Jokowi Adalah Kita

 

Google Image
Google Image

Kerjaan kantor dan laporan magang sudah selesai dan tinggal evaluasi dari para supervisor. Nah, ketepatan tanggal 20 kemarin, ada dua hal yang bikin galau…”Mocking Jay” atau “Jokowi Adalah kita”. Ahhh, nanti saja memutuskannya. Yang penting, segera pulang kantor dan menuju bioskop.

Sepulang dari kantor, saya langsung menuju ke bioskop daerah Sunter. Disana ada si Katness Everdeen dan juga Pak Jokowi. Tambah bingung-lah saya. Tapi, karena mikirnya, “Palingan nanti pas pulang Semarang, Rio Yohanes dan atau Christian Maryo sudah downlod Mocking Jay, jadi, pilih Pak Jokowi aja deh…”

Entah hokky atau tidak, saya tiba di bioskop jam 18.30, sedangkan filmnya mulai pukul 19.15. Asumsinya, kan Pak Jokowi sedang naik daun, palingan filmnya juga sedang “ikut naik daun” dan bakal ramai sekali. Alamat tidak dapat tempat duduk nih…Ehhh, gak disangka, ternyata, penonton yang sudah membeli tiket film “Jokowi Adalah Kita” “hanya kurang dari 20 orang.

Saya pun bebas memilih kursi untuk menikmati film yang dibintangi oleh Ben Joshua dann Sylvia Fully tersebut. Pilihan pun jatuh di kursi nomor D-10. Nah, jam menunjukkan masih pukul 18.45, yuuukkk, makan dulu…

 

skip—skip—skip…

 

Film “Jokowi Adalah Kita” secara garis besar memiliki alur mundur dan dikaitkan pula dengan film “Jokowi” sebelumnya. Film “Jokowi” menceritakan kisah hidup Pak Jokowi sejak ia baru lahir di Solo, dan ditutup dengan pengangkatan beliau menjadi Gubernur DKI. Sedangkan, pada film “Jokowi Adalah Kita” menceritakan Pak Jokowi (Dan sedikit tentang Pak Ahok) menceritakan kiprah mereka dalam mengatasi Jakarta dan ditutup dengan Pak Jokowi mengucapkan pidato kemenangan beliau pada pilpres 2014. Jadi, sebelum menonton film “Jokowi Adalah Kita” lebih baik menonton film sebelumnya.

“Jokowi Adalah Kita” mengisahkan tentang program yang direalisasikan Pak Jokowi-Ahok; Hubungan dengan keluarga dan Romantisme Pak Jokowi dengan Ibu Iriana; serta Pencapresan Pak Jokowi.

 

Realisasi Program Kerja

Google Image
Google Image

Pada bagian realisasi program kerja, film ini lebih menekankan bagaimana Pak Jokowi blusukan ke Waduk Pluit; kampung deret; dan terakhir ke Tanah Abang. Pada beberapa adegan tersebut, kita bisa mempelajari berbagai hal khususnya tentang “bagaimana melakukan lobbying”. Simple, pada waktu menghadapi penolakan warga di Pluit, beliau mengajak para wakil masyarakat Pluit untuk makan siang bersama. Dari makan siang itu, Pak Jokowi mencoba untuk mengakomodir apa yang diinginkan rakyat, namun, ia juga tetap tegas pada keputusannya untuk kepentingan bersama. Akhirnya, jadilah Waduk Pluit seperti sekarang ini.

Sifat humanis Pak Jokowi sangat terlihat pada waktu ia menjenguk seorang anak yang sedang sakit keras di Kampung Deret (kalo tidak salah nama daerahnya ya). Bahkan, pada adegan tersebut, ia menunjukkan birokrasi yang ribet hanya memperkeruh masalah. Pak RT di daerah situ mengatakan, “Pak, apakah saya harus membuatkan kartu rujukan lagi?”, Pak Jokowi menjawab dengan tegas, “Anak sudah demam seperti ini masih pertimbangkan birokrasi yang ribet! Cepat bantu kemas barang-barang mereka dan bawa ke rumah sakit!” (kira-kira begitu dialog antara Pak Jokowi dan Pak RT saat mereka mengunjungi si anak tersebut)

Sedangkan di Tanah Abang, Pak Jokowi lebih banyak memberi pengertian kepada warga yang akan direlokasi melalui “sharing pengalaman masa kecil”. Pak Jokowi mencoba mengkorelasikan antara pengalamannya waktu di Solo, saat ia digusur, saat-saat sulit disana, dengan pengalaman yang para pedagang rasakan. “Saya dari wong cilik. Gak mungkin saya tidak berpihak pada wong cilik…” demikian salah satu dialog dalam film tersebut.

Terakhir, Pak Jokowi menunjukkan ketegasannya terkait masalah MRT, dimana ditunjukkan adanya seorang pengusaha yang mencoba menyogok. Pak Jokowi dengan tegas menolaknya.

Dari adegan-adegan tersebut, saya merasa sangat termotivasi terkait, apapun program yang akan kita kerjakan, harus direalisasikan dan jujur. Jangan hanya berhenti pada konsep saja!

Romantisme Mas Joko

            Pada film “Jokowi”, kita bisa melihat kencan Pak Jokowi dengan Ibu Iriana di sebuah angkringan. Saat mereka sedang duduk, ada seorang pengamen yang menghampiri mereka sambil menyanyikan ,”Hitam manis, ya hitam manis…”. Pada film “Jokowi Adalah Kita” pun lagu tersebut didendangkan bahkan oleh Pak Jokowi sendiri.

Adegan tersebut diawali dengan Pak Jokowi menelpon Ibu Iriana saat baru pulang dari Balai Kota. Pak Jokowi meminta Bu Iriana untuk pergi keluar rumah untuk melihat bulan yang sangat indah. Sesampainya diluar, Bu Iriana tidak menemukan bulan tersebut. sampai Pak Jokowi tiba di kediaman mereka. Mereka pun bersama-sama mencari bulan tersebut. Tiba-tiba, Pak Jokowi mengambil tangga, dan mengajak Bu Iriana naik tangga tersebut. “Owalah, bulannya ketutup pohon toh Pak”, komen Bu Iriana saat melihat bulan yang tertutup pepohonan tersebut. Mereka berdua pun saling bertatap tatapan.

Google Image
Google Image

Adegan dilanjutkan dengan Ibu Iriana duduk di lantai teras rumah, sedangkan Pak Jokowi mengambil bunga (bunga kembang sepatu kali ya itu? Saya juga tidak tahu bunga apa namanya, tapi seirng lihat). Sembari memegang bunga tersebut, Pak Jokowi menyanyikan lagu Hitam Manis tersebut dan terlihat Bu Iriana tersipu malu.

“Selama hari pernikahan ya Bu.” AHHH SO SWEET!

Moment so sweet lainnya adalah ketika Bu Iriani memijit dan mengkeroki Pak Jokwoi ataupun saat Bu Iriana mengkompress Pak Jokowi yang sedang demam…

Hmmm, ketika menonton film-film seperti ini, termasuk film Pak BJ Habibie dan Ibu Ainun, saya memiliki satu hipotesis, seorang pria hebat memang dibelakangnya terdapat wanita yang lebih hebat…

Anyway, Ibu Iriana diperankan oleh Sylvia Fully. Suwir, gan, cakep banget si Kak Sylvia…Tapi, saya tetap mengidolakan Kak Acha S, kok,,,hihihi…

Anak Yang Berbakti dan Kepala Keluarga Yang Baik

Sisi lain yang ditampilkan dari sosok Pak Jokowi dalam film “Jokowi Adalah Kita” yaitu hubungan antara Ibu Pak Jokowi dan Pak Jokowi sendiri. Setiap kali akan mengambil keputusan penting, seperti menjadi Gubernur DKI dan maju pilpres, Pak Jokowi selalu memohon restu dari ibundanya. Begitu pula, ia selalu teringat akan nasehat baik dari pamannya, maupun dari ayahnya yang ditunjukkan dalam film “Jokowi”.

Google Image
Google Image

Jokowi hadir pula sebagai sosok kepala keluarga yang baik dan nampaknya mampu menjadikan keluarganya harmonis. Kedekatan keluarga Pak Jokowi ditunjukkan melalui adegan Pak Jokowi sedang sarapan dengan semua anggota keluarganya. Mereka bercanda tentang wajah Pak Jokowi yang dibuatkan menjadi kartun TinTin. Hangat, dan penuh canda…itulah kesan dari keluarga Pak Jokowi di film “Jokowi Adalah Kita”

Film ini ditutup dengan pencapresan Pak Jokowi khususnya bagian pidato perdana pasca kemenangan Pak Jokowi-Pak JK di ajang pilpres 2014. Film “Jokowi Adalah Kita” menunjukkan berbagai sisi dari Pak Jokowi sebagai pemimpin bangsa, pemimpin keluarga, dan pemimpin dalam rumah tangga. Film ini sangat cocok ditonton oleh siapa saja, khususnya para kaum muda yang ingin belajar mendalami bagaimana menjadi seorang pemimpin yang sederhana. Kerenlah!

 

Selain menampilkan Pak Jokowi, ada sosok Pak Ahok juga yang ditampilkan. Seperti biasa, sosok Pak Ahok ditunjukkan sebagai orang yang temperamen nan tegas dalam menghadapi sesuatu. Tapi, sangat disayangkan, porsi Pak Ahok di dalam film ini sangat sedikit dibandingkan Pak Jokowi. Ya jelas saja, nama filmnya saja tentang Pak Jokowi. Oleh sebab itu, saya percaya, suatu saat, entah beberapa bulan atau tahun dari sekarang akan muncul film khusus yang akan menceritakan tentang Pak Ahok. Ketika film itu muncul, saya pastikan akan menonton film tersebut di hari pertama penayangannya.

 

“Jokowi Adalah Kita”, film karya anak bangsa yang inspiratif, keren, dan banyak mengandung pembelajaran. Yuk Nonton….

 

Warmest Regards,

Andhika Alexander Repi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s