Banjir Manado 2014: Bukti Kita Egois?

Banjir 15 Januari 2014 (41)
Banjir Manado. Lokasi: Rumahku di Tikala

Januari 2014 lalu, Sulut berduka. Lebih dari 5 orang tewas dan ratusan orang menjadi korban akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menyerang sejumlah daerah di Bumi Nyiur Melambai. Bahkan, banjir pada tahun 2014 ini dinobatkan sebagai banjir tertinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Beberapa jembatan penghubung utama antar beberapa daerah putus, rumah-rumah hanyut, dan bahkan menelan korban jiwa. Tidak hanya banjir, tanah longsor pun menghantui para warga. Akibat terparah dari tanah longsor ini adalah terisolasinya daerah Minahasa Selatan dan Manado selama lebih dari tiga hari karena jalan penghubungnya tertimbun tanah.

 

Banjir sebenarnya adalah bencana “yang sudah biasa” di Manado, khususnya di beberapa titik seperti kelurahan Banjer, dan Singkil. Selama tinggal di Manado, saya sempat mengalami banjir sebanyak lebih dari tiga kali. Banjir terparah saya rasakan pada tahun 2000 silam, dimana ketinggian air mencapai 2 meter. Pasca banjir tersebut, banyak usaha yang dilakukan pemkot Manado, beserta warga sekitar untuk mencegah banjir, yaitu salah satunya dengan pembuatan semi-tanggul di bantaran sungai Tikala. Namun, hal tersebut seakan sia-sia kala banjir 2014 menerpa Kota Pariwisata 2014 tersebut.

Banjir Manado. Lokasi: Jembatan Dendengan
Banjir Manado. Lokasi: Jembatan Dendengan

Secara sederhana, banjir terjadi karena sungai tidak mampu menampung debit air dengan jumlah yang besar. Hal itu pun berlaku bagi banjir di Manado. Dari hasil diskusi dengan para warga Manado, saya memperoleh informasi bahwa hujan yang tak kian berhenti di seluruh daerah Sulut menyebabkan bendungan di sekitar Danau Tondano tidak lagi mampu menampung air. Akhirnya, pintu air Tondano pun harus dibuka. Nah, sungai-sungai yang dilewati air dari Tondano tersebut tidak mampu menahan jumlah air yang begitu besar, dan pada akhirnya menyebabkan banjir. Pertanyaannya, mengapa sungai-sungai tersebut tidak lagi mampu menahan debit air? Padahal tahun-tahun sebelumnya, ketika pintu air dibuka, sungai tetap mampu menahan air-air tersebut?

Ada beberapa alasan logis yang dikemukakan warga sekitar tentang mengapa banjir tahun 2014 begitu hebat.

  1. Sungai sudah terlalu dangkal

Tumpukan pece (baca: lumpur) akibat akumulasi banjir tahun-tahun sebelumnya di sungai tersebut semakin menumpuk. Sungai pun akhirnya menjadi dangkal. Masalahnya adalah tidak ada inisiatif baik dari pemkot maupun warga di sepantaran sungai untuk melakukan pengerukan. Pengerukan sangat diperlukan untuk menambah kedalaman sungai. Alih-alih melakukan pengerukan, daerah sepanjang aliran sungai tersebut malah dibangun beberapa gedung lain, seperti hotel. Sungai yang menjadi dangkal ini pun tidak mampu menahan debit air kiriman dari pintu air Tondano. Pada akhirnya, banjir bandang pun tidak dapat terhindarkan.

  1. Budaya mengotori sungai
Banjir Manado. Lokasi: Pembuangan Sampah di Tampa Potong Ares
Banjir Manado. Lokasi: Pembuangan Sampah di Tampa Potong Ares

Konon, sungai di Manado sangat jernih dan sering dijadikan ‘kolam renang alami’ bagi warga sekitar. Namun, semenjak saya tinggal di Manado (mulai dari tahun 1991 hingga 2006), sungai di Manado sudah berwarna cokelat. Keadaan sungai pun diperparah dengan budaya mengotori sungai oleh warga (tidak hanya warga sekitar yang tinggal di daerah aliran sungai). Budaya tersebut meliputi membuang sampah sembarangan, buang air (besar maupun kecil) di sungai, hingga mencuci baju di sungai. Memang budaya ini tidak hanya ditemukan di Manado saja. Berbagai daerah di tanah air pun tetap ‘menganut’ budaya ini. Tidak heran banyak sungai-sungai di Indonesia yang mengalami kerusakan dari tahun ke tahun. Alhasil, sampah dan kotoran yang menumpuk ini pun menjadi penyebab efektif dari kejadian banjir bandang ini.

  1. Investasi yang berlebihan?

Tampaknya, Sulawesi Utara, dan Manado khususnya sangat berambisi untuk makin mengembangkan daerahnya. Salah satu ambisi tersebut adalah dengan pembangunan yang diadakan di berbagai tempat di Sulut. Jika Anda adalah seorang perantauan yang berasal dari Manado, cobalah sempatkan diri untuk pulang ke Manado dan melihat berbagai perkembangan yang terjadi disana. Pantai di reklamasi untuk didirikan pusat perbelanjaan dan ruko, hutan-hutan nyiur melambai ditebas untuk dibangun perumahan, bahkan, gunung-gunung dibelah untuk dijadikan jalan bebas hambatan.

Banjir Manado. Lokasi: Kantor Walikota
Banjir Manado. Lokasi: Kantor Walikota

Hal ini memang akan menjadi perdebatan berkepanjangan antara berbagai pihak. Di satu sisi, modernisasi Sulawesi Utara sangat diperlukan untuk pengembangan taraf hidup masyarakat Sulut sendiri. Di sisi lain, apakah para developer memperhatikan ekosistem sebelum ia melakukan pengembangan?

Ambil contoh, pengembangan perumahan mewah di daerah Winangun atas mengakibatkan pembabatan hutan kelapa yang begitu luas. Nah, apakah pihak pengembang sudah memikirkan apa pengganti dari hutan kelapa yang ia tebas habis itu? Jika sudah, apa langkah konkrit yang telah dilakukan pengembang untuk memastikan keseimbangan pembangunan dengan ekosistem setempat?

Banjir Manado. Lokasi: Unknown
Banjir Manado. Lokasi: Unknown

Banyak warga Manado yang protes dan mulai sadar dengan pembangunan yang gila-gilaan ini. Begitu banyak investor dan developer datang ke Manado khususnya, untuk mengadakan pembangunan hotel, perumahan, mall, ruko, dan sebagainya. Bagaimana dengan pemerintah? Wah! Jika uang proyek tersebut besar, siapa sih bisa menolak (Klasik!). Mereka LUPA untuk tetap menjaga keseimbangan ekosistem di Manado itu sendiri. Bahkan, banjir bandang tahun ini ditengarai sebagai peringatan dari alam bagi para developer dan investor termasuk Pemerintah tersebut agar lebih memperhatikan alam.

Sebenarnya, jika dilihat dari pra-duga masyarakat tentang alasan terjadinya banjir lebih disebabkan oleh manusia itu sendiri. Di satu sisi, pihak pengembang daerah Sulut seakan antipati dengan kondisi alam di bumi Nyiur Melambai. Tapi, di sisi lain juga, masyarakat Sulut itu sendiri juga berkontribusi langsung dengan masih menganut budaya mengotori sungai.

Nah, muncul pertanyaan selanjutnya, what’s next?

Saya pikir pertanyaan tersebut sudah ditanamkan semenjak kita duduk di bangku sekolah dasar. Bagi yang tidak mengenyam pendidikan, paling tidak hal tersebut sering menjadi nasihat dari orang tua. Ada beberapa tindakan sederhana yang mampu dan harus kita lakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem itu sendiri:

  1. Jangan membuang sampah sembarang.

Perilaku ini sangatlah sederhana namun sangat sulit untuk dilakukan. Masih begitu banyak orang yang membuang sampah sembarangan. Setelah makan atau minum sesuatu, dengan gampangnya langsung membuang ke jalan. Ataupun, para pengendara kendaraan yang mengisap rokok dengan seenaknya membuang puntung rokok ke jalan.

Budayakanlah agar tidak membuang sampah sembarangan. Jangan hanya tahu protes saja kepada pemerintah, “kok banjir?” “kok gini” “kok gitu”, tapi dari kita sendiri tidak mau menjaga keseimbangan ekosistem itu sendiri.

  1. Tanam tumbuhan.
Banjir Manado. Lokasi: Dendengan Dalam
Banjir Manado. Lokasi: Dendengan Dalam

Salah satu penyebab bencana alam seperti banjir adalah botaknya hutan-hutan yang notabene bisa berfungsi sebagai penahan air. Hutan yang gundul ini kebanyakan tidak di reboisasi oleh para developer dan investor egois yang hanya memikirkan keuntungan pribadi saja. Alasan yang paling santer terdengar adalah, “biarlah hutan kita tebas. Tapi, kita akan majukan daerah Anda!” Bullshit! Tapi, sudahlah. Selama pemerintah kita masih banyak yang korup, dan uang masih menjadi hal terkuat, tentu saja ijin pembangunan akan gampang untuk dikeluarkan meski tidak mempertimbangkan keseimbangan ekosistem.

Daripada kita saling menyalahkan antara pemerintah dan developer dan warga, mendingan kita memikirkan solusi agar tetap menjaga ekosistem tersebut. Salah satunya adalah dengan menanam tumbuhan.

Banjir Manado. Lokasi: Unknown
Banjir Manado. Lokasi: Unknown

Saya tidak menawarkan solusi tanpa mempraktekkannya terlebih dahulu. Selama tinggal di perantauan, saya memiliki beberapa tumbuhan, baik buah-buahan, maupun bunga yang saya tanam sendiri. Saya percaya, jika setiap orang pun melakukan apa yang saya lakukan, ekosistem kita bisa terjaga. Gampang kok untuk menanam tumbuhan. Bibitnya sendiri banyak dijumpai di pasar. Cara merawatnya pun bisa dengan mudah didapatkan melalui buku-buku ataupun artikel di internet. Yang penting adalah actionnya. Segeralah bertindak agar alam kita tidak menjadi semakin rusak.

Banjir bandang Manado 2014 adalah peringatan dari alam agar kita tetap menjaga kelestariannya ditengah-tengah egoisme pembangunan dan politik orang teras. Ada begitu banyak langkah yang dapat kita lakukan untuk menjaga lingkungan kita. Namun, langkah tersebut menjadi tidak berguna jika hanya sekadar konsep saja. Diperlukan aksi nyata dari kita semua untuk menjaga lingkungan kita sendiri. Mari beraksi!

 

#PointofView #SavingEarth #BanjirManado2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s