Menikah: Sebelum atau Sesudah Mapan, Ya?

Sabtu siang, aku tergelitik dengan salah satu status BBM yang dipasang seorang rekan, Bro Fauzi. Begini statusnya:

“Menikahlah sebelum mapan agar anak anda dibesarkan dengan kesulitan anda dan mengerti hidup adalah perjuangan (zii arz 1) #idekehidupan”

Spontan, aku mengomentari statusnya, “Lalu, pas uda nikah, istrinya dikasi makan cinta nih bro?

Kami pun terlibat dalam suatu diskusi yang cukup panjang meskipun melalui media sosial tersebut.

Menurut Bro Fauzi, sebelum mapan, suami istri tersebut dapat menggabungkan pendapatan (dalam hal ini gaji) mereka meskipun hanya sedikit. Dengan demikian, bisa membantu perekonomian keluarga tersebut. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa orang yang berkeluarga itu tanggung jawabnya menjadi lebih besar (hal tersebut didasari oleh penelitian kecil yang dilakukan oleh Bro Fauzi). Kemudian, ia menyatakan bahwa orang yang semakin mengukur waktu buat menikah, apalagi terlalu memilih pendampingnya yang harus “perfect” adalah bahaya. Bahkan, Bro Fauzi mengemukakan beberapa kata-kata mutiara,

“Cintailah kekurangan dan kelebihan pasanganmu. Mulailah membuka diri bagi yang belum menemukan jodoh. Apabila sudah punya komitmen, bersiaplah berkomitmen.”

 Diskusi ini memang tidak terlalu formal. Tapi, dalam artikel ini, aku ingin memberikan beberapa batasan pengertian. Pertama, adalah “menikah”. Secara sederhana, ya menikah adalah prosesi resmi antara dua orang secara adat/agama, maupun administratif. Yang kedua, adalah “mapan”. Kata tersebut memang sangat ambigu. Tapi menurutku pribadi, kata “mapan” menunjuk pada kecukupan ekonomi (nanti aku berikan gambaran yang lebih spesifik)

Memang tema tentang menikah adalah sesuatu yang normal yang akan mengembirakan sekaligus menakutkan buat aku pribadi. Hal yang menggembirakan adalah ya kita bisa bersatu dengan pasangan yang selama ini kita sayangi, dan cintai. Sedangkan menakutkan adalah bagaimana setelah nikah nanti?

 ***

Mungkin saja, benar kata teman-teman, aku terlalu banyak berpikir, atau berteori atau apapunlah itu. Tapi, ketakutan akan pernikahan tersebut bukan tanpa alasan. Sudah begitu banyak sanak saudara, teman-teman dekat yang seumuran denganku yang sudah menikah. Saat sharing pengalaman atau melihat langsung keadaan mereka, kok tampaknya menikah itu ribet, ya? Susahlah…Tiap hari diperibetkan oleh masalah keluarga, masalah ekonomi, masalah tempat tinggal, dan begitu banyak tetek bengek masalah yang kian tak ada habisnya.

Sekali lagi, ketakutanku bukanlah ketakutan tanpa alasan. Aku pernah tinggal indekos dengan beberapa pasangan suami istri. Hampir setiap hari beberapa pasangan tersebut bertengkar, dan masalahnya tetap sama, tentang “kapan kita punya rumah sendiri?” (loh, Kandy, kok kamu bisa tahu mereka bertengkar tentang itu? Nguping ya?…Bukannya nguping. Masalahnya pada saat bertengkar, suara mereka bahkan mengundang para tetangga berkumpul di kosku.). Ada juga beberapa rekan tinggal seatap dengan mertuanya mengeluhkan bahwa mertua seringkali melakukan intervensi terhadap hubungan mereka. Atau, ada juga teman mainku waktu kecil yang sekarang sudah nikah, tampaknya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan susu si kecil karena kurangnya kesiapan dari sisi ekonomi, dan seringnya berantem dengan pasangannya yang aku duga sebagai kurangnya kesiapan dari sisi psikologis.

 ***

 Kembali ke pertanyaan sekaligus judul artikel ini, menikah itu sebelum mapan apa sesudah mapan? Secara subjektif, aku lebih memilih mapan dulu baru menikah. Mapan disini dalam arti, aku harus memiliki rumah dulu. Untuk mobil, urusan belakanglah, yang penting ada rumah dulu. Prinsipku, aku tidak mau istriku tinggal di indekos atau rumah kontrakan, atau bahkan tinggal dengan mertua (WOW! Arogan sekali kamu Kandy!!! Bakalan ditampar banyak orang nih…hehehe…). Aku harus memiliki rumah dulu bukan berarti aku gak mau kos atau kontrak rumah sebelum aku menikah (dari tahun 2009, aku sudah merasakan hidup dikos).

Arti “aku tidak mau istriku tinggal selain di rumah sendiri” adalah Aku harus kerja keras dulu, cari uang yang banyak dan konsiten banyaknya, menabung, beli rumah, dan baru deh menikah. Masa sih kita mau ngasi makan istri dan anak hanya dengan cinta??? Atau menyekolahkan anak kita di sekolah ecek-ecek??? Atau yang paling simpel, masa sih si istri minta beliin baju dan atau tas baru ditolak hanya karena uang kurang (Pandanganku, cewek yang suka beli baju atau tas baru bukanlah cewek matre. Ya, pada dasarnya cewek itu kayak gitu. Sama halnya dengan cowok, atau aku-lah, yang sangat doyan ngumpulin Hotwheels. He he he).

Aku rasa, para cowok, dan khususnya bagi mereka yang selama ini mengaku gantleman akan setuju dengan statementku ini. Kita harus bekerja keras dahulu, mencari penghasilan yang banyak, dan stabil, serta tentu saja TANPA andalkan uang dan atau perusahaan papa/om/sanak saudara dan sebagainya. Pure, usaha kita…Sebelum memutuskan untuk menikah.

Oh ya, satu lagi, meski punya impian untuk mapan, tetap kita harus menetapkan target. Jangan sampai menggantungkan impian pasangan kita dengan alibi “aku belum mau menikah, karena aku belum punya rumah”. Wah, itu pernyataan yang sakit banget buat wanita, loh!

“Lalu, targetmu, gimana donk, Kandy?” Aku target 27-30 tahun sudah menikah, dalam status sudah mapan (udah punya rumah di Surabaya). he he he…Doakan yaaa…^_^

***

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang sudah menikah tapi belum mapan? Atau bagaimana juga dengan mereka yang sudah menikah tapi belum punya rumah, tapi, hubungan mereka fine-fine aja tuh…? Kembali lagi, pasti tiap orang memiliki prinsip, nilai-nilai, sumber daya dan pertimbangan-pertimbangan pribadi sebelum ia dan pasangannya menikah. Tapi, pada akhirnya, aku setuju dengan pendapat Bro Fauzi. Daripada mikirin menikah, mending di saat masa pacaran atau pengenalan, lebih banyak belajar tentang kekurangan pasangan (daripada terlena kelebihannya), serta bekerja atau belajar yang rajin sehingga nantinya ketika mengucap, “Yes! I’m agree to be your husband/wife” bener-bener siap secara jasmani, materi, dan tentu saja, spiritual…

 

#JustAnOpinion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s