Blusukanku di Bantaran Kali Pluit

Koleksi Pribadi
Koleksi Pribadi

Setelah puas berfoto dan menikmati pemandangan Jakarta Utara dari atas Menara Syahbandar, 4 anak yang bersama saya tersebut memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami.

Rencananya, kami akan mengunjungi rusun tempat mereka tinggal di bilangan Pluit. Tapi, karena kesulitan transportasi, akhirnya kami memutuskan untuk pergi sendiri-sendiri. Saya ditemani oleh Fahmi sebagai penunjuk arah, sedangkan tiga bocah yang lain menggunakan angkot.

Fahri dan kawan-kawannya ternyata tidak tinggal di rusun. Mereka tinggal di dekat rusun tersebut. Kami pun mis-komunikasi. Mereka maksud adalah kita akan pergi ke Taman Kota Waduk Pluit atau dikenal masyarakat sekitar sebagai Taman Jokowi. Itu pun saya ketahui setelah saya bertanya kepada Fahmi bagaimana keadaan rusun tempat mereka tinggal.

Tapi, tak mengapa. Fahmi pun mengantar saya ke arah Taman Kota Waduk Pluit tersebut. Ia meminta saya menurunkannya di sekolahnya karena ia punya agenda disitu. Saya pun diarahkan untuk menyusuri jalan tersebut karena jarak antara sekolah dan Taman Kota Jokowi tidak jauh.

***

Saya pun menyusuri jalan yang dikatakan oleh Fahmi. Perasaan kecewa tidak bisa ke rusun yang biasanya hanya saya lihat di televisi tersebut seakan terobati ketika saya melewati ruas jalan yang ditunjukkan oleh Fahmi. Ternyata, jalur menuju ke Taman Kota Waduk Pluit tersebut melewati rusun-rusun pemerintah baik yang sedang dibangun, maupun yang sudah ditempati. Selain itu, kebahagiaan saya pun bertambah karena jalur itu pun melewati rute rumah-rumah bekas gusuran di bantaran kali kali apa ya namanya? Saya lupa menanyakan kali apa, yang jelas di bibir kali tersebut terdapat pintu air yang langsung mengarah ke laut. Saya pun mengitari waduk pluit yang selama ini hanya bisa saya lihat di televisi, baca di berbagai media, dan dengar dari cerita teman-teman.

Ada suatu kawasan yang sangat membuat saya tertarik, yaitu kawasan bekas bangunan-bangunan di bantaran kali yang baru saja di gusur. Saya pun memarkirkan motor di dekat situ, dan langsung menuju ke area tersebut. Agar supaya lebih jelas, saya akan menampilkan beberapa foto terkait area tersebut.

 

Koleksi Pribadi
Koleksi Pribadi

 

Koleksi Pribadi
Koleksi Pribadi

Disitu, ada seorang Bapak yang sedang beristirahat dari pekerjannya. Saya pun menghampirinya, dan menyampaikan salam. Ternyata, ia bukanlah warga yang terkena gusur. Menurut Bapak yang kita sebut saja sebagai Pak Budi, ia hanyalah bekerja sebagai pencari besi tua dari hasil penggusuran rumah bantaran kali. Hasil dari mengumpulkan besi-besi tersebut akan dikumpulkan lalu dijual ke pengepul dengan harga Rp7500,00 per kilogramnya. Pak Budi yang ternyata berasal dari Semarang itu sudah lebih dari sepuluh tahun mengadu nasib di Ibukota. Namun, sampai sekarang ini, ia masih menjadi ‘anak jalanan’. Ia tidak memiliki tempat tinggal tetap di Jakarta, dan hanya mengandalkan gerobaknya untuk tempat ia tidur.

Awalnya, ia berpikir bahwa saya adalah kuli tinta atau wartawan. Mungkin karena penampilan saya yang membawa kamera dan berkata-kata seperti wartawan kali ya? He he he. Meski begitu, kami bisa mengobrol cukup lama. Pak Budi tampaknya nyaman dengan percakapan kami karena menggunakan bahasa Jawa. Itulah keuntungan ketika kita bisa berbahasa lain. Bahkan, ia menceritakan beberapa hal yang tidak pernah diungkapkan ke masyarakat (setidaknya, selama ini saya mengikuti berita tentang penggusuran dan pendirian rusun, saya tidak pernah mendengar informasi seperti yang disampaikan Pak Budi tersebut.). Oke, terlepas informasi dari Pak Budi itu benar atau tidak, mari kita tampung info tersebut sebagai bahan refleksi kita bersama.

Pertama, ia menyatakan bahwa penduduk yang bertempat tinggal di bantaran kali tersebut memang kebanyakan adalah orang asli Jakarta. Namun, ada juga sekelompok warga pendatang yang punya “power” yang lebih besar disitu. Mereka berasal dari Pulau tempat kelahiran saya (saya tidak mau menyatakan secara spesifik daerah tersebut). Sebenarnya, usaha untuk merelokasi bangunan-bangunan di bantaran sungai tersebut sudah berlangsung sejak zaman presiden kedua, kembali lagi menurut pernyataan Pak Budi tersebut. Namun, baru sekarang terwujud.

Kedua, Pak Budi menyatakan, proses penggusuran kali ini sukses dibandingkan dengan beberapa periode yang lalu. Hal tersebut karena ada campur tangan juga dari pihak berwajib yang membawa senjata saat proses penggusuran tersebut. Tapi, jika kita kritisi lagi, bukankah dari dulu juga pemerintah dapat mengerahkan kekuatan tersebut? tapi, ya sudahlah, itu urusan pemeritah. Dan Ingat! Ini hanya sekadar informasi, belum tentu fakta ataupun data. Jadi, kita belum tahu kebenarannya seperti apa.

Informasi ketiga ini sudah kerap kali kita dengar di banyak berita. Setelah dipindahkan ke rusun, ada oknum nakal yang bermain di dalamnya. Mereka mendapatkan jatah 1 rusun, tapi entah mengapa, mereka bisa mendapatkan lebih dari 1 rusun. Setelah mendapatkan lebih dari 1 rusun tersebut, rusun yang lain akan mereka jual untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Saya sangat optimis bahwa kasus ini (BILA BENAR TERJADI), akan terpecahkan suatu saat nanti. Mengingat pemerintahan zaman sekarang mulai menunjukkan taring sebagai Indonesia Macan Asia.

Koleksi Pribadi
Koleksi Pribadi

***

Terlepas dari ketiga informasi yang saya peroleh dari Pak Budi tersebut dan belum pasti kebenarannya, relokasi warga dari bantaran sungai ke rusun adalah program yang sangat tepat, bagus, dan bermanfaat sekali dari pemerintah. Saya sangat setuju dengan program Pak Jokowi dan sekarang dilanjutkan Pak Ahok untuk memindahkan para warga ke rusun. Mengapa?

Setelah blusukan secara langsung ke lapangan, saya menemukan beberapa fakta. Memang, sudah banyak warga yang direlokasi ke rusun, namun belum semuanya. Lihatlah dalam gambar di bawah ini.

 

Koleksi Pribadi
Koleksi Pribadi

 

Saya bukanlah ahli arsitektur ataupun ahli gizi bahkan ahli tata kota. Saya hanyalah awam yang ingin terjun langsung ke lapangan melihat keadaan warga sambil hunting foto. Kesan yang muncul adalah saya yakin dengan pasti, penyakit sangatlah banyak didaerah tersebut khususnya rumah-rumah yang didirikan di bantaran kali. Mengapa? Sistem sanitasinya amat sangat buruk. Contohnya, tempat buang air maupun tempat cuci pakaian dijadikan satu. Bahkan, ada beberapa warga yang mengambil air di kali dan entah digunakan untuk apa.

Meski bukan seorang ahli, mari kita pikir secara logika praktis. Apa yang terjadi jika sistem sanitasi buruk? Kesehatan pasti terganggu. Apa yang akan terjadi jika kesehatan terganggu? Sumber penyakit dari yang ringan maupun berbahaya mengintai ditempat tersebut. Apa yang akan terjadi kemudian? Banyak orang yang akan sakit, bahkan bisa meninggal karena penyakit tersebut. Saya sempat menonton film ‘Jokowi Adalah Kita’ sebelum film tersebut tidak lagi beredar di bioskop. Di salah satu adegannya menunjukkan ada anak sakit demam tinggi yang tinggal di bantara kali tersebut. saya pikir, itu adalah salah satu akibat dari tidak bersihnya lingkungan tersebutn dan disebabkan sistem sanitasi yang buruk. Oleh sebab itu, dengan direlokasinya warga ke rusun, setidaknya, mereka bisa hidup lebih bersih lagi dan tidak terhubung dengan sungai yang sangat kotor tersebut. Karena serajin apapun pemerintah mengurasi suatu sungai, atau bahkan sungai bening di pegunungan pun, tetap saja sungai adalah kotor. Dengan menerapkan hidup lebih bersih ketika tinggal di rusun, niscaya penyakit akan berkurang dan warga akan menjadi lebih sehat.

Koleksi Pribadi
Koleksi Pribadi

Selain itu, jika banjir tiba, sudah pasti mereka terkena dampak yang sangat besar. Tidak heran jika warga disekitar situ terus saja mengeluhkan permasalahan banjir. Dimana-mana, jika rumah yang berada di sekitar bantaran sungai, pasti akan terkena banjir jika sungai tersebut meluap. Di Manado, saya tinggal berdekatan dengan sungai (bukan di bantaran sungai loh ya), dan ada beberapa rumah yang didirikan di bantaran sungai tersebut. Alhasil, setiap banjir, rumah-rumah tersebut pun sudah pasti menjadi korban pertama terendam air. Program memindahkan para warga ke rusun pun lebih memberi keamanan dan kenyamanan tersendiri bagi para warga. Mereka tidak perlu khawatir lagi terkena banjir, atau panik mengamankan barang-barang mereka ketika musim penghujan sudah mulai datang.

Karena dua alasan itulah, saya sangat setuju program rusun ini sangatlah baik dan berguna bagi masyarakat. Mungkin, saya pun dalam artikel ini hanya menjadi seperti orang lain yang hanya bisa komentar bla bla bla. Namun, apa yang saya tuliskan ini adalah hasil blusukan langsung di lapangan, melakukan wawancara dengan warga disitu, dan menyimpannya dalam beberapa gambar. Setidaknya, dari blusukan kali ini saya lebih mendapatkan insight, “ohhh, ini toh latar belakangnya pemerintah sekarang bersih keras, bahkan mendesak agar warga direlokasi…” atau “oooh,, ternyata, tujuan penggusuran sangatlah baik demi kepentingan warga yang digusur itu pula. Mereka digusur untuk mendapatkan tempat yang lebih layak (jujur ya, rusun tersebut lebih bagus dari kamar kos saya di Surabaya…hahaha…). atau, “oooh, ternyata, program ini tidak serta merta berjalan mulus. Ada juga masalah-masalah yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah, misalnya terkait ada oknum yang diduga ‘main’ terkait program tersebut…”

Ahhh, terlepas dari itu, saya sangat puas dengan hunting foto minggu ini. Saya tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang sejarah di Museum Bahari, namun juga berkesempatan melihat langsung lokasi real rusun dan bekas-bekas penggusuran.

Ahhh, Senangnya blusukan di bantaran Kali Pluit…

 

Warmest regards,

Andhika Alexander

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s