Wajah Pendidikan Indonesia Rusak, Salah Siapa?

Hari Pendidikan Nasional 2014
Hari Pendidikan Nasional 2014

Status FB, TL Twitter atau PM BBM mainstream dengan “ucapan selamat dan turut berbahagia” tentang Hari Pendidikan Nasional. Sebenarnya, Hari Pendidikan Nasional sudah dirayakan sejak tahun 1959-an. Tujuannya, agar supaya semua masyarakat Indonesia makin menyadari pentingnya pendidikan.

Pertanyaan pertama, Apakah pendidikan itu sendiri penting? Simpelnya gini, kalo petani ke sawah tidak membawa pacul, apa yang akan terjadi? Tentu ia gak bisa ngapa-ngapain kan? Begitu juga tanpa pendidikan, orang gak bisa ngapa-ngapain. Pasti banyak yang bilang, “lah, banyak loh para bos-bos yang sukses tanpa mengenyam pendidikan.” siapa bilang? Paling tidak mereka mendapatkan pendidikan dari orang tuanya tentang membaca hingga tulis hitung. Dasarnya ada. Jadi, pendidikan itu sangatlah penting.

Kedua, gimana dengan pendidikan di Indonesia? Banyak media massa yang memakai tagline yang sarkastik tentang dunia pendidikan Indonesia, seperti “Buruknya Wajah Pendidikan Indonesia”, “Gagalnya Pendidikan Indonesia” dan sebagainya. Pendidikan di Indonesia sebenarnya baik (konsepnya demikian). Buktinya, begitu banyak prestasi yang ditorehkan oleh siswa-siswi Indonesia di berbagai kancah hingga dunia internasional. Hanya saja yang miris adalah pendidikan di Indonesia tidak merata. Jika di Pulau Jawa kualitasnya selangit, maka di wilayah 3T (Terpencil, Terluar dan Terdepan) sangatlah jauh dari kata ‘standar’. Selain tidak merata, pameo “Ganti Menteri, Ganti Kurikulum” adalah salah satu faktor yang tidak bisa melepaskan wajah pendidikan Indonesia dari keburukan. Aku tidak akan panjang lebar cerita tentang pameo tersebut. kamu bisa membacanya di berbagai media online.

Kita seringkali menyalahkan pemerintah, apalagi ketika musim pemilu sekarang, banyak yang menggadang-gadang sekolah gratis, pendidikan murah, dan sebagainya. Memang sih, kebanyakan, pemerintah hanya janji-janji palsu, bullshit dan sebagainya. Itu sudah rahasia umum, bukan? Tapi, apakah kita harus selalu menyalahkan mereka, si kaum teras itu? Aku pikir tidak! Orang tua para murid pun harus disalahkan juga. Pendidikan yang paling dasar sebenarnya dari para orang tua dan pendamping anak itu. Ketika mereka menguatkan si anak bahwa pendidikan itu adalah penting, maka si anak pun memiliki motivasi untuk makin mengembangkan pendidikannya. Sayang banget kalo kita mau jujur, masih banyak orang tua yang berprinsip, “mendingan kamu ke ladang bantu bapak ngurus sawah daripada sekolah tapi berbiaya” atau bagi para kaum wanita “mendingan kamu nikah, cari suami yang kaya dan kamu bisa bahagia.”

Siapa bilang biaya pendidikan murah? Biaya pendidikan jangan hanya dilihat sebagai uang sekolah aja. Biaya pendidikan itu termasuk seragam, buku, alat instrumen belajar, bahkan uang transport ke sekolah bisa jadi cost untuk biaya pendidikan. Tidak sedikit memang. Apalagi ditambah dengan korupsi pemerintah yang makin menjadi-jadi, bahkan tidak segan mengambil dana pendidikan (coba cek di google tentang berbagai kasus korupsi Bantuan Operasional Sekolah / BOS). Ya! Biaya pendidikan makin mahal. Tapi, ketika anak-anak tersebut memiliki dasar yang kuat untuk menerima pendidikan, pasti kok biaya itu akan tercover. Si anak yang punya motivasi kuat, istilah orang Jawa, “Mboh piye carae, aku harus tetep sekolah.”. sayangnya sekali lagi, susah untuk menjadi seperti itu bukan?

Tahun ini pun kita merayakan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh di hari ini. Bagi M. Nuh sendiri, HarDikNas ini pun menjadi perayaan terakhir baginya sebagai orang nomor wahid di pendidikan Indonesia. Terlepas dari segala kesalahannya, ia pun memiliki cita-cita agar pendidikan Indonesia menjadi makin maju. Gak salah sih. Kita pun harus punya cita-cita seperti itu. Sayangnya, sampai saat ini, kita hanya terpusar oleh siapa sih yang salah dengan sistem pendidikan Indonesia? Pemerintahkah? Orang tuakah? Atau siapa???

Daripada saling menyalahkan, mending kita action. Aku sendiri punya cita-cita sendiri di perayaan hari ini. Semua orang pantas mendapatkan pendidikan. Pantas dan berhak. Apapun latar belakang, suku, agama, dan ras HARUS dan WAJIB mengenyam pendidikan. Bak petani ke sawah dengan pacul, begitulah seharusnya semua orang yang ada di Indonesia. Mungkin cita-cita ini terlalu muluk-muluk, tapi paling tidak, jika kita semua, orang yang menerima pendidikan mau berbagi dan melayani kepada mereka yang belum mendapat pendidikan, tentu usaha itu jauh lebih baik daripada omongan sampah dari para caleg yang sok care kepada pendidikan. Apa konkritnya? Ikutlah berbagai kegiatan di komunitas kita atau buatlah komunitas dan membantu pendidikan. Aku pribadi sedang menempuh pendidikan master di sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Atlas. Tidak hanya kuliah, tapi saya aku juga ikut organisasi PKM yang bertujuan untuk melayani sesama, termasuk perkembangan pendidikan. Dalam PKM, kami memberikan begitu banyak pelatihan dan pendidikan (seperti sex education, management diri, motivasi, dan sebagainya). Hanya suatu perilaku sederhana jika dibandingkan yang lain. Tapi paling tidak ada manfaatnya. Kita butuh langkah konkrit, bukan janji, bukan sampah kata. Mari bergerak, Indonesia bisa demi pendidikan dan kemajuan bangsa!

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2014

#Point of View#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s