Goyang Lidah Ala Kota Kretek, Kudus

Image

Kudus merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Jarak tempuh dari Semarang (Ibu kota Provinsi Jawa Tengah) menuju Kabupaten Kudus berkisar satu hingga satu setengah jam dengan menggunakan mobil atau sepeda motor. Dari Semarang, Anda akan melewati Kabupaten Demak terlebih dahulu (atau menggunakan jalan lingkar), barulah sampai ke Kabupaten Kudus. Saya sarankan, jika Anda dalam kondisi liburan, sebaiknya menggunakan jalan melewati kota Demak dan tidak menggunakan jalan lingkar. Selain dapat menikmati pemandangan Kota Wali (sebutan untuk Kabupaten Demak), Anda juga dapat terhindar dari kondisi lalu lintas jalan lingkar yang menurut saya agak berbahaya karena jalan tersebut dipenuhi oleh Truck-Truck Gandeng yang besar.  Pada saat saya berkunjung kesana (22/2), cuaca di Kudus bisa dikatakan bersahabat karena berawan namun tidak hujan. Udaranya juga masih tergolong agak segar karena lalu lintasnya belum terlalu padat dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya. Sayangnya, Anda perlu berhati-hati dengan kondisi jalan yang berlubang dan banyak kerikil kecil, baik di sepanjang jalan menuju ke Kudus maupun di Kabupaten Kudusnya sendiri. Kondisi jalan tersebut memang kurang baik dikarenakan Kudus baru saja dilanda bencana alam banjir.

Kudus selama ini dikenal sebagai kota industri rokok terbesar di tanah air. Begitu banyak pabrik rokok dengan berbagai merk, dari rokok kretek daerah, hingga yang ber-merk internasional. Ketika berkeliling daerah Kudus tersebut, Anda bisa mencium bau rokok atau cengkeh di sepanjang jalan. Tidak heran, Kudus mendapat sebutan sebagai Kota Kretek.

Salah satu obyek wisata yang terkenal di Kudus adalah wisata religi Menara Kudus. Sayang sekali, pada kesempatan tersebut, saya hanya bisa melewati Menara Kudus karena kendala tempat parkir yang agak sulit. Mungkin suatu hari saya akan berkunjung dan mengabadikan gambar di menara tersebut.

Pada artikel ini saya akan sharingkan beberapa makanan khas yang tidak boleh Anda lewatkan ketika berkunjung ke Kudus. Makanan-makanan ini tergolong cukup unik dan bahkan menjadi ciri khas dari Kabupaten Kudus itu sendiri.

1. Lentog Tanjung Kudus

Image
Lentog Tanjung Kudus Shokib by Kandy’s Pic

Konon, lentog adalah sebutan lain dari lontong. Lontong itu sendiri adalah nasi yang dibungkus dalam daun. Pada dasarnya, Lentog Tanjung adalah makanan yang terbuat dari santan. Bahan-bahannya antara lain gudek gori, tahu, dan lontong serta ada kuahnya yang terbuat dari santan. Anda dapat menyantap Lentog Tanjung bersama gorengan seperti bakwan. Rasa dari lentog sayur cenderung manis. Tekstur citra rasa yang dihadirkan pun hampir sama dengan Gudeg Jogja, ataupun Kupat Sayur di Jakarta.

Lentog Tanjung biasanya menjadi makanan untuk sarapan di pagi hari. Nah, hati-hati bagi Anda yang sering sakit perut di pagi hari karena Lentog Tanjung terbuat dari bahan dasar santan. Mengonsumsi santan di pagi hari cenderung bisa menyebabkan sakit perut bagi mereka yang tidak memiliki perut yang kuat. Pada kesempatan tersebut, saya mencoba Lentog Tanjung Kudus Shokib yang berada di daerah Getas Pejaten. Seporsi Lentog Tanjung dihargai Rp3000,00.

2. Pindang

Image
Pindang Kudus by Kandy’s Pic

Awalnya, saya mengira pindang adalah nama ikan. Ternyata, Pindang merupakan salah satu makanan khas dari Kudus. Sebenarnya konsep yang dihadirkan masakan Pindang ini seperti rawon di Jawa Timur. Bahan dasar masakan Pindang adalah nasi, kuah, dan ayam (atau juga bisa diganti dengan daging kerbau) serta ditambahi daun melinjo. Rasa yang dihadirkan Pindang hampir sama dengan Rawon. Hanya saja, Pindang memiliki rasa yang lebih manis.

Tarif rata-rata yang dipasang oleh para penjual Pindang dikatakan cukup tinggi. Pada saat mencoba masakan Pindang di daerah Jl. Kutilang, Gang 1, saya harus merogoh kocek hingga Rp9000,00 dengan porsi yang kecil. Harga yang tinggi tersebut dikarenakan proses pembuatan bumbu Pindang itu sendiri yang lama. Bagaimana dan apa bumbu Pindang sehingga menjadikannya masakan yang lumayan mahal? Saya sendiri tidak berkesempatan untuk bertanya pada penjual Pindang tersebut karena kondisi warung yang sangat ramai. Ahh! Sayang sekali…

3. Sate Kerbau dan Nasi Jati

Sate Kerbau? Ya! Secara harafiah daging sate tersebut memang berasal dari daging kerbau. Sate Kerbau menjadi salah satu wisata kuliner wajib ketika Anda bersua ke Kudus. Anda bisa dengan mudah menemukan wisata kuliner yang cukup ekstrim ini di beberapa ruas jalan di Kudus.

Sate Kerbau yang notabene berasal dari daging kerbau memiliki tekstur yang lebih padat dibandingkan sate ayam. Awalnya saya mengira bahwa dagingnya keras dan alot, tetapi, entah mengapa, daging dari kerbau tersebut sangat lembut. Menurut MaJu (penjual sate kerbau di Jl. Kutilang Gang 1), daging kerbau tersebut direbus berulang kali sehingga memiliki tekstur yang lembut. Biasanya, para penjual sudah membakar sate kerbau terlebih dahulu dalam jumlah yang banyak sehingga pada saat konsumen akan memesannya, mereka hanya tinggal memanasinya dengan arang menyala. Saosnya pun tidak seperti saos kacang pada sate ayam atau kambing. Saosnya begitu encer, dan memiliki rasa yang manis (bahkan, saya merasa, saos tersebut memiliki rasa serupa dengan susu merk tertentu).

Image
Sate Kerbau Kudus Gang Kutilang 1 by Kandy’s Pic

Sate Kerbau “ditemani” oleh nasi jati. Maskudnya, jika Anda menyantap sate ini, hendaklah menyantap dengan nasi yang dibungkus daun jati. Nasi putih yang dibungkus dengan daun jati memiliki rasa yang berbeda dengan lontong atau nasi putih buatan rice cooker. Saya tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasa nasi daun jati tersebut, tapi, Anda patut mencobanya!

Seporsi sate kerbau terdiri dari 5 tusuk sate yang dihargai Rp2000,00 per tusuknya. Untuk nasinya sendiri dapat dibeli seharga Rp2000,00 juga per bungkusnya. Mungkin harganya dapat berubah-rubah dan tergantung dimana Anda membelinya.

Selain ketiga kuliner khas Indonesia di atas, masih banyak kuliner-kuliner lainnya yang tersebar di penjuru tanah air. Indonesia sangatlah kaya akan budaya termasuk budaya kuliner. Nah, salah satu usaha konkrit untuk melestarikan budaya kita adalah dengan meng-sharingkan pengalaman wisata kuliner itu sendiri…

Sip-Sip-Sip—Mantaaap!

#CulturalHeritages #Wisata Kuliner #Kab. Kudus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s