Petualangan di Kota Atlas, Semarang – Part 2 (Go WM!!! Menyisir Malam Semarang)

 

            Let’s Begin the Adventure…

Pukul 05.30 bunyi alarm membangunkan saya dari tidur yang kurang lelap itu. Kemudian, saya langsung menuju kamar mandi yang berukuran 1×1.5 m tersebut dan mandi. Udara dingin menyusup kulit kala air membasahi badan saya. Hari ini, saya memiliki agenda untuk mendampingi rekan-rekan yang akan bertanding debat dalam rangka Psychology Debate Competititon yang diadakan oleh Unika.

            ImageDari info rekan-rekan saya di Semarang, mereka menginap di sebuah penginapan tidak jauh dari hotel tempat saya menginap. Jika tidak salah ingat, tempat penginapan mereka bernama Diklat Pelatihan dan Pengembangan Gedung Sumbing. Ternyata memang, tempat penginapan mereka tidak jauh dari hotel saya itu. Cukup berjalan kaki sekitar 5 menit, saya sudah sampai di pintu gerbang Diklat tersebut. Cukup menyenangkan juga menyusuri area Diklat tersebut, meskipun untuk menuju ke Gedung Sumbing tersebut membutuhkan waktu berjalan sekitar 10-15 menit. Di sekitar Diklat tersebut terhampar berbagai pepohonan hijau yang rindang nan sejuk, diiringi kicauan burung-burung. Suatu pengalaman yang mungkin tidak bisa didapatkan di Surabaya. Oh ya, udara pagi yang saya rasakan di Semarang, sangat berbeda dengan di Surabaya. Meskipun sama-sama kota besar dan penting di Jawa, udara di Semarang masih lebih sejuk dibandingkan dengan di Surabaya.

            Tidak terasa, saya sudah sampai di Gedung Sumbing tersebut. Memang areal Diklat tersebut biasa digunakan sebagai tempat penginapan. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya orang yang memenuhi areal Diklat tersebut dengan bus-bus yang bertuliskan beragam acara seperti Training ini dan itu, serta Program-program Outbond lainnya. Sesampainya, disana, ternyata, para peserta lomba tersebut belum bangun. Begitu pula dengan rekan-rekan saya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 06.30.

Singkat cerita, akhirnya saya bertemu dengan mereka. Benar, mereka tampak lelah dan sakit. Tapi, semangan lomba mereka tetap tinggi meskipun juga telah menelan kekalahan pada hari pertama berlaga. Setelah bertemu mereka, saya memutuskan untuk mencari penginapan lagi, sementara mereka bersiap untuk pergi ke Unika. Dengan demikian, gathering point kami yaitu di Unika nantinya.

Beruntung saya kenal dengan seorang bapak yang bekerja di sana. Sehingga, saya tidak perlu berjalan kaki lagi untuk keluar ke jalan raya. Saya diantarkan Bapak tersebut dengan menggunakan sepeda motornya. Sesampainya di jalan raya, saya menggunakan angkot dengan jurusan Johar Tawang. Saya tidak tahu arah angkot tersebut. Tapi, namanya juga backpacker. Modal berani saja sih…Saya memilih untuk duduk di depan bersebelahan dengan sopir angkot tersebut agar memudahkan saya mencari informasi terkait akomodasi di Semarang ini.

Malu Bertanya Sesat Dijalan, Berani Bertanya Berani Merogoh Kocek Lebih.

Sepertinya, ungkapan tersebut sangat cocok bagi kita sebagai pendatang jika berkunjung di suatu kota. Beruntung bapak sopir yang mengantarkan saya itu mau menjelaskan tentang akomodasi dan berbagai rute angkot di Semarang. Saya sendiri tidak kesulitan untuk bertanya karena sudah berpengalaman juga tentang angkot…he he he. Begitu baiknya, hingga ia mengantarkan saya berkeliling hingga di ujung Tawang Pasar Johar. Tapi, kebaikan tersebut tidak semata-mata karena pure kebaikan. Harus ada yang menggantikannya, yaitu tip yang lebih mahal. Saya merogoh kocek sebesar Rp8000,00 untuk membayar angkot dibandingkan dengan tarif biasa yaitu Rp3500,00. Tarif biasa itu pun diketahui setelah saya naik angkot kembali, dari arah Unika menuju kos tanpa bertanya ke angkot. Tampaknya, kita akan dikenakan biaya lebih tinggi jika kita menunjukkan gelagak tidak mengetahui pasaran harganya.

Sesampainya di daerah Tawang, saya menuju ke sebuah hotel yang bernama Pelangi Indah. Hotel ini terletak berseberangan dengan Stasiun Tawang. Ditengah-tengahnya terdapat sebuah kolam yang lebih mirip penampungan air yang cukup besar. Paling tidak sangat sesuai untuk berolahraga pagi seperti jogging mengitari kolam tersebut. Saya memuatnya di foto-foto berikut.

ImageHotel Pelangi Indah tampaknya menjadi salah satu hotel pilihan yang bagus untuk backpacker. Hotel ini bisa saya rekomendasikan sebagai hotel berkualitas dari segi harga dan pelayanan. Sama seperti hotel lainnya, Pelangi Indah juga memiliki berbagai variasi harga kamar. Harga yang ditawarkan yaitu dari Rp85.000 hingga Rp320.000. Semuanya memiliki fasilitas AC dan kamarnya sangat bersih. Saya hendak memilih kamar yang paling murah, namun, sudah penuh. Dengan demikian, saya memilih untuk memesan kamar seharga Rp120.000 dengan fasilitas kamar tidur yang lebih besar dan kamar yang lebih luas. Ini baru namanya kamar yang worthied bagi backpacker. Murah, bersih, dan nyaman. Satu hal yang kurang dari hotel ini adalah kamar mandinya terpisah dari kamar. Jadi kita harus berjalan sekitar 5 meter dari kamar untuk mendapatkan kamar mandi yang menyatu dengan toilet ini. hotel berlantai tiga ini memiliki view yang menarik yang terdapat pada lantai paling atasnya. Jika naik ke atas, kita bisa melihat pemandangan kota Semarang Tua yang berhadapan juga dengan kawasan industri Semarang. Bisa dilihat di foto-foto berikut. Hotel Pelangi Indah ini bisa saya rating 4.5 dari 5 untuk hotel bintang tiga ini.

Setelah berbenah dan beristirahat sebentar, saya hendak ke Unika untuk menemani rekan-rekan disana. Sebenarnya saya ingin menggunakan angkot saja sekaligus menikmati pagi Semarang. Namun, karena keterbatasan waktu ditambah lagi jarak dari Tawang ke Unika yang bisa dibilang cukup jauh (kira-kira jarak dari Mall Royal Plaza Surabaya menuju daerah Kenjeran), saya terpaksa menggunakan taksi lagi. Sesampainya disana, rombongan peserta lomba ternyata belum tiba sehingga saya harus menunggu kira-kira 30 menit lebih. Sesampainya mereka, tim debat Psikologi Widya Mandala akan melakoni laga terakhir melawan Unaki (Universitas Aki, sebuah universitas swasta asal Semarang). Sayangnya, saya tidak bisa melihat secara langsung laga tersebut. Saya hanya bisa mendoakan mereka agar bisa memenangi laga terakhir tersebut.

Seusai lomba, kami berkumpul di areal Fakultas Hukum yang berada di bawah gedung Fakultas Psikologi untuk membahas berbagai hal terkait lomba tersebut dan sharing pengalaman dengan rekan mahasiswa psikologi Unika. Saya juga sempat mengadakan reuni singkat dengan seorang pendamping waktu tim saya berlomba sekitar 2 tahun lalu.

Ada suatu hal yang sangat menarik dan bisa menjadi sharing pengalaman bagi Fakultas Psikologi Widya Mandala, yaitu terkait pencarian dana kegiatan mahasiswa. Rekan-rekan Unika memiliki banyak cara kreatif untuk mendapatkan dana, seperti jual sesuatu seperti makanan ataupun pernakpernik, hingga mengamen berkelompok dengan memainkan berbagai macam alat musik seperti gitar ataupun biola. Ada dua hal positif disini yaitu, bisa meringankan beban anggaran lewat dana yang diperoleh serta menjadi sarana bagi para mahasiswa untuk menyalurkan hobi dan bakatnya. Mungkin suatu waktu, kita bisa mengadakan pertukaran mahasiswa antara Unika dengan WM. ^^

Setelahnya, saya melanjutkan berkeliling kota Semarang sementara itu rekan-rekan yang lain ikut dalam kegiatan yang dijadwalkan panitia. Saya tidak bisa ikut karena tidak terdaftar sebagai pendamping resmi…lagian, tujuan utama saya ke Semarang kan ingin menjenguk Tuan Putri (salah seorang peserta lomba WM) yang lagi sakit…he he he…

Tapi, sepertinya, kasur adalah pilihan tepat sebelum melakukan perjalanan lebih jauh lagi. Kamar hotel di kawasan Setyabudi kemarin tidak mampu menyegarkan badan saya dari rasa letih akibat perjalanan tiba-tiba dari Surabaya-Semarang. Saya pun kembali ke hotel dengan menumpang angkot, dan disinilah saya mengetahui bahwa tarif sebenarnya adalah Rp3500,00 untuk rute Unika – Tawang.

Semarang di Malam Hari – Hingar Bingar Kota Lunpia

            Alarm membangunkan saya tepat pukul 16.30. Rencana saya semula yang akan mengadakan tour de Semarang sempat tertunda akibat hujan yang cukup lebat mengguyur Tawang. Saya pun hanya mandi saja, dan mengerjakan beberapa pekerjaan dalam kamar sembari menunggu hujan reda.

Namun, tampaknya hujan tidak akan reda da da…jika begini terus, kesempatan saya untuk berkeliling Semarang akan hilang donk. Begitu pikir saya. Dengan bermodal nekat pun, saya menerjang hujan dengan menggunakan becak. Becak adalah pilihan yang tepat karena dengan becak kita bisa menikmati suasan Semarang lebih dalam. Meskipun begitu, kita harus merogoh kocek lebih serta kemampuan negosiasi yang cukup tinggi agar supaya Bang Becak mau mengantarkan kita berkeliling Semarang.

Tujuan pertama saya adalah Simpang Lima. Simpang Lima di malam hari terkenal dengan food festivalnya. Tidak seperti food festival resmi, namun, di sekeliling simpang tersebut terdapat banyak rombong makanan ataupun kedai makanan khas Semarang. Tidak sedikit pula menu yang sudah biasa ditemui di Surabaya, seperti penyetan ataupun bakso. Sayang, dari pilihan yang begitu banyak itu, saya tidak menemukan menu yang cocok. Saya pun diantarkan Bapak Becak ke rumah makan ayam kampung khas Semarang. Saya lupa nama rumah makannya. Namun, dengan seharga Rp15.500,00 kita sudah bisa memperoleh sepaket ayam kampung plus nasi dengan rasa yang bisa saya bilang ciamik! Enak! Apalagi sambelnya…behhh….Jika Anda berkunjung ke Semarang, bilang saja ke siapapun yang mengantarkan Anda, Anda ingin makan ayam goreng khas Semarang.

Setelahnya, saya diajak Abang Becak untuk mengitari Semarang dan kami pun menuju ke restoran tempat jual lumpia yang katanya paling sedap di Semarang. Namanya Lumpia Ekspress. Dari segi harga, rata-rata harga lumpia Semarang dipatok dengan harga Rp10.000,00 per biji untuk yang biasa, dan Rp15.000 untuk yang ada kepitingnya. Enaknya, Lumpia Ekspress menyediakan jasa delivery ke hotel, jadi saya memesan lumpia untuk keesokkan harinya untuk dijadikan oleh-oleh. Yes!!!

Jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Saya pun kembali ke hotel untuk bersiap menghadapi besok, hari terakhir di Semarang. Syukurlah juga, rekan-rekan saya sudah lumayan berada dalam kondisi yang agak sehat. Meskipun beberapa di antara mereka masih batuk dan demam.

To Be Continue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s