Serba Merasa Kurang? Ini Solusinya…

galau

Tiba-tiba, ada BBM masuk dari seorang rekan kerja sewaktu saya bekerja sebagai tim HRD di perusahaan ritel Surabaya. Sebut saja Mawar (Kayak insial di infotainment aja…hahaha…) Mawar bertanya, apakah saya memiliki lowongan pekerjaan untuk seorang kenalannya. Sebut saja Batang (Mawar sama Batang? Apaan Sih!).
Batang, pria berusia 48 tahun memiliki latar belakang pendidikan Sarjana Teknik, namun menguasai ekonomi, hukum dan kesehatan. Menurut Mawar, Batang pernah memiliki pengalaman bekerja di salah satu bank ternama di Indonesia bagian merchant akusisi corporate, pernah juga menjadi seorang manager di sebuah pusat kebugaran (kita sebutnya Gym kali ya?) serta pernah tinggal kurang lebih dua tahun di Eropa.
Saya spontan bertanya kepada Mawar, posisi apakah yang hendak dilamar oleh Batang. Nah, dari sinilah saya pun mendapat inspirasi menulis blog ini lagi…Begini jawaban Mawar:

“Usia 38 thn,,,dia fighter krn mulai hdp dari bawah bahkan jadi kuli jg pernah,,,tdk pernah memilih2 pekerjaan,,,jadi pekerjaan apapun pernah dijalanin,,,tapi dari sana dia byk bljr banyak hal.”

“Waktu diluar negri dia jg mulai dari bawah. Org (saya sensor karena terkait suatu ras). Tipe perantau.”

Nah, apa yang berhasil saya refleksikan dari sini? Kita semua pasti pernah mengalami apa yang saya rasakan ini. Pasti. Tapi, tujuan saya menulis artikel ini bukan seperti Pak Mario Teguh untuk memotivasi atau Ways-Ways-Ways apapun. Bukan bidang saya untuk memotivasi dan berbicara tentang hal-hal ideal (mungkin sampai saat ini, saya belum tertarik masuk di bidang itu). Cenderung, lebih menyukai dan passion di bidang Training and Organization Development yang benar-benar hasil TNA (Whatevar Kandy! Lanjut!)

***

Akhir-akhir ini saya merasa mendapatkan banyak berkat dari pada Nya. Entah dalam bidang studi, dimana laporan magang akhirnya di acc dosen pembimbing, ataupun di bidang pekerjaan, dimana Dia memberikan kesempatan belajar banyak dan mendapat kepercayaan mengelola beberapa instansi dalam hal Training dan pembuatan sistem perusahaan. Secara kasat mata, pasti orang akan menilai, “Wih, enak ya…”; “Wow! Keren donk…”; “Asyeeemmm. Mantap donk kalo gitu…” dan apapun itu.

***

Tapi, apa yang saya rasakan? Saya merasa seperti hampa. Bahkan waktu saya merenung di WC saat…. (saya tidak perlu meneruskannya kali ya?) intinya, saya sering merenung saat “berproses” di WC. Banyak insight yang muncul….Ciyus…

Saya berpikir denga gejolak hati yang menggelora (Luebay!),

“Oh, laporan di Acc.”
Nah, pikiran saya langsung menimpali…
“Lah bukannya memang seharusnya kamu segera menyelesaikan studi S2mu?”

“Oh, dapat Job…”
Kembali lagi, pikiran saya langsung menimpali…
“Lah, dapat Job aja seneng? Yunani kapan?”

Pikiran-pikiran seperti itu yang muncul. Yang kemudian membuat saya merasa hampa. Ya…Hampa…

PLAAAK!
Tuhan menampar saya! Kok bisa?

Sewaktu saya berada dalam kegalauan itu, saya mendapat BBM dari teman saya di atas itu. Apa kaitannya kemudian?
Ternyata, rasa hampa ini bukanlah rasa hampa yang kosong atau apa. Ini adalah perasaan dimana saya tidak tahu bersyukur. Tidak tahu berterima kasih, atas hal sekecil apapun.

Ya, bersyukur!!!

Kata itu sangat singkat tapi memiliki banyak makna. Kata itu simpel, tapi sulit dipraktekkan. Kata itu banyak terdapat di nyanyian tapi sedikit dalam perbuatan. Kata itu…Ya, kata itu…Bersyukur. Itulah mengapa ada perasaan hampa.

Siapapun kita, saya yakin kita semua pasti pernah mengalaminya. Entah masalah pekerjaan, masalah studi, hingga ke masalah hubungan baik dengan orang lain ataupun dengan pasangan. Kita tidak beryukur atas apa yang sudah kita punya meskipun sekecil apapun…Ada aja yang kita komplainkan atau sesalkan. Entah masalah nilai mata pelajaran kuranglah, fee atau gaji kurang, pasanganku kurang ini kurang itu, dan begitu banyak kondisi dimana kita komplain dan akhirnya tidak bersyukur. Hayooo, jujur???

Batang, seorang pria yang berusia 48 tahun, idealnya sudah memiliki pekerjaan yang tetap, okelah mapan, dan settle (bener gak tulisannya tuh?). Idealnya begitu. Tapi, mengapa hingga pada usia itu ia belum memiliki pekerjaan? Kita tidak pernah tahu apapun masalahnya. Kita tidak pernah tahu dapur orang bukan?
Sebenarnya, bukan kisah Batang yang menginspirasi saya. Tapi, bahasa BBM dari teman saya si Mawar itu. Terlepas dari apakah benar atau tidak kondisi Batang yang ia ceritakan, di akhir BBM, Mawar menulis…

“Dia ud berumur,,,blm kerja samp sekarang,,,tapi satu hal dari dia,,,dia selalu berdoa ngucapin syukur kalo dia boleh makan hari itu,,,”.

Hmmm…bener juga…Kalo memang rasa hampa itu terjadi karena kita kurang bersyukur, jadi, gimana caranya kita bersyukur?
Saya rasa, berdoa adalah jalan terbaik kita mengetahui, piye sih carane Thanks To God itu…hmmm.

Terima kasih Batang Mawar buat inspirasinya!!!

*Anyway, maaf sudah lama tidak posting artikel…saya sudah lama tidak mengelola blog http://www.andhikaalexander.wordpress.com karena sedang terlibat projek SEO atau Search Engine Optimization dengan rekan saya beberapa blog advertise. Tapi, tunggu tulisan-tulisan sharingnya berikutnya ya…Blog ini tetap aktif kok…^_^*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s