Cerita Singkat Tentang Yogyakarta

Koleksi Pribadi
Koleksi Pribadi

Sampai saat ini, saya sudah mengunjungi kota Gudeg, Yogyakarta sebanyak 5 kali. Di kesempatan kali ini saya sedang ditugaskan untuk melakukan observasi dan membuat sistem rekrutmen untuk suatu perusahaan ritel. Tapi, di kesempatan ini, saya belajar sesuatu dari kota yang dipimpin Sultan secara turun temurun.

Saya sedang nongkrong di salah satu warung penjual susu segar dan sedang menikmati segelas STMJ (STMJ tau kan? Susu-Telor-Madu-Jahe). Disitu, ada seorang Mbah (Mbah sebutan bagi orang yang sudah tua) yang tiba-tiba mengajak saya berbincang.

Darimana Dik? Tanya Mbahnya.

Dari Jakarta Mbah.” Jawab saya dengan senyuman.

Owalah. Disini ngapain?” Tanyanya lagi.

Kerja Mbah…” Balas saya.

Kemudian, Mbah tersebut menceritakan bagaimana keramahtamahan kota Yogyakarta. Ia menceritakan bahwa meskipun di daerah lain mengalami kekacauan, Yogyakarta tetaplah aman. Bahkan, ia berani menjamin, meskipun kita (sebagai pendatang) berjalan-jalan menikmati malam kota Keraton, tetap saja aman.

Di sini aman, Dik. Kamu jalan-jalan sampai jam 2 pagi pun tetap aman. Kalo di Jakarta kan, jam 10-an aja sudah bahaya. Siang aja bahaya kan?” Terang si Mbah sambil menyeruput kopi susu pesannya tersebut.

Memang benar kata Mbah tersebut. Beberapa kali berkesempatan mengunjunginya, baik liburan, mengadakan pelatihan maupun ada urusan kerja, Yogyakarta menawarkan keamanan yang cukup baik bagi kita para wisatawan. Kita tetap merasa aman ketika kita mengunjungi berbagai tempat disini. Meski memang, kita akan kesusahan tentang transportasi jika hari sudah menjelang malam.

Koleksi Pribadi
Koleksi Pribadi

Selain keamanan, Yogyakarta pun menawarkan keramahan dari para penduduknya. Setiap kali saya kesini, dan nongkrong baik di angkringan maupun warung makan, selalu diajak ngobrol sama si pemilik kios atau warga sekitar. Begitu pula ketika kita akan berbelanja di berbagai tempat belanja (kecuali di mall ya. Tipikalnya sama dengan mall lainnya), para penjajah dagangan pun akan sangat ramah kepada kita.

Usut punya usut, Mbah tersebut menceritakan pula bagaimana terjadi keselarasan antara Sultan dan Masyarakat. Masyarakat sangat mendengar ‘titah’ dari Sultan. Begitu juga Sultan, sangat mengapresiasi aspirasi dari masyarakat. Keselarasan inilah yang kemudian membuat Yogyakarta makin menjadi kota yang aman, ramah, nyaman dan tentram. Dan mungkin, inilah yang disebut esensi sesungguhnya dari demokrasi. Semoga keadaan ini dipertahankan, bahkan menjadi percontohan bagi kota-kota lainnya (by the way, Manado juga tipikalnya seperti di Yogyakarta, loh. Hihihi)

Koleksi Pribadi
Koleksi Pribadi

Satu hal yang membuat Yogyakarta selalu terkenang di hati adalah berbagai kebutuhan dengan harga yang sangat bersahabat bagi anak kos. Bayangkan saja, di daerah Malioboro, bagi yang ingin berbelanja bakpia patok, lalu ke tempat batik, kemudian ke berbagai wisata, kita bisa menggunakan jasa becak dengan harga maksimal 30 ribu sudah mengelilingi semuanya. Bahkan, pernah suatu kesempatan, saya hanya membayar 20 ribu rupiah dan sudah mengelilingi semua tempat wisata di Yogyakarta.

 

Kemana saja jika ke Yogyakarta?

Sejauh ini, saya sudah mengunjungi berbagai tempat, yaitu Malioboro (pasti!), ke Keraton, Benteng Vredeburg, dan Candi Prambanan. Selain itu, berbagai kios makanan dan angkringan pun menjadi sasaran wajib ketika saya berkunjung kesana. Nah, selain itu masih begitu banyak juga tempat wisata baik wisata budaya, kuliner, alam, dan sebagainya yang bisa kita kunjungi. Someday, saya harus mengunjungi semua tempat tersebut, termasuk Pantai Parangtritis di Bantul…huhuhuh….

 

Yogyakarta adalah salah satu kota yang wajib dikunjungi. Ia menawarkan sejumlah pembelajaran berarti bagi kita. Tulisan ini bukan promosi atau saya menjadi bagian dari tim promotor dinas budaya dan pariwisata pemkot Yogyakarta. Apa yang saya tulis ini adalah pengalaman subjektif saya selama berkunjung di kota yang indah ini. Silahkan teman-teman buktikan sendiri.

Ke Yogyakarta gampang kok. Bisa menggunakan pesawat ke Lanud Adi Sucipto; menggunakan bus ke Stasiun Jombor atau naik kereta api ke stasiun Lempuyangan / Tugu. Selamat mencoba, dan ditunggu sharing pengalamannya…

 

Warmest regards,

Andhika Alexander Repi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s