Monumen Soekarno-Hatta Proklamator Kemerdekaan Indonesia

Narsis Proklamasi (15 Nov 2014) (4)

Kemarin baca artikel online, beritanya tentang mahasiswa bakal demo besar-besaran menolak kenaikan BBM. Ahhh, demo bikin macet, macet bikin pusing, pusing bikin emosi, mendingan gak usah demo. Daripada demo, mending keliling ibu kota dan datangi tuh spot-spot bersejarah dan sambil promosiin kayanya dan hebatnya perjuangan pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Wejiannn, bahasaku…hahaha…

Masa magang di Jakarta sebentar lagi sudah mau berakhir! Yes! Sebelum balik ke Semarang untuk menunaikan Tesis, lanjut kerja di Surabaya, saya pun menyempatkan diri menghabiskan weekend di berbagai spot historis Indonesia. Ya, namanya juga hobby travelling sejarah…hahaha…

Sabtu, 15 November 2014 saya mengunjungi kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Saya menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Ancol ke daerah Jakarta Pusat itu. Sempat beberapa kali tersesat, akhirnya saya sampai juga di salah satu tempat paling bersejarah di Indonesia.

Proklamasi (15 November 2014) (14)~1   Saya segera memarkirkan motor di tempat parkir serta mengeluarkan tripod plus kamera. Here We Go…Awalnya, saya disambut oleh seorang satpam yang menjaga di pos masuk. Tanpa segan saya bertanya apakah betul disini tempatnya pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia? Pak satpam menjelaskan memang benar disini tempatnya, namun, alamatnya sudah berubah. Ternyata, Jl. Pegangsaan Timur No. 56 itu sudah tidak ada dan diganti menjadi Jl. Proklamasi No. 1. Pantesan aplikasi Waze gak nemuin tuh lokasi…zzzzz…

Sesudah mengisi buku tamu, saya dipersilahkan untuk menjelajah kawasan yang sekarang ini dinamakan Monumen Soekarno-Hatta Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Matahari yang amat sangat terik tidak membuat semangat saya pudar untuk bersilahturahmi ke monumen yang memiliki saksi bisu salah satu puncak perjuangan Bangsa Indonesia. Saya pun mulai mengelilingi kawasan monumen tersebut yang dihiasai oleh taman-taman disekitarnya.

Monumen Soekarno-Hatta Proklamator Kemerdekaan Indonesia diresmikan oleh Pak Soeharto, presiden kedua Republik Indonesia pada 16 Agustus 1980. Tujuan utama saya berkunjung kesana adalah ingin melihat rumah Soekarno. Sayang, ternyata, rumah asli Soekarno yang menjadi tempat pembacaan teks proklamasi sudah tidak ada lagi. Menurut Pak Satpam yang menjaga di tempat tersebut, rumah itu sudah dirobohkan saat rezim pemerintahan setelah Soekarno. Masalah politik-lah yang jelas. Ketika mengunjungi tempat tersebut, kita hanya bisa menemukan patung Bapak Proklamator kita setinggi 3-3,5 meter; dan Tugu Petir serta Tugu Peringatan Satu Tahun Republik Indonesia Atas Usaha Kaum Wanita Jakarta. Apa itu?

Tugu Petir

Proklamasi (15 November 2014) (10)~1Proklamasi (15 November 2014) (9)~1

Tugu Petir sendiri adalah spot tempat Pak Seokarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan. Nah, menurut foto-foto di buku sejarah yang sering kita kenal, tiang bendera tempat Sang Saka Merah Putih pertama kali dikibarkan terletak di sebelah kiri Pak Soekarno yang sedang membacakan teks proklamasi. Akan tetapi, menurut info yang saya peroleh dari Pak satpam tersebut, tiang bendera yang kini berada di monumen tersebut adalah titik tiang bendera yang sama ketika Merah Putih pertama kali dibentangkan. Entah mana yang benar, dan hanya sejarah yang mengetahuinya.

Tugu Peringatan Satu Tahun Republik Indonesia Atas Usaha Kaum Wanita Jakarta

Proklamasi (15 November 2014) (12)~1

Tugu ini berada di seberang monumen utama, namun masih dalam satu kawasan. Saya tidak memperoleh informasi yang jelas terkait tugu tersebut. Namun, secara fisik, tugu tersebut berukuran 2,5 – 3 meter.

Proklamasi (15 November 2014) (13)~1Di kawasan monumen ini tidak ada museum atau koleksi benda-benda bersejarah. Begitu pula dengan teks asli proklamasi. Jika Anda ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang proklamasi kemerdekaan RI, maka disarankan untuk mengunjungi spot lain di Jl. Imam Bonjol No. 1, alias Rumah Laksamana Maeda. Begitu saran dari Pak Satpam yang berjaga disitu.

Pelajaran Penting

Saat mengunjungi monumen ini, ada suatu pelajaran yang saya dapatkan mengenai RESPECT. Saya sempat kepo dan banyak bertanya tentang monumen ini kepada Pak Satpam yang sudah sepuh disitu. Maklum, tidak ada brosur atau informasi yang bisa dibaca saat kita ke kawasan tersebut. Mungkin ini bisa menjadi masukan bagi pihak pengelola agar menyediakan information center. Anyway, balik lagi tentang RESPECT…

Saat bertanya-tanya tentang monumen tersebut, tiba-tiba satpam itu menyela omongan saya dengan menggunakan bahasa Jawa (untung ngerti bahasa Jawa),

Heee, mas. Jok manggil Soekarno ngono. Dee wes jauh lebih tua dari kamu! Sudah lebih dari 100 tahun bedanya sama kamu! Panggil Pak Soekarno. Jok panggil jenenge langsung. Ngerti koe?”

Artinya, jangan memanggil nama Soekarno saja, tapi harus menggunakan “Pak Soekarno” untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Apalagi Pak Soekarno sudah bedah 100 tahun lebih dengan umur kita.

Setelah saya refleksikan, betul juga apa yang disampaikan Pak Satpam tersebut. panggilan “Pak” atau “Bu” adalah bentuk hormat kepada seseorang apalagi jika orang tersebut lebih tua daripada kita. Kita sudah terbiasa dengan langsung memanggil nama orang tersebut, misalnya “Jokowi”; “Ahok”; “SBY”; “Susi” dan sebagainya. Tapi, kita tidak sadar bahwa mereka adalah orang yang lebih tua dan butuh respect dari kita apalagi sebagai kaum muda. Salah satunya dengan menggunakan kata “Pak”. Indonesia adalah bangsa yang sopan berbudaya, bukan? Meski susah, yuk mulai mengubah cara pemanggilan kita kepada orang yang lebih tua…

Itulah salah satu manfaat yang bisa didapatkan ketika kita mengunjungi banyak tempat. Kita bisa belajar hal baru, menyadari kelemahan-kelemahan kita, dan akhirnya mensyukuri karena dunia ini begitu indah, dipenuhi misteri, dan perlu di eksplor lebih dalam lagi…

Setelah mengunjungi semua spot di kawasan monumen tersebut serta ber-narsis ria selama kurang lebih satu setengah jam, saya pun melanjutkan perjalanan menuju tempat yang lain…Rumah Laksamana Maeda di Jl. Imam Bonjol No. 1…(Berikut Linknya: https://andhikaalexander.wordpress.com/2014/11/17/malam-kemerdekaan-di-rumah-laksamana-maeda/ )

Warmest Regards,

Andhika Alexander Repi

M

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s