Defence Mechanism Freud

Google Image
Google Image

“Jane, kamu suka dia ya?”

“Ah! Gaklah, Nit. Si Allen yang suka aku sebenarnya…”

Sering kali kita denger percakapan seperti itu, bukan? Apalagi bagi kita yang masih remaja, gitu loh dan banyak “terjebak” dengan yang namanya cinta monyet. He he he.

Atau, contoh yang lain…Mungkin pernah mendengar tentang keseleo lidah? Itu tuh istilah yang kita gunakan pada saat ingin omongkan sesuatu, tapi diomongkan lain. Misal, si Andre harus mengatakan tas itu milik Dea, tapi, si Andre malah bilang, “Loh, itu tasnya si Tesa…”

***

Pada artikel tentang “Struktur Kepribadian Freud” (baca di:, aku sudah sharing-kan tentang mekanisme pertahanan diri akibat kebingungan si ego menghadapi gempuran tuntutan id dan superego. Nah, pada artikel ini, aku akan ceritakan tentang apa itu mekanisme pertahanan diri atau bahasa kerennya Defence Mechanism.

Google Image
Google Image

Freud sendiri bilang banyak sekali mekanisme pertahanan diri pada manusia. Kalo tidak ada salah lebih dari lima. Salah satunya adalah,

 

  1. Represi

Bentuk mekanisme pertahanan diri ini paling banyak kita kenal, apalagi dikalangan anak psikologi. Secara sederhana, kita inginkan sesuatu, tapi, tidak bisa diwujudkan (mungkin karena tuntutan norma, atau keterbatasan lainnya). Nah, keinginan itu kemudian kita tekan ke alam bawah sadar.

Freud bilang apa saja yang kita tekan ke alam bawah sadar bisa saja suatu saat memuncak ke berbagai media. Media tersebut antara lain mimpi, slip of tounge, bahkan psikosomatis.

Misalnya, kamu sangat marah, dan benci sama papamu. Nah, saking bencinya, kemarahanmu itu terbawa ke mimpi. Mimpi yang kamu alami adalah anjing yang tertabrak oleh mobil. Anjing tersebut melambangkan ayahmu, dan peristiwa tertabrak itu adalah manifestasi keinginan marahmu terhadap ayahmu.

Atau, ketika kamu membicarakan tentang seks malah dimarahi oleh ibumu bahkan sampai ketika kamu dewasa. Pada saat kamu akan melakukan hubungan badan dengan pasanganmu kelak, kamu mengalami impoten. Impoten disini bukan karena kamu mengalami impoten secara fisik, akan tetapi karena termanifestasikan oleh larangan ibumu tentang hal-hal berbau seks. Peristiwa ini dinamakan psikosomatis (sebenarnya kamu tidak sakit, akan tetapi kamu merasa sakit).

  1. Proyeksi

Selain represi, kita juga sering banget melakukan proyeksi. Secara sederhana, proyeksi adalah pengalihan perasaan yang sebenarnya kita alami.

Contohnya gini¸ kamu suka sama si A. Nah, pada saat ditanya temanmu apakah kamu menyukai si A, maka kamu bilang “bukan aku yang suka si A, tapi si A yang suka sama aku.”

Atau, kamu sedang sangat benci dengan si B, misalnya. Ketika kamu memproyeksikan perasaan itu, maka akan dibilang bukan kamu yang membenci si B, tapi si B yang membenci kamu.

  1. Displacement

Bahasa gaulnya sih memang displacement, tapi, bahasa manusianya adalah pelampiasan. Mekanisme pertahanan jenis ini hampir sama dengan represi, tapi bentuk pengalihannya bisa lebih luas dan tidak hanya sekadar “nyimpan” seperti halnya represi. Sama seperti halnya represi, pelampiasan juga bisa berwujud dalam mimpi.

Menurutku pribadi, pelampiasan bisa dibagi menjadi dua, yaitu positif dan negatif. Pelampiasan yang positif misalnya, kamu putus dengan pacarmu yang sudah 5 tahun bersamamu, padahal kamu sangat amat sayang dia. Pasti itu sangat berat dan mungkin saja menyebabkan kesedihan mendalam bagimu. Nah, kamu melampiaskan kesedihanmu itu dengan berolahraga, atau melakukan kegemaranmu sehari-hari. Sedangkan pelampiasan yang negatif, misalnya dengan kondisi yang sama, kamu melampiaskan kesedihanmu itu dengan mabuk-mabukkan dan atau melakukan tindakan bodoh lainnya.

Selain itu, dalam kehidupan seksual pun terdapat pelampiasan. Misalnya, kamu adalah seorang remaja yang aktif dan memiliki dorongan seksual yang sangat tinggi. tentu saja, pada saat remaja, kamu belum boleh menyalurkan hasrat seksualmu itu secara sembarangan (entah karena tuntutan moral, dan sebagainya). Nah, hasrat seksualmu itu kamu wujudkan melalui masturbasi atau onani (bahasa gaulnya “Coli”)

  1. Reaksi Formasi (Reaction Formation)

Penjelasan tentang mekanisme ini rada bingungin. Aku membuat secara sederhana lewat contoh saja ya.

Contoh pertama,

Ada seorang suami yang sangat benci dengan istrinya. Tapi, kebencian itu ia masukkan ke alam bawah sadar dan memunculkan perilaku yang sangat berbeda drastis dari rasa benci itu. Misalnya, pada saat mereka “begituan”, si suami terus menerus menciumi istrinya (padahal orang yang benci dengan seseorang tidak akan bertindak seperti itu). Atau, pada saat istrinya ulang tahun, maka ia membelikan hadiah yang sangat spesial sehingga istrinya pun tidak tahu jika ia benci dirinya.

Contoh kedua,

Seorang anak gadis marah dengan ibunya. Secara sosial, anak tidak boleh marah dengan orang tuanya, bukan? Nah, perasaan ini terpaksa ditekan oleh si gadis dan memunculkan suatu perilaku yang sangat berbeda. Misalnya, ia menciumi ibunya didepan umum, sehingga khalayak ramai mengira ia sangat sayang ke ibunya.

Menurut buku-buku yang aku baca, contohnya seperti itu. Apabila ada yang ingin menambahkan, monggo…

Itu beberapa mekanisme pertahanan diri dari Freud. Meski masih banyak gak aku tulis disini. Nanti pada bosen bacanya karena terlalu panjang. Ha ha ha…

 #Psychology Zone#

Nb: Artikel dalam #Psychology Zone# boleh menjadi bahan acuan untuk mengerti dan memahami tentang teori-teori psikologi secara praktis. Tapi, sebagai penulis, saya sangat MELARANG artikel ini dijadikan landasan teori ketika Anda menulis suatu karya ilmiah. Artikel ini adalah opini refleksi (meski didasari kajian pustaka) yang tidak memenuhi kriteria landasarn teoritis suatu kajian karya ilmiah.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s