Jumat Agung, Puncak Pantang dan Puasa Katolik

Jumat Agung…

Hmm, aku gak pengen sharing tentang apa sih tujuan Jumat Agung dan bla bla bla…Sudah banyak informasi di Internet yang bahas tentang salah satu hari besar orang Kristiani ini…Kali ini aku pengen sharing tentang pengalaman spiritual indvidualku sendiri, yaitu Pantang dan Puasa.

Secara teori, Gereja mewajibkan semua orang Katolik untuk pantang, dan khusus bagi 16 hingga 60 tahun untuk puasa. Pantang berarti menahan apa yang kita suka, misal bagi mereka yang suka makan gorengan, ya pantang makan gorengan. Hanya saja, sekarang ini (mungkin dari dulu), pantang lebih dibrandingkan ke gak boleh makan daging selama 40 hari. Sedangkan puasa maksudnya, makan kenyang satu kali, dengan waktu yang ditentukan sendiri namun bisa minum air juga (beda sistemnya dengan saudara kita di Islam). Sebenarnya dari Gereja sendiri memang mewajibkan tata cara seperti itu. Tapi, kembali lagi, urusan puasa dan pantang tentu saja menjadi urusan intim kita dengan Tuhan.

Aku sendiri dari dulu diajarkan oleh orang tua untuk pantang, dan semenjak usia 13an uda mulai dilatih buat puasa. Pantangnya itu biasanya pantang daging. Apapun dari daging ayam hingga perbabian. Hehehe…Puasanya sih hampir sama kayak di sistem dari Gereja, bukanya ya jam 6 sore gitu.

“Budaya” itu aku lakuin hingga kuliah. Meski uda tinggal di rantauan dan tanpa kontrol dari orang tua, tampaknya gak bisa ngehapus budaya pantang dan puasa. Hingga pada akhirnya aku mencoba berefleksi, “apa esensi utama dari pantang dan puasa itu?”

Dulu, aku percaya bahwa dengan pantang dan puasa maka kita, paling tidak, merasakan apa yang dialami Yesus dan menjadi ajang untuk menahan hawa nafsu duniawi. Tapi, apakah “HANYA” dengan puasa seharian atau pantang daging, maka kita benar-benar sudah merasakan dan mengalami esensinya?

Aku pikir tidak. Nah, pemikiran itulah yang kemudian dari tahun ke tahun mulai menyurutkan niatku untuk pantang dan puasa. Aku berpikir, okelah pantang daging sudah mendarah daging sejak aku kecil. Mama selalu mengajarkan demikian. Tapi, beberapa tahun belakang ini aku sudah tidak lagi pantang daging tersebut. Pada awalnya, terasa aneh memang. Masa prapaskah biasanya pantang tapi kali ini tidak. Hingga muncul pemikiran, “aku gak pantang dan puasa apakah dosa ya?”

Sekali lagi tidak, aku pikir. Ada guyonan jayus tapi makin memantapkan sikapku perihal pantang tersebut,

“Lah, kan katanya tiap prapaskah wajib pantang daging? Lalu gimana dengan mereka yang memang gak suka daging? Sebut saja para vegan?”

Hahaha, awalnya aku denger guyonan itu ada benernya juga sih. Dari situ aku mungkin bisa lebih hayati makna pantang dan puasa lebih intim. Aku yakin memang kita tidak wajib untuk pantang daging. Yang wajib adalah pantang terhadap apa yang kita suka. Apa saja, dan tidak harus makanan.

Bila kita sangat doyan rokok, maka pantanglah rokok. Bila kita sangat suka nyewa rental PS, maka pantanglah ke warnet. As simple as that.
Lalu kemudian muncul guyonan baru, “lah, kalo begitu, kan aku suka belajar, jadi aku harus pantang belajar donk?”

Ya bukan gitu, keles…kita pantang yang benar-benar bagian dari nafsu dunia kita. Apa itu, ya, aku yakin teman-teman mengenal diri kalian masing-masing.

Dengan pantang yang sempurna, dan puasa yang mantap harapannya segala nafsu, dosa dan kesalahan kita dapat tersalibkan bersama Yesus yang disalibkan hari ini. Dengan demikian, pada besok malam, kita pun percaya bahwa akan dilahirkan kembali bersama Dia yang bangkit dari alam maut…

Good Friday, 2014…

Anyway, hari ini aku pertama kalinya Misa Jumat Agung di Jakarta. Ihiiiy, thanks God…

#Point of View#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s