Petualangan di Kota Atlas, Semarang – Part 3 (Pelesiran di Kota Atlas)

Image

Unfortunately, Reunion With Senior High Buddy.

            Ternyata, beberapa teman SMA sedang mengadakan praktek kerja lapangan di Semarang. Momen ini pun kita manfaatkan untuk bertemu setelah sekitar 3 tahun tidak bertemu. Kami janji bertemu di Gereja dan berencana untuk ikut misa bersama-sama.

Saya bangun pukul 06.30 dan segera bersiap untuk pergi ke Gereja Katedral St. Perawan Maria Ratu Rosario Suci. Gereja tersebut terletak di Jl. Pandanaran, No.9 Semarang. ImageDengan menumpang taksi, saya segera bergegas menuju Gereja tersebut agar tidak terlambat misa. Sesampainya disana, ternyata misa pada jam sebelumnya belum selesai. Teman-teman saya pun belum datang. Saya harus menunggu di luar gereja, namun beruntung bisa menyicip berbagai jajanan seperti cimol bandung dan susu sapi segar. Dari segi harga, tidak terlalu berbeda dengan jajanan-jajanan di Surabaya ataupun di kota lain. Murah dan terjangkau. Saya tidak bisa menjamin untuk kebersihannya karena dimana-mana yang namanya jajanan di jalan pasti tidak terjamin akan kebersihannya bukan?  Image

Anyway, teman-teman saya tak kunjung datang, sementara itu misa akan segera dimulai. Menurut mereka, jalanan di tutup karena ada Car Free Day. Car Free Day yaitu kegiatan dimana polisi menutup ruas jalan tertentu dari kendaraan bermotor dari sekitar jam 06.00 – 09.00. di Surabaya pun ada, yaitu setiap hari Minggu di ruas jalan raya Darmo dan Kertajaya. Dengan demikian, kami pun berjanji untuk bertemu seusai misa. Dengan demikian mereka harus mengambil jalan lain untuk sampai ke gereja yang sudah berusia hampir seabad itu.

Image

            Pengalaman pertama misa di Katedral Semarang membawa kesan tersendiri bagi saya. Memang misa berjalan seperti biasa, namun, saya sangat senang bisa hadir misa di salah satu gereja tua di tanah air. Ya, bahkan Gereja Katedral ini menjadi salah satu tujuan wisata yang direkomendasikan bagi para pelesir yang sedang berkunjung ke Semarang. Ornamen – ornamenImage yang khas dari zaman Belanda seperti gerbang kayu dan dinding batu masih menghiasi Gereja yang berdekatan dengan kawasan pemerintahan pusat kota Semarang itu. Tidak lupa saya mendokumentasikan beberapa bagian dari Gereja ini untuk menjadi kenangan di suatu saat nanti. Secara fisik, Gereja tersebut tidak terlalu besar meskipun memiliki tempat duduk empat ruas (bisa dilihat pada gambar). Di dalam gereja pun agak terasa panas dan berbeda dengan Gereja Kristus Raja ataupun Marinus Yohanes di Surabaya. Meskipun sudah dilengkapi beberapa pendingin ruangan, mungkin karena kebanyakan orang dan ruangan kecil maka tetap terasa panas. Gereja Katedral yang merupakan keuskupan agung Semarang ini juga menyatu dengan

Image

halaman sekolah. Saya lupa apa nama sekolahnya, dan juga ada beberapa gedung yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan seperti pertemuan mudika dan sebagainya. Setelah misa, saya langsung bergegas menjumpai rekan-rekan saya. Nah, akhirnya kita bertemu…

Reuni kilat. Mungkin itu suatu istilah yang tepat bagi kami. Kami pun bergegas menuju ke rumah makan soto khas Semarang di daerah pom bensin hantu. Mengapa di namakan pom bensin hantu, mungkin karena di situ hanya terdapat plang pom bensin, namun, pom bensin itu sendiri tidak ada. Sepanjang jalan kami mengobrol dan mengupdate berbagai hal yang selama ini kami belum saling tahu. Kangen juga masa-masa SMA. He he he.

Gedung Seribu Pintu – Lawang Sewu

Image

Setelahnya, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sebagai backpacker sementara mereka kembali ke tempat tinggal masing-masing untuk belajar. Saya awalnya bingung mau kemana karena memang dari awal tidak memiliki planning untuk pelesiran. Tujuan awal kan hanya menjenguk dan menemani rekan-rekan yang sedang berlomba di Semarang. Ya sudah, kembali lagi internet menjadi penolong bagi saya untuk melakukan pencarian tempat-tempat yang menarik di Semarang. Pilihan pun jatuh ke Lawang Sewu. Jarak yang saya tempuh dari resto soto Semarang ke Lawang Sewu kira-kira 20 menit dengan berjalan kaki. Memang capek, tapi inilah yang namanya petualangan. Seru! Di sepanjang jalan saya menikmati berbagai pemandangan kota Semarang meskipun waktu sudah pukul 12.00 lebih.Image Dengan demikian panas pun menemani perjalanan saya tersebut. Di tengah jalan saya mampir ke sebuah toko ritel yang menyediakan tempat duduk di depannya sambil memesan sepiring Tahu Gimbal, salah satu makanan khas kota Semarang. Tahu gimbal itu kalo tidak salah memiliki komponen seperti tahu, kerupuk yang dicampur udang, telur, taoge, dan saos kacang. Porsi seharga Rp9000 itu pun mampu membuat saya agak kenyang dan siap membuat saya melanjutkan perjalanan.

Akhirnya sampai juga. Lawang Sewu terletak di tengah kota yang berdekatan dengan Tugu Muda (Tugu yang dibangun untuk memperingati Pertempuran Lima Hari antara Semarang dengan Jepang) dan ternyata berdekatan dengan Gereja Katedral tadi. Saya pun masuk ke Lawang Sewu dengan membayar karcis seharga Rp10.000 di pintu gerbangnya. Sedikit cerita, menurut sejarah, Lawang Sewu merupakan kantor perkeretaapian milik Belanda yang bernama Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Gedung yang dibuat dari tahun 1904-1907 disebut Lawang Sewu oleh masyarakat setempat karena memiliki pintu yang sangat banyak meskipun pada kenyataannya pintu yang ada tidak sampai seribu. Sekarang gedung tersebut dijadikan salah satu objek wisata Kota Semarang dan bisa juga digunakan sebagai tempat pertemuan. Pada waktu saya pergi kesitu, sehari sebelumnya sempat diadakan pertemuan salah satu partai besar dImageIndonesia.

Di pelataran depan gedung tersebut terdapat gerbong depan kereta api zaman dulu seperti kereta uap. Kini gerbong depan tersebut menjadi monumen untu mengenang zaman perkeratapian kuno. Setelah foto-foto disitu, saya melanjutkan perjalanan ke dalam gedung. Di tengah gedung tersebut terdapat suatu halaman yang sangat luas dan dikelilingi beberapa gedung juga. Ternyata, meskipun dari luar gedung Lawang Sewu hanya terlihat memiliki satu gedung saja, Lawang Sewu memiliki beberapa gedung di dalamnya. Untuk mengetahui sejarahnya dan apa saja yang ada di Lawang Sewu, saya tidak menggunakan tour guide, melainkan ikut nebeng dengan suatu grup yang menggunakan jasa tersebut. lumayan…gratis…hehehe…saya pun mendapat berbagai penjelasan tentang gedung lawang sewu ini yang betul-betul menarik. Jika Anda ingin mengetahui kisahnya seperti apa silahkan datang langsung ke Lawang Sewu. Tidak seru jika diceritakan lewat tulisan. He  he he.

Setelah berkeliling di lantai tengah dan atas, kini tour guide mengarahkan kami ke ruangan bawah tanah. Ruangan ini pernah digunakan oleh salah satu stasiun TV untuk menyelenggarakan acara reality show. Pasti semuanya tahu bukan? Di ruangan bawah tanah ini saya memutuskan untuk menggunakan guide sendiri dengan membayar upeti sebesar Rp30.000,00. Sebelum turun ke bawah tanah, kita harus mengganti alas kaki dengan boots khusus karena di bawah tanah tersebut dipenuhi dengan air. Tinggi air tersebut sekitar setinggi tulang kering kaki.Image

Tour guide menjelaskan bahwa ruang bawah tanah ini digunakan Belanda untuk drainase dan pendingin seluruh gedung. Jadi, air yang ditampung di bawah tersebut akan merambas ke dinding-dinding

Image

penopang gedung dan menghasilkan udara dingin di seluruh ruangan. Namun, ruang bawah tanah tersebut berubah fungsi saat zaman penjajahan Jepang, yakni sebagai tempat tahanan (penjara), tempat penyiksaan, bahkan tempat eksekusi. Sungai di sebelah gedung Lawang Sewu pun menjadi saksi tempat pembuangan mayat setelah dieksekusi. Mengerikan, sehingga tidak heran gedung ini dipenuhi dengan berbagai cerita horor. Tertarik???

Setelah puas mengitari Lawang Sewu sekitar 2 hingga 2,5 jam, saya melanjutkan perjalanan menyusuri ruas-ruas jalan utama Semarang. Saya mampir sebentar ke sebuah Mall untuk sekedar minum. Lanjut, kembali lagi berjalan menuju ke Paragon Mall. Tampaknya, itu adalah mall terbesar di Semarang. Disitu saya makan karena perut sudah tidak bisa berkompromi lagi. Singkat cerita, saya segera menuju hotel dan bersiap-siap kembali ke Surabaya dengan menggunakan kereta Kertajaya kelas ekonomi yang telah dipesan oleh panitia. Ternyata, saya mendapat kabar gembira bahwa Unika Widya Mandala Surabaya memperoleh gelar best speaker pada kompetisi tahunan tersebut. Congratulation to Putri Makmur!

Fiuuuhhh,,,jam sudah menunjukkan pukul 21.00 dan itu artinya kami harus segera bergegas ke stasiun kereta untuk menunggu kereta api yang akan membawa kami pulang. Pengalaman di Semarang adalah pengalaman yang tidak terlupakan. Berbagai kejadian seru saya alami disana. Tapi, itulah backpacker. Prinsip praktis, ekonomis dan kreatif harus kita punya agar bisa menikmati perjalanan dengan seru…Sampai jumpa di kota berikutnya…yey!!!

Image

One thought on “Petualangan di Kota Atlas, Semarang – Part 3 (Pelesiran di Kota Atlas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s