Semarang Undercover: Mengungkap Sejarah PNI dan Batik Di Semarang

Terik matahari yang cukup menyengat tidak mengurangi niat kami untuk survei tempat “open trip” wisata Semarang. Kami melanjutkan perjalanan menuju ke arah Kranggan Dalam untuk bertemu dengan warga lokal di daerah situ, BangIMG_0817

Kami bertemu Bang di rumahnya yang terletak di tengah pemukiman warga. Corak setiap ornamen di setiap sudutnya sangat kental akan budaya Jawa yang menambah keindahan rumah itu. Warna cokelat krem muda dari cat tembok pun membuat kesan teduh ketika kita memasuki rumah yang ternyata sudah berusia lebih dari setengah abad. Begitu pula dengan tanaman-tanaman hijau di beberapa pot yang sengaja dimasukkan ke teras rumah sehingga menambah kesan asri di dalamnya.

Ternyata, rumah yang nyaman itu memiliki nilai budaya yang amat sangat tinggi. Bang menjelaskan bahwa rumah tempat tinggalnya itu sudah didirikan sejak zaman perang melawan Belanda dulu. Di rumah itu pula, Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia, konon sering mengadakan rapat tertutup dengan para anggota partai Partai Nasional Indonesia atau PNI ketika berkunjung ke Semarang. Partai PNI merupakan partai yang didirikan Soekarno dengan semangat Marhaenisme, yaitu menentang penindasan manusia, serta mengangkat kehidupan rakyat kecil. Yuph! Rumah Bang merupakan kantor pusat dari partai PNI.

IMG_0816

Namun, sayangnya, tidak ditemukan bukti konkrit tentang keberadaan kantor pusat PNI di rumah tersebut. Hanya sebuah foto asli tapi kuno dari Ir. Soekarno yang tergantung di atap rumah tersebut yang menunjukkan bahwa rasa nasionalisme tetap ada dan tinggal di setiap penghuni rumah ini.

IMG_0810

Selain itu, rumah Bang ternyata adalah pusat kebudayaan Batik di Semarang. Dari rumah inilah Batik mulai dikerjakan oleh para pengarajinnya, mulai dari proses batik tulis, hingga dicetak menjadi pakaian. Berbeda dengan pusat PNI, bukti bahwa rumah Bang menjadi pusat Batik Semarang pun masih tersimpan. Kita bisa melihat canting batik (pena untuk membatik) bekas yang disimpan di lantai dua rumah tersebut, serta pemanas batik (kayak kompor gitu deh).

IMG_0809

Ada filosofi menarik dari rumah ini. kerajinan Batik di buat di lantai dua rumah tersebut dan dikerjakan oleh wanita. Menurut Bang, dalam budaya Jawa, wanita sangat dihargai dan ditinggikan. Oleh sebab itu, ketika wanita berkarya, mereka akan ditempatkan di tempat yang lebih tinggi dari pria, misalnya di lantai dua. Selain itu, pintu yang ada di rumah tersebut pun dibuat pendek (aku beberapa kali kepentok saat melewati pintu-pintu tersebut…zzz).Tujuannya agar kita sebagai manusia selalu merunduk seperti ilmu padi, yaitu selalu rendah hati dan tidak sombong.

Rumah Bang yang tidak terkenal ini ternyata menyimpan begitu banyak peninggalan sejarah dan budaya. Oleh sebab itu, kita sebagai generasi penerus hendaklah lebih memperhatikan dan menjaga cultural heritage seperti ini. Mari lestarikan budaya kita di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s