Quality Time itu, SULIT?!

Dalam sebuah sesi konseling saat perayaan Hari Anak Sedunia di salah satu Mall di Surabaya seorang ibu berkata demikian, “Dok, apa obat atau vitamin agar anak saya yang masih TK ini berat badannya ideal?”

Di satu sisi saya merasa flirting karena dipanggil dokter (ceileee, cita-cita masa kecil pengen jadi dokter kesampaian dalam 3 jam pas sesi konseling tadi. Hihi..), tapi di sisi lain…What! Obat atau vitamin?

“Saya bukan dokter atau ahli gizi, bu. Tapi psikolog.” Jelas saya kepada Ibu tadi. Dan memang ternyata, ibunya “asal masuk” saja di stand yang bertuliskan “POS UNEG-UNEG” (FYI, Pos Uneg-Uneg adalah salah satu stand yang disediaka dalam acara perayaan Hari Anak Sedunia yang bertujuan untuk konseling. Simplenya, tempat untuk curhat, or konseling lah). Ibu tersebut memang sedang mencari stand untuk berkonsultasi terkait gizi anaknya (saya juga kurang paham apakah pihak panitia membuat stand konsultasi gizi). Singkat cerita, ibu tersebut mulai bercerita terkait anaknya dan kesehariannya (ya, mungkin efek psikolog kali ya, bisa buat orang pada akhirnya curhat…#sombongdikitgakapalahya).

Dari cerita ibu tersebut, ditemukan bahwa salah satu penyebab anaknya mengalami overweight (belum separah kasus obesitas di Jabar yang saat ini ramai di medsos sih) adalah anaknya tidak mau untuk bergerak atau bermain secara fisik lazimnya anak TK yang nuakalnya segunung Sumbing. WHY? Yuph! Karena ia sudah diberi gadget dan tidak mau lepas dari barang “haram” bagi anak kecil tersebut. Anaknya lebih tertarik berjam-jam bermain gadget daripada bermain bersama teman sebayanya. Lebih parahnya lagi, ibu dan bapaknya tidak mau melarang karena TIDAK TEGA! Nah, ini! Namun, pada artikel ini, saya tidak akan membahas mengenai penyalahgunaan gadget pada anak. Melainkan, lebih pada apa yang terjadi pada keluarga ini yang bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Selain itu, ibu ini juga mengeluhkan bahwa hubungan antar anggota keluarga tidak hangat, tidak dekat, tidak terlalu banyak dinamika. Hal tersebut dikarenakan jarang dan sulitnya waktu untuk bertemu antar anggota keluarga mereka.

Saya bertanya lebih lanjut mengenai kondisi keluarga mereka. Suami dari ibu tersebut bekerja dari hari Senin hingga Jumat (Sabtu-Minggu libur), sedangkan ibu tidak bekerja. Namun, mereka tidak memiliki waktu khusus untuk sekadar berkumpul, ngobrol bareng, dan bahkan keluar bareng.

“Halah mas, keluar sama anak-anak itu ruibet. Jauh.” Begitu tanggapan ibunya ketika saya bertanya tentang bagaimana dinamika keluarga mereka.

Menanggapi pernyataan ibu tersebut, saya hanya bertanya secara sederhana.

“Ibu tinggal di daerah mana?” Tanya saya.

“Pandegiling” jawab ibu itu.

“Berarti, ke arah Jalan Raya Darmo, deket donk bu?”

“Deket bangetlah. Kenapa?”

“Nah, Bapak Ibu dan anak-anak Free gak di hari minggu pagi biasanya?”

“Ya pasti free mas. Kita gak kemana-mana. Paling di rumah aja. Istirahat.”

“Nah! Pernah denger car free day bu?

“Pernah, mas.”

“Ibu gak ikut itu?”

“Gak sih mas. Belum pernah.”

“Nah! Kira-kira, ibu-bapak, dan anak-anak pergi bareng, sekadar lari pagi bareng di hari CFD itu gimana?”

“Ya gak apa-apa. Itu sih menurut saya waktu yang berkualitas sih.” (mulai ketawa kecut dan tersadar…)

“Nah! Betul bu! Itu ibu tau gimana waktu yang berkualitas itu.” Kata saya sambil tersenyum lebar sumringah ala Donald Duck.

“Ah! Saya baru kepikiran yang sederhana kayak gitu bisa dilakuin bareng-bareng.” Jawab ibu itu.

 

Yes! Banyak orang yang terjebak dengan rutinitas (apalagi masyarakat metropolitan), dan keluarga kadang hanya menjadi simbol “yang penting aku wis nikah, wis duweh anak”. Quality Time seakan seperti Aerodactyl atau MewTwo pada Game Pokemon Go, cek uangggeeel e digolekno (sulit sekali mendapatkannya). Quality Time bersama seluruh anggota keluarga terasa amaaat sangat sulit, mahal, dan membutuhkan daya yang besar. Karena, ketika kita berkata, Yuk, bikin Quality Time keluarga, pikiran kita langsung terkondisikan ke liburan yang panjang, ke luar kota, dan buang-buang duit. Belum lagi pengaruh gadget yang memperlebar jarak intimacy antar anggota keluarga atau dengan pasangan.

NO! Yep, BIG NO! Quality time bisa terwujud melalui hal-hal sederhana yang diawali dengan komitmen. Aktivitas bersama di Car Free Day, olahraga bersama, bahkan, sekadar makan malam di rumah, dan meletakkan gadget di kamar masing-masing kemudian menyantap menu makan malam ditemani obrolan itu sudah quality time, kok. Bagi Anda yang sudah berkeluarga, quality time bisa dibentuk dengan kesepakatan pada jam-jam tertentu Anda dan anggota keluarga akan bertemu, melakukan kegiatan bersama, tapi tanpa diganggu oleh gadget, dan sebagainya. Contoh, sepakati bahwa tiap hari Sabtu di atas jam 18.00, adalah waktu keluarga dimana tidak boleh ada lagi yang menggangu baik itu pekerjaan, ataupun gadget.

Sebagai catatan, jangan membuat patokan bahwa Quality Time hanya bisa dibentuk saat weekend loh ya. Saya mempertimbangkan bagi mereka yang bekerja di perusahaan seperti karyawan retail, tenaga medis (dokter, perawat, bidan, dan sebagianya) yang jam kerjanya juga menggunakan waktu di weekend pula. Karena pada intinya, Quality Time dibentuk sesuai dengan komitmen bersama dan tegas, berani meninggalkan gadget.

Sharing saja, Lucia dan saya tergolong sangat sibuk juga. Terkadang saya bekerja sampai sore menjelang malam, kemudian melanjutkan pekerjaan di tempat tinggal. Begitu pula dengan Lucia yang beraktivitas gym sampai malam. Lalu, bagaimana kami membuat quality time? Setiap Sabtu (kecuali saya ada tugas memberikan pelatihan atau tugas dinas keluar kota atau ia sudah janjian sama teman-temannya), di atas jam 16.00, kami sudah tidak mau diganggu oleh masalah pekerjaan (kecuali yang urgent banget nget nget) dan mulai membatasi tidak menggunakan gadget yang berlebihan. Kegiatan yang kami lakukan dalam mengisi waktu bersama itu pun gak harus melulu ke mall (jujur saya tidak suka ngemall), namun kami memasak bareng, hunting foto bareng, atau sekadar nonton youtube di rumah. Selain itu, kami juga mewajibkan agar setiap minggu, HARUS ke gereja bareng. Komitmen-komitmen kecil itulah yang menurut kami bisa membentuk quality time. Tidak perlu mahal, tidak perlu ribet, tidak perlu jauh.

Nah, semoga penjelasan di atas mulai meruntuhkan excuse-excuse teman-teman, bahwa quality time itu ribet, mahal, melelahkan dan sebagianya. Quality time yang tercipta mampu menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis. Dan hal itu pun bisa berbanding lurus dengan kesehatan keluarga secara fisik. Bisa kebayang-kan, jika keluarga Ibu tadi terbiasa berolahraga bersama, atau sekadar free day bisa mengakibatkan si ibu tidak perlu memanggil saya “Dok” dan menanyakan obat atau vitamin sehingga anaknya tumbuh normal dengan berat badan yang ideal?

Jadi, mulailah rencanakan dan realisasikan Quality Time bersama orang-orang yang kamu sayangi! Kapan mulainya? Ya as soon as possible, rek…Time is Ticking, bro!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s