Yowes, Delapan Ribu Ae…

20140417-141459.jpg

Bahasa…hmm, kalo misalnya kamu orang Sulawesi, misalnya, lalu dengerin orang Jawa ngomong, lucu gak? Begitu pula sebaliknya…hahaha…

Tapi, meski kedengarannya kocak, Kita harus bangga karena negara kita kaya akan bahasa. Dari berbagai sumber, Indonesia itu punya beribu macam bahasa daerah yang kalo gak familiar, bisa lucu kedengarannya…

Tapi, ternyata, penguasaan terhadap berbagai macam daerah bisa membawa keuntungan tersendiri loh. Hehehe…

Begini ceritanya. Sumpeknya kota Semarang dan segala kejenuhan dalam pekerjaanku membuatku ingin refreshing sejenak. wejiaaan bahasaku…Jakarta pun menjadi destinasi yang aku pilih khususnya untuk habiskan liburan Paskah tahun ini. Selain itu, aku juga ingin ikut Perayaan Ekaristi Tri Hari Suci di Katedral Jakarta…

Nah, aku ngeliat ada mie ayam (maklum, penggemar segala jenis mie) sedang parkir gerobaknya di pinggir jalan. Aku sih mikir, “ngaps jauh-jauh datang ke ibu kota hanya untuk makan mie ayam.” Tapi pas aku liat lebih dekat, kok mie ayamnya porsinya banyak.

Aku pun memesan seporsi mie ayam dan duduk menikmati panas dan ramenya kota Jakarta (keramaian Kota Jakarta itulah yg aku gak nemuin di Semarang). Enak, bro!!! Banyak banget lagi mie ayamnya…hmm…rasanya juga gak begitu buruk sih. Hehehe…

Setelah habis, aku, sebagai warga negara yang baik (apaan sih), tanya harganya berapa.

“berapa bang?” Tanyaku pake logat jakarta.
“12 rebu” kata Abangnya pake bahasa kota metropolitan juga.
Aku kaget dengan harganya mie ayam sampe segitu. Padahal pikirku paling gak kalo mie ayam sebanyak itu ya, 10 ribulah paling mahal.
Spontan, “Wih, cek larange sih mas?” Kataku dalam bahasa jawa logat Surabaya. Artinya, kenapa harganya mahal sekali sih.
Ternyata, abang mie ayamnya kaget juga. Mungkin dia mikir, “kok cowok ganteng dan keren kayak gini, bisa ngerti bahasa jawa ya.” (Mungkin bagian kata-kata “ganteng dan keren” harus disensor ya supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Hahahaha).

Ya aku pun cerita, bahwa aku kerja di Surabaya, tapi lanjut studi di Semarang. Jadi, otomatis, aku bisa berbahasa Jawa deh. Hehehe. Ehh, malah jadi sesi curhat antara aku sama si abang.

Disini aku belajar banyak bahwa seseorang itu bisa menjadi dekat dengan kita melalui bahasa. Orang akan mengidentifikasikan bahwa “aku “sehati” dengan orang tersebut karena dia bisa menggunakan bahasaku.” Dengan demikian, salah satu cara untuk membangun relasi intim dengan orang lain, ya, pelajarilah bahasa mereka dan gunakan itu dalam percakapan dengannya.

Pelajarilah berbagai bahasa termasuk bahasa daerah. Meski bahasa asing kayak Inggris dan Mandarin harus kita kuasai juga, tapi jangan pernah lupaka bahasa ibu dan atau bahasa daerah khas kita.

Akhir cerita, “jadi piroan mas?”
“Yowes, 8 ribu ae sak porsi”
“Matur suwun mas” aku pun beranjak dari rombong mie ayam itu dengan tertawa kemenangan…ha ha ha…

#Point of View#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s