PsikoSeksual Freud

Google Image
Google Image

Freud tampaknya “gak bisa” melepaskan hal-hal terkait seksualitas dalam penjelasan teori-teorinya termasuk dalam penjelasan tentang periode perkembangan manusia. Tiap manusia akan menghadapi konflik di setiap tahap perkembangannya dan termanifestasikan melalui bagian tubuh tertentu. Lebih lanjut, ilmuan berdarah Rep. Ceko ini mengemukakan bahwa bagian tubuh tertentu perlu untuk dipuaskan sehingga si manusia tersebut dikatakan berhasil melewati periode perkembangannya tersebut. Apabila ia tidak mampu memuaskan bagian tubuh tersebut, maka akan timbul konflik pada periode perkembangan berikutnya dan seterusnya, atau disebut fiksasi. Periode perkembangan Freud dinamakan Psychosexual Stage Theory.

slide-1-728

 Periode Infantil(0-4/5 tahun). Periode infantil terdiri dari beberapa fase, yaitu fase oral, fase anal, dan fase phallic.

  1. Fase Oral (sekitar 18 bulan setelah kelahiran)

Kebanyakan anak bayi selalu mengisap jarinya, ya ga?

Itulah tanda pada fase pertama, fase oral, dimana sumber kepuasan utama dan peredaan tegangan bagi seorang individu berada di mulut, bibir, dan lidahnya. Awalnya, kepuasan diperoleh dengan cara mengisap (oral receptive), misalnya mengisap puting susu atau botol dot. Setelah giginya tumbuh, kepuasan diperoleh dengan cara menggigit (orang sadistic). Kegiatan menggigit sendiri adalah cara peredaan ketegangan si bayi apabila aktivitas mengisapnya tertunda/terhalangi.

Dalam fase ini, konflik yang muncul terkait dengan ketergantungan seseorang. Bila ia tidak mampu melewati fase ini maka seseorang tersebut akan cenderung menjadi tergantung kepada orang lain, dan menjadi penakut (mungkin bukan penakut yang ekstrim, ya. Tapi lebih ke kurang percaya diri, minder, dan gak bisa ambil keputusan dan sebagainya). Pada orang dewasa yang belum mampu melewati tahap ini akan ter-fiksasi-kan melalui berbagai kegiatan seperti menggigit kuku, mengisap ibu jari, hingga menggigit pensil atau bolpen ketika melakukan kegiatan.

Ada bentuk fiksasi lain yang dipercaya para ahli sebagai usaha peredaan ketegangan karena fase oral tidak mampu diselesaikan dnegan baik. Antara lain, orang yang menggunakan drugs atau merokok. Tidak heran ketika kita bertanya pada para perokok, “kok kamu ngerokok sih?” jawaban klasiknya supaya jadi santai, atau lebih percaya diri. Bentuk-bentuk seperti itulah adalah usaha individu untuk meredakan tensi atau kecemasannya.

  1. Fase Anal (sekitar 18 bulan hingga 3 tahun)

Kenapa pada saat kita akan mengeluarkan kotoran / pup itu rasanya kok legaaaaaa banget ya…Hehehe.

Statement di atas bukan jorok loh ya, tapi hal tersebut terkait dengan fase kedua, yaitu fase anal, yaitu organ kepuasan terletak di bagian anal / dubur. Pada awalnya, id menguasi individu. Artinya, ya, kapanpun dan dimanapun kamu pengen… mmm… buang air besar, ya byuuuurrrrrr…he he he. Semakin berkembang, maka individu akan belajar bagaimana menahan, dan kapan harus mengeluarkan feses (kotoran). Inilah yang kita kenal sebagai toilet training. Papa mama pun memiliki peran penting untuk menjadi “trainer” bagi individu dalam toilet trainingnya itu.

Pada fase anal, individu akan belajar tentang bagaimana mengontrol diri. Pembelajaran tersebut berasal dari orang tua. Apabila orang tua terlalu “membiarkan” anaknya dalam toilet training, kemungkinan besar anak tersebut akan menjadi seorang yang kurang bisa mengontrol diri dan menjadi sangat bebas. Para pengguna narkoba dan free-sex cenderung dipercaya karena pada masa anal, orang tuanya sangat membebaskannya. Meski demikian, anak juga bisa menjadi mandiri, karena pada saat toilet training, anak diajarkan untuk mengambil keputusan kapan dan dimana akan mengeluarkan pup-nya.

Sebaliknya, bagi orang tua yang terlalu strict kontrol anaknya dalam toilet training dapat menyebabkan anak tersebut terlalu kaku. Nah, orang dewasa yang kompulsif, kaku, dan keras kepala, pada masa kecilnya cenderung dilarang-larang atau sangat dikontrol orang tuanya. Hanya saja, meski kaku, anak tersebut akan bertumbuh menjadi individu yang menyukai keteraturan, dan kerapihan.

  1. Fase Phallic (sekitar 3 – 5 tahun)

Pada fase ini, organ yang menjadi titik puas adalah kelamin. Hanya saja, antara pria dan wanita berbeda karena secara anatomi kan beda juga. Anak akan mulai menyadari bahwa ia memiliki penis (dan anak perempuan sadar ia tidak punya penis). Pada tahap ini pula anak mulai merasakan hasrat seksual terhadap jenis kelamin yang berbeda.

Kedengarannya agak aneh memang. Pada tahap ini, anak akan mengalami “cinta anak”. Anak laki-laki jatuh cinta kepada ibunya, sebaliknya anak perempuan kepada ayahnya. Nah, anehnya, rasa cinta yang muncul lebih dari sekadar cinta, namun hasrat untuk melakukan seks dengan orang tuanya itu.

Oedipus Complex –Selanjutnya, proses ini kemudian menimbulkan konflik. Karena kecintaannya dan ingin semua perhatian ibunya tertuju padanya, anak laki-laki akan menganggap ayahnya sebagai ancaman. Ayah dipandang sebagai kompetitor yang perlu dibinasakan karena telah mengambil alih perhatian ibunya dari dia. Alam bawah sadar anak tersebut ingin menguasai ibunya secara penuh dengan cara membinasakan ayahnya. Konflik ini kemudian disebut oedipus complex(dalam mitologi Yunani, “Oedipus” adalah seorang anak lelaki yang membunuh ayahnya kemudian menikahi ibunya).

Dalam perkembangannya, si anak mulai sadar, bahwa ayah adalah sosok yang besar, powerfull, dan bisa melakukan apa saja yang ia mau termasuk mengambil ibunya. Meski ia “benci” dengan ayahnya, muncul perasaan takut si anak jangan-jangan suatu saat nanti, ayahnya akan mengambil semua yang ada padanya termasuk penisnya juga. Rasa takut ini dinamakan castration anxiety. Pada akhirnya, anak tersebut “membiarkan” perhatian ibunya terbagi antara ia dan ayahnya. Cara terbaik untuk tetap mendapatkan perhatian dari ibunya, adalah dengan meniru seperti ayahnya sendiri (red: identification). Anak yang bisa sampai pada tahap identifikasi ini dikatakan berhasil melewati tahap ini. Jika tidak, anak cenderung akan menjadi kebingungan dengan peran gendernya nanti (atau cikal bakal homosexual tipe gay).

Electra Complex– Anak perempuan juga mengalami hal yang sama, yaitu “permasalahan tentang penis” (bukan saru loh ya…hahaha). Anak perempuan mengalami perasaan “marah” kepada ibunya. Ada dua alasan mengapa anak perempuan marah terhadap ibunya, yang pertama karena ia menganggap ibu telah mengambil perhatian ayahnya. Ia pun ingin membinasakan ibunya (tentu saja dalam alam bawah sadar) (baca: Electra Complex. Electra adalah tokoh Yunani yang menyuruh saudaranya membunuh ibunya karena si ibu membunuh ayahnya). Alasan kedua si anak perempuan “marah” kepada ibunya, karena menurutnya, ibu-lah yang mengambil penis daripada si anak perempuan itu. Kepada ayahnya, ia merasakan hasrat seksual sekaligus perasaan iri karena ayahnya memiliki penis. Hal ini dinamakan penis envy.

Sama seperti pada anak laki-laki, anak perempuan pun akan melakukan identifikasi terhadap peran si ibunya untuk mendapatkan perhatian dari ayahnya. Nah, jika anak mampu mengidentifikasi peran ibunya, maka si anak perempuan dikatakan berhasil melewati fase ini. Jika tidak, maka kemungkinan ia akan mengalami kebingungan identitas (bisa menjadi cikal bakal tomboy ataupun homosexual tipe lesbian).

 

Periode Laten(4/5 tahun hingga masa puber). Pada periode ini, hasrat seksual anak lumayan tinggi. Anak ingin menyalurkan hasrat tersebut, misalnya lewat masturbasi, dan sebagainya. Namun, orang tua (khususnya di Indonesia) mulai menanamkan nilai-nilai, seperti memegang alat kelamin adalah suatu hal yang jorok atau saru. Oleh sebab itu, keinginan anak tersebut pun harus direpresi atau disalurkan dengan kegiatan lainnya, seperti bermain, atau bersosialisasi (terkait pula dengan Teori PsikoSosial Erikson). Banyak ahli berpendapat, perkembangan hasrat seksual terhenti pada masa ini dan lebih terfokus pada pengembangan sosial anak.

 

Periode Genital (pubertas). Periode ini adalah fase final dari psikoseksual Freud. Hasrat seksual individu muncul lagi! Libido pun lebih terpusat pada pemuasan pada alat kelamin. Praktisnya, periode ini adalah periode dimana hasrat seks menggebu-gebu dan menggelora untuk dipuaskan. Tidak heran jika sekarang banyak remaja yang melakukan seks bebas, ataupun gaya pacaran yang tidak sehat. Nah, kita sekali lagi harus bersyukur punya Tuhan yang sangat hebat. Untuk mengontrol hasrat libido, Tuhan memberikan superego (baca di https://andhikaalexander.wordpress.com/2014/04/06/defence-mechanism-freud/ ) sehingga, tidak serta merta ketika libido mencapai puncak, kita langsung melakukan seks intercourse seperti binatang. Ada berbagai macam penyaluran hasrat libido pada tahap ini, misalnya lewat masturbasi dan onani. Jadi, remaja yang melakukan masturbasi atau onani adalah hal yang wajar, selama tidak menganggu aktivitas utamanya loh ya (nanti kita akan bahas pada artikel lainnya). Selain menjadi puncak dari perkembangan seksual, pada masa ini pula individu mulai lebih matang secara psikososial sehingga mulai mencari pasangan.

 

 

#Psychology Zone#

 

Nb: Artikel dalam #Psychology Zone# boleh menjadi bahan acuan untuk mengerti dan memahami tentang teori-teori psikologi secara praktis. Tapi, sebagai penulis, saya sangat MELARANG artikel ini dijadikan landasan teori ketika Anda menulis suatu karya ilmiah. Artikel ini adalah opini refleksi (meski didasari kajian pustaka) yang tidak memenuhi kriteria landasarn teoritis suatu kajian karya ilmiah.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s