini. Apapun, kapanpun, dimanapun…Mereka sensitivity yang sangat tinggi bagaikan game counter strike level Pro Teronya, plus punya sistem keamanan super canggih, layaknya Pil NZT di film Limitless yang bisa mengetahui semua tentang kamu…ya tentang kamu…*ra usah nyanyi meneh!!!* Sekali kamu menghina, maka para hulubalang akan merekam, (mungkin) di edit apa yang kamu katakan, lalu memelintirnya, dan kemudian menghajarmu…emmm…literally menghajar loh ya…

Kadang, agama ini menawarkan sesuatu yang sangat istimewa, sama seperti prinsip Token Economy, berdoalah secara terus menerus, berbuat baik terus menerus, dan sebagainya sehingga kamu bisa bertemu dengan si CEO yang disebut tuhan.

 

Lah, kok sarkastik banget pembahasan tentang agama ini? Kandy sudah melakukan penistaan terhadap agama in general.

Ah! Statement “menista” tersebut menjadi bahan refleksi saya beberapa tahun belakangan ini.

Begini…ketika Anda emosi atau kesal membaca perumpaan saya di atas, satu hal yang bisa saya katakan, kok bisa emosi? Kan saya tidak menghina Anda! Saya juga tidak menghina satu agama manapun, dan hanya memperlambangkan, alias menggunakan majas personifikasi sarkastik. Jangan terlalu kuping tipis saudara!

Sebenarnya, saya pribadi paling tidak suka mengomentari tentang agama seseorang, apalagi sampai lebay kayak sekarang ini. Katanya, Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika…Katanya, torang samua basudara…Katanya, kita ini bangsa yang toleran…yang namanya Katanya, memang sulit, alias omdo tok…

Kita sudah terlalu banyak ribut siapa yang lebih suci darisiapa. Kita sudah terbutakan oleh cinta buta terhadap agama dan kepercayaan kita. Kita sudah gampang tertungganggi oleh kepentingan-kepentingan bukan tentang agama. Sudah lupakah kita kejadian 10 November 1945 dimana pasukan Inggris ditunggangi Belanda dan akhirnya memporak-porandakan Indonesia.

“Hey! Lihat semangat pahlawan kita yang berjuang!” mungkin komen Anda ketika menggangap saya menista kejadian tersebut.

Hello! Semangatnya memang besar, tapi, pernahkah kita doakan mereka yang gugur? Pernahkah kita doakan mereka yang ditinggalkan suami/istri/anak yang gugur di medan perang? Pernahkah kita sadar bahwa kematian yang seharusnya tidak ada dikarenakan oleh penunggangan para pemangku kepentingan?

… atau, paling simple, pernah kita merenungkan, kenapa Indonesia bisa dijajah, padahal kita memiliki kuantitas manusia yang sangat besar. Out of the context, pernahkah kita berpikir mengapa Indonesia yang terkenal dengan cultural heritage yang begitu banyak, bahkan sampai ke-magis-annya pun diakui dunia, tetap takluk oleh penjajah? Kita gampang terprovokasi! Oleh siapa? Noh, si yang punya kepentingan-kepentingan…

Apa bedanya dengan sekarang…Dulu, Inggris datang untuk melucuti Jepang, tapi ditunggangi Belanda, akhirnya jadi perang lagi (bahkan sampai Agresi Militer Belanda Kedua). Sekarang agama yang tujuannya baik, untuk menjadikan kita manusia beresensi di Indonesia, tapi ditunggangi berbagai kepentingan, entah politik, entah uang dan sebagainya…

Ini sebenarnya yang perlu kita renungkan bersama…

Bukan lagi soal siapa yang benar siapa yang salah, siapa yang lebih baik…

Apa sebenarnya agama itu?

Agama menurut KBBI adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Tapi, jika ditanya kepada Anda, atau saya apa itu Agama…pasti! Kita memiliki definisi dan konsep yang bervariasi. Kenapa? Yap! Agama itu urusan pribadi seseorang! Itu adalah salah satu hak dasar manusia mau memilih agama apa, bahkan jika ia memilih untuk tidak memilih.

Sama seperti perumpaan personifikasi sarkastis tadi, agama bagaikan korporasi, dan korporasi ada banyak. Yang mana yang Anda pilih, ya terserah konsumen. Hanya saja, berbeda dengan korporasi duniawi, bagi saya pribadi, ketika kita sudah memilih salah satu agama, kita secara sadar dan bertanggung jawab akan dikenakan komitmen…komitmen inilah yang menjaga kita tetap pada pilihan kita. Lalu, orang yang pindah agama tidak berkomitmen? Kembali ke klausul pertama, Agama adalah pilihan personal, dan komitmen adalah hal yang personal juga. Gak usah terlalu ribet suka ikut campur urusan orang lain deh…

Namun, Agama, menjadi urusan orang lain ketika sudah mengganggu ketentraman seseorang dan melanggar unsur legalitas atau peraturan yang kita sepakati bersama. Misalnya, jika minoritas ingin mendirikan rumah ibadah di daerah mayoritas, namun ditolak, ya kita harus lihat aspek legalitasnya. Jika tidak memiliki ijin, ya jangan di bangun! Ini bukan intoleran, tapi obey to the rule (Baca: Millgram’s Obedient Theory).

Anyway, agama itu memang memiliki semacam dogma atau ajaran. Pasti. Dan saya percaya bahwa, agama adalah bentuk konkrit dari perwujudan Teori Behaviorisme, khususnya stimulus-respon atau aksi-konsekuensi atau reward-punishment. Agama seakan-akan merongrong kognitif kita, bahwa “jika kamu tidak melakukan ini, maka…” atau “jika kamu menginginkan itu, maka…”. Kita seakan di brainwash dengan berbagai macam aturan, dan ditakut-takuti dengan apa yang dinamakan dosa, neraka, penyiksaan, hukuman tiada akhir, siksa kubur, dan sebagainya. Akhirnya, kita, kalau mau jujur, melaksanakan agama tersebut dengan terpaksa…bukan dengan penghayatan yang sungguh, yang tulus, bahwa kita adalah makhluk yang tidak berguna tanpa kehadiran yang Mahakuasa!

Saya tidak akan menyalahkan konsep agama dengan pendekatan behaviorime ini. Bahkan, somehow, saya setuju. Manusia memang memiliki akal budi dan kehendak bebas (freewill dalam pendekatan Humanistik). Tapi, manusia juga perlu memiliki sosok otoritas yang mengatur kehidupannya. Pihak otoritas inilah yang bisa membuat alur kemana manusia bisa melangkah. Eksperimen Milgram juga membuktikan bahwa untuk membuat suatu keteraturan dalam suatu ke-chaos-an, diperlukan suatu unsur yang memiliki otoritas. Dalam hal ini dogma, ajaran, ketentuan, atau syarat-syarat agama. Ini akan membuat harmonisasi di dunia ini. Di satu sisi manusia bisa berkreasi, di sisi lain, ada patron-patron khusus yang perlu tetap diwaspadai untuk menghindari chaos.

Lalu, poin apa yang sebenarnya ingin saya katakan?

Pertama, agama adalah urusan pribadi selama ia tidak menggangu tatanan umum masyarakat, yang diakui bersama. Dalam hal ini, ketentuan dan Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila, dan apapun itu yang diatur negara. Saya mau baik, saya mau buruk, itu urusan saya selama saya tidak menggangu Anda. Janganlah terlalu menjadi manusia yang terlalu sensitif, gampang termakan isu hoax atau menebarkan kebencian di media sosial dengan motif agama. Mending kita manfaatkan potensi yang sudah Ia berikan, demi kemajuan bangsa. Masih banyak anak-anak yang tidak sekolah karena miskin. Mengapa miskin? coba tanya ke para penghuni rutan kasus korupsi, dikemanain aja tuh duit yang sebenarnya bisa dipakai buat bangun sekolah dan subsidi uang sekolah…

Kedua, daripada ribut, ayo, ayo, ayo biasakan 3 magic words ini…TERIMA KASIH, TOLONG, dan MAAF. Daripada kita ribet-ribet bahas mengenai konsep toleransi, mending membiasakan menggunakan kata-kata ini…

Ketiga, tolong, kepada mereka yang punya kepentingan tapi mengatasnamakan agama, tolonglah, saya tidak mau telat ke kantor hanya karena macet demo dengan mereka yang ingin membela CEOnya…atau, saya juga tidak mau melewatkan film di bioskop hanya karena anarkisme penutupan tempat ibadah yang sebenarnya tidak ada ijin membangun…Tolonglah…

Yasudah, itu saja…

 

Nb:

tuhan, jika engkau memiliki koneksi internet disana, ampuni Kandy yang sudah menistamu. Tenang, saya percaya bahwa engkau tidak perlu pengacara TOP untuk membelamu. Saya percaya bahwa engkau tidak perlu bala tentara dengan sniper serta tank amfibi canggih untuk menjagamu. Saya percaya bahwa engkau tidak perlu frontmen yang tangguh bak kisah 300 Spartan yang berjuang mempertahankan daerah dan proud mereka. Saya percaya, anda, sebagai CEO perusahaan yang bernama agama, hanya memerlukan satu hal dari kami calon konsumen Anda…mengucap syukur dan mengolah potensi yang engkau berikan…itu dua hal ya toh…oh dua, ya sudahlah ya…simple.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s