Menyusuri Misteri Gereja Ayam di Bukit Rhema

 

Hari sudah menunjukkan pukul 10.00 saat Merhi (jenenge motorku si Blade) ku parkirkan di lapangan parkir Bukit Rhema, Magelang. Yep! Awal Maret kemarin saya mencoba untuk mengeksplorasi salah satu heritage culture yang masih ‘misterius’, si Gereja Ayam (kata medsos). Saya menggunakan kata ‘misterius’, karena informasi dari internet tergolong sangat sedikit yang membahas bangunan ini.IMG_1194 copyIMG_1254

Bangunan yang berbentuk unggas ini terletak di desa Waringin, daerah Borobudur. Simplenya, jika memasuki area Borobudur (bukan di kawasan candinya loh ya), kamu akan menemukan persimpangan jalan. Lurus ke arah masuk candi, ke kanan menuju ke warung-warung tempat makan, dan ke kiri menuju Desa Waringin tersebut. Kalo pada bingung, monggo ditanya ke warga sekitar karena bangunan ini sudah dipatok menjadi salah satu area wisata kawasan Borobudur selain Candi itu sendiri, dan Punthuk Setumbu. Jadi, kalian tidak mungkin tersesat atau kesulitan menemukan bangunan ini.

Gereja ini terletak di atas atau Puncak Bukit Rhema. IMG_1192 copyBagi anak gunung, istilah MDPL menjadi istilah yang ‘hitz’ jika mendengar kata-kata Puncak, yawis, Puncak ini terletak di sekitar 550-650 MDPL (pendek kan???). Eitsss, jangan seneng dulu. Jarak yang ditempuh dari lahan parkir hingga ke Gereja tersebut hanya sekitar 30 menit. Akan tetapi, kita harus menaklukkan tanjakan dengan elevasi sekitar 75-80 derajat, loh. Itu sama kayak menuju ke Puncak Sumbing atau Tanjakan Cinta Semeru. Jadi, siapkanlah betis, kaki, dan air karena ke-hos-hos-an siap menantimu.

IMG_1191 copyTanjakan yang cukup menguras tenaga tersebut terbayar setelah saya mencapai puncak Bukit Rhema dan si ayam seakan melambaikan ekornya tanda menyambutku. Ahhh! Ketemu juga kau!

Di pintu masuk ada penjaganya, seorang ibu-ibu, dan di dalamnya ada beberapa kios yang menjual makanan dan minuman. Saya tidak akan mendeskripsikan bagaimana bangunan ini, tapi, biarkan foto-foto di bawah ini yang akan menjelaskan kepada teman-teman (let’s photos speak, wejiannn bahasa gue).

IMG_1177 copyIMG_1145 copy

IMG_1155 copy

IMG_1115 copyKalian perlu membayar Rp5000,- untuk warga lokal, dan Rp10.000,- untuk tamu internasional. Selain itu, mereka juga menyediakan persewaan teropong bagi kalian yang ingin menikmati pemandangan jarak jauh dari kepala si ayam. Teropong tersebut bisa disewa dengan harga Rp5000,-.

Ternyata! Gedung ini bukan berbentuk ayam, tetapi burung merpati. Memang, antara ayam dan burung merpati yooo sejenis, sama-sama unggas. Jadi, daripada multiintepretasi, mari kita sebut bangunan ini sebagai bangunan aves. Wkwkwkw.. sak penak e dewe ngubah jenenge wong ciak. Ya mau gimana lagi, tidak ada papan petunjuk atau informasi mengenai gedung ini, dan saya pun hanya mengandalkan informasi wawancara dari para warga sekitar dan penjaga disitu.

Ada dua versi tentang pemanfaatan gedung ini. Pertama, gedung ini digunakan sebagai tempat pengobatan waktu zaman perang dulu. Tapi, menurut informasi lain, gedung ini didirikan khusus untuk area pariwisata. Ada pula informasi yang lebih mengherankan, bahwa ternyata gedung ini didirikan tahun 1992 (saya pikir terlalu tua bentuk fisiknya jika dibandingkan dengan usianya. Mungkin karena tidak dirawat).

IMG_1166 copyGedung aves ini terdiri dari beberapa lantai. Lantai paling atas digunakan untuk melihat pemandangan luar (Candi Borobudur bisa terlihat dari sini, dan bahkan Gunung Sumbing-Sindoro bisa menampakkan dirinya jika cuaca sedang cerah banget).

IMG_0479 copyLantai tengah berupa aula yang guedeee, yang bisa dipakai untuk berbagai kegiatan (saya pikir ini cocok juga diadakan tempat outbound indoor wkwkwk). Sedangkan lantai bawah menyerupai kamar-kamar kecil dan ada pula yang menyerupai kelas. Menurut informasi yang saya peroleh, malah, di lantai paling bawah ini lah yang sering digunakan untuk ibadah.

IMG_1101Banyak banget informasi yang simpang siur mengenai bangunan ini. Entah gereja, entah hanya bangunan, atau apa. I don’t know. Tampaknya, pemerintah melalui dinas pariwisata perlu lebih memerhatikan dan mengembangkan gedung ini. Sayang banget, gedung yang unik ini tidak dirawat, malah dicoret-coret sama para alayers yang mengaku traveller sejati, yang hitz, yang in. Eman loh…Yang penting, bagi kita yang akan berkunjung kesana, tetaplah inget prinsip dan kode etik traveller: (1) take nothing but picture, (2) leave nothing but foot print; (3) kill nothing but time. Enjoy Bukit Rhema!

See u on medsos!

Facebook: Andhika Alexander Repi

Instagram: galerinya_kandy

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s