WASIAT

Untitled-1

Menyenangkan sekali mendengarkan homili Romo di gereja tadi. Pada salah satu renungannya ia bercerita tentang “wasiat”. Demikian ceritanya:

Ada seorang ibu yang sedang berada dalam sakratul maut (keadaan dimana sudah mendekati ajalnya) berkata kepada suaminya,
“Pa…Papa…” panggilnya sambil terbata-bata.

“Iya, ma. Ada apa ma? Sakit ya?” tanya suaminya dengan penuh perhatian

“Mama mau ngasi tahu sesuatu, Pa. Boleh?”

“Eng…eng…apa ma? Mama jangan banyak bicara dulu ma.”

“Papa, kalo Mama sudah gak ada…” perkataan istrinya langsung dipotong suaminya.

“Jangan bicara begitu…ma. Mama pasti sembuh…” potongnya sambil menahan air mata. Kesedihan begitu meliputi sang suami karena ia mengetahui sebentar lagi ajal akan menjemput istrinya.

“Gak apa. Mama sudah siap. Dan, Mama juga ikhlaskan jika Papa menikah lagi nantinya.” Jizzz…sang suami kaget, namun ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak menunjukkan ekspresinya yang berlebihan kepada istrinya…(Jika kita memiliki istri, dan istri kita berkata demikian, apa kira-kira yang ada di benak kita…he he he)

“Ma…jangan bicara gitu…” kata Bapak itu tertahan.

“Ini beneran, Pa. Tapi, tunggu kubur Mama kering dulu ya…”

“Kubur mama kering itu kapan, Ma?” tanya papa yang mulai…rrrr…mulai beda bahasanya.

“Ya, tergantung, Pa. Kalo musim kemarau ya lama, Pa. Tapi kalau musim hujan papa harus nunggu agak lama. Gak apa ya Pa.”

“Ya ampun mama…Jangan bicara seperti itu. Papa cuma mau mama saja…”

“Iya, Pa. Terima kasih. Pa, Mama punya permintaan satu lagi, Pa. Bolehkah Mama bilang?”

“Ma…lima puluh permintaan pun Papa akan penuhi ma.”

“Mama pengen…tiap sore hari, kuburan mama disiram ya, Pa…”

Krik…krik…krik…krik….suasana menjadi sepi sebentar…sambil terbata-bata…Papa menjawab…

“Kalo mama mau be…beg..begitu…yasudahlah…”

Wasiat bukanlah sesuatu yang asing didengar. Wasiat simpelnya adalah suatu peninggalan bagi yang akan meninggal kepada yang akan diberikan wasiat tersebut. bentuk wasiat sendiri bermacam-macam. Kadang wasiat menjadi suatu hal yang wajib dipenuhi oleh yang ditinggalkan, tapi sering juga karena wasiat, tali persaudaraan itu putus.

Wasiat memang biasa kita kenal sebagai peninggalan seperti harta benda ataupun benda-benda lainnya. Namun, wasiat itu juga bisa berupa nasihat, permintaan dan sebagainya. Pertanyaannya adalah, jika wasiat itu berupa perintah, apakah wasiat itu harus dipenuhi?

Hal ini tergantung bagaimana pemaknaan seseorang terhadap orang yang ditinggalkan. Kasus di atas adalah anekdot yang penuh makna, sebetulnya. Dalam cerita tersebut dijelaskan bahwa ada dua macam wasiat yang ditinggalkan sang istri terhadap suami, yaitu sang suami boleh menikah lagi asal menunggu kuburannya kering, dan yang kedua adalah tiap sore kuburannya harus disiram. Dengan demikian, apakah kuburan sang istri bisa kering? Tentu saja tidak, karena setiap sore harus disirami. Dan, apakah sang suami boleh menikah?

Inilah yang saya maksud dengan kebermaknaan seseorang terhadap orang yang akan meninggal. Ketika sang suami menganggap istrinya adalah orang yang paling bermakna, paling berarti dan tak tergantikan, maka ia akan menyanggupi wasiat istrinya. Namun, ketika ia memiliki kekosongan makna terhadap peran istri dalam hidupnya, maka, mungkin saja tahun-tahun awal ia masih bisa menyanggupi wasiat tersebut, tapi untuk kedepannya, siapa tahu?

Ketika kita menganggap seseorang (baik pasangan, orang tua, saudara, bahkan sahabat serta musuh kita sekalipun) adalah yang spesial, yang paling bermakna dan berarti, hal yang paling sulit pun dapat kita penuhi. Namun, ketika seseorang itu tanpa arti bagi kita, maka hal se-simpel apapun pasti akan terasa sulit…

Selamat hari Minggu, berkah dalam…

By the way,

Semoga Ustad Jeffry (Uje) dapat diterima di sisiNya. Meskipun non-muslim, saya sangat senang mendengarkan dakwah ataupun kultum Uje saat bulan Ramadhan ataupun di beberapa tayangan televisi. Dakwahnya begitu simpel dan mudah dicerna, tidak bulet, tapi sarat akan makna. Indonesia memang betul-betul kehilangan seorang yang sangat indah…seseorang yang sangat bermakna…seseorang yang inspiratif.

Selamat jalan Pak Uje…Kami semua mendoakanmu…

One thought on “WASIAT

  1. Pada prinsipnya,wasiat adalah “titipan”,,sehingga semua ☺яĞ akan berusaha utk mendapatkannya…tp,,karena semua ☺яĞ jg dibekali oleh Τûђàή,akal budi đªή rasa,,maka “kawinkan”lah bekal Τûђàή tsb,sebelum wasiat d perjuangkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s