Petualangan di Kota Atlas, Semarang – Part 1 (Semarang Undercover)

 

Backpacker! Ya!  Banyak kejadian seru dan berbagai pembelajaran yang saya dapatkan ketika berada di Semarang selama 3 hari. Perjalanan saya berawal ketika ‘someone’ saya yang sedang mengikuti lomba debat psikologi sakit keras disana. Sepulang kerja, saya langsung meluncur ke Kota Lunpia dengan menumpang kereta Sembrani jurusan Pasar Turi – Tawang (18.25 – 23.30). Saya mendapat kelas eksekutif dan duduk di gerbong paling belakang. Beruntung karena gerbong tersebut tidak begitu ramai sehingga saya pun bisa tidur dengan aman. Meskipun demikian, perasaan saya sedikit was-was karena petugas kereta api tidak memberitahukan stasiun apa saja saat kereta api berhenti. Dengan demikian, saya harus sigap terjaga ketika kereta berhenti di suatu stasiun untuk memastikan saya tidak kelewatan stasiun. Beruntung ada GPS yang senantiasa menuntun saya selama perjalanan tersebutImage.

            Sesampainya di Tawang, saya tidak tahu harus kemana. Dengan bermodal alamat dari teman-teman di Semarang dan GPS dari Ipad, saya langsung meluncur ke arah Jl. Setyabudi dengan menggunakan taksi. Paling tidak saya harus mencari tempat untuk tidur malam ini. Pilihan untuk bermalam pun jatuh di sebuah hotel yang, ya, bisa dibilang kurang worthied bagi mereka yang sengaja berwisata, tapi sebuah penginapan yang ‘wah’ bagi seorang backpacker. Hotel ini saya peroleh dari hasil googling di berbagai situs pariwisata tentang kota Semarang.

Hotel Setyabudi – Harga Berbanding Lurus dengan Kualitas

            Saya bisa menemukan Hotel Setyabudi dengan mudah karena hotel yang lebih mirip rumah ini terletak pas di pinggir jalan. Setelah saya membayar argo taksi seharga Rp50.000,00, sopir taksi berkata apakah saya yakin dengan hotel yang akan yang tempati malam ini. Ia berkata bahwa hotel ini digunakan sebagai tempat esek-esek. Ya, tidak bisa dipungkiri hotel ini sepertinya digunakan untuk hal-hal demikian. Mengapa tidak? sesaat saya turun, seorang wanita berdandan menor yang berumur kurang lebih 50-60 tahun ini sigap menyambut saya. “Ko, pijat ya ko?” Sontak saya terkejut dengan pertanyaan ibu itu yang mungkin pantas saya panggil dengan sebutan ‘oma’ itu. “Ohhh, tidak…Ibu.” jawab saya dengan terbata-bata  karena khawatir salah memanggil dengan sebutan oma tersebut. “Saya hanya butuh tempat nginap untuk malam ini.” timpal saya. Ia pun mengangguk mengerti dan segera memanggil seseorang di sebuah warung kopi yang terletak tidak jauh dari hotel tersebut. Saya pun melempar pandangan ke sekeliling hotel tersebut. Sunyi…Sepi…di halaman hotel yang tidak begitu luas itu hanya terdapat sekitar dua-tiga sepeda motor yang diparkirkan disitu. Begitu pula dengan ruang hall (ya mungkin saya tidak bisa mengatakan itu ruang hall, karena begitu sempit tanpa ada penerangan apapun) yang begitu tidak worthied jika disebut sebagai sebuah hall hotel.

            Wanita tua yang tadi memanggilkan seseorang tersebut memberitahukan kepada saya bahwa si empunya hotel sedang menuju kesini. Beberapa saat kemudian, saya melihat seorang pria berambut grondong, dengan hanya menggunakan kaos oblong dengan celana jeans yang agak sobek (entah jeans yang sengaja dibolongkan atau memang modelnya) meghampiri dan membimbing saya ke meja resepsionis. Di meja tersebut saya melihat daftar harga kamar yang bervariasi dari harga Rp80.000,00 hingga Rp120.000,00. Saya kurang begitu bisa melihat apa yang membedakan harga kamar tersebut. Tapi, saya yakin itu terkait dengan fasilitas yang disediakan. Saya langsung memilih kamar dengan harga termurah dengan pertimbangan, saya hanya menumpang memenjamkan mata sebentar sebelum melanjutkan perjalanan saya. Waktu itu jam menunjukkan pukul 00.30 dini hari. Setelah membayar kamar tersebut, saya diantar pria tersebut masuk ke dalam hotel dan memang hotel tersebut sepi. Ia pun mempersilahkan saya untuk memilih kamar yang hendak saya tempati. Berbeda dengan hotel lain dimana kamar kita ditentukan oleh pihak hotel, disana, kita bisa memilih kamar-kamarnya. Saya pun langsung memilih kamar nomor 6 karena dekat dengan pintu keluar. Kamar tersebut kira-kira berukuran hanya 4×3 m. Kecil dan mini meskipun terdapat kamar mandi dalam. Penerangan yang ada pun minim. Begitu pula dengan tempat tidurnya yang sangat keras karena kasurnya pun hanya memiliki tebal kurang lebih 30-45 cm. Di kamar tersebut juga terdapat sebuah meja dan kursi serta untuk pendingin udara, hanya menggunakan kipas angin gantung. Tidak punya pilihan lain. Lagipula, dana saya terbatas, dan inilah sensasi backpacker, bukan?

            Setelah merapikan barang-barang dan mencuci badan, saya pun bersiap untuk tidur. Tapi, keadaan kamar yang seperti itu membuat saya tidak bisa tidur dengan pulas. Saya pun memutuskan untuk bermain dengan Ipad saya sebelum memutuskan untuk mencari udara malam di luar. Lagipula, sepertinya perut saya tidak bisa berkompromi lagi karena dari tadi sore sepulang kerja, saya belum memakan apapun. Semarang di malam hari agak berbeda dengan Surabaya di malam hari. Paling tidak, suasana itu yang nampak dari kota Semarang Atas tepatnya di daerah Jalan Setyabudi. Meskipun masih banyak kendaraan yang lalu lalang disitu tapi volume kendaraan malam tidak sebanyak di Surabaya. Kemudian mata saya tertuju pada rombong nasi goreng dekat warung kopi tadi. Saya bergegas kesana dan memesan sebungkus nasi goreng dengan harga Rp9.000,00. Setelah selesai, saya kembali ke hotel dan ternyata di depan gerbang hotel tersebut, wanita tua tadi masih duduk-duduk di dampingi seorang wanita yang kira-kira berumur 30 tahunan. Kembali lagi ia mengajak saya untuk pijat. Tampaknya benar, ada sesuatu di situ…hmmm…Dengan halus, saya kembali menolak dengan alasan, saya hanya ingin menginap saja. begitu sampai di kamar, saya langsung melahap habis sebungkus nasi goreng yang ternyata tidak kalah dengan langganan nasi goreng di Surabaya. Enak!

            Saya pun berpikir untuk tidur sebentar, karena memang mata saya juga sudah tidak bisa berkompromi lagi. Namun, ternyata, keadaan kamar yang seperti itu membuat saya kembali terjaga. Kali ini saya sependapat dengan ungkapan, Harga Berbanding Lurus dengan Kualitas. Saya pun memutuskan untuk keluar untuk mencari angin segar. Di depan hotel, kedua wanita tersebut masih duduk-duduk disitu. Saya berasumsi bahwa mereka sedang menunggu ‘para tamu’ yang sedang membutuhkan kehangatan malam Semarang. Memang pada awalnya ada perasaan takut dan was-was, tapi, saya ingin menggunakan skill observasi dan interview yang telah dipelajari di bangku perkuliahan. Lumayan, anggap saja ini adalah sebuah penelitian singkat tentang kehidupan PSK, bukan?

Malam Pertama Ditemani Oleh PSK – “Memang ini tidak halal, Mas. Tapi, jika orang atas tetap korupsi, bagaimana dengan kesejahteraan kami?” 

“Permisi, boleh saya duduk disini? Tanya saya kepada wanita yang lebih muda daripada satunya. Saya pun duduk di trotoar pinggir jalan dan mengamati di sekeliling Jl. Setyabudi yang masih dipenuhi oleh hingar bingar kendaraan bermotor.

            “Iya, silahkan.” Jawab wanita sembari kembali menghisap LA Light-nya tersebut. “Sendirian? Mana nih ceweknya?” tanyanya lebih lanjut.

            “Ohhh, iya. Saya sendirian saja.” jawab saya singkat. Keadaan tersebut masih beku meskipun pelan-pelan mencair dengan sendirinya akibat obrolan-obrolan kami. Ternyata benar, mereka berprofesi sebagai, hmm, mari kita sebut sebagai Sales Eksekutif Malam (SEM).

“Mas darimana? Kok sendirian saja?” Tanyanya tanpa ada nada suara untuk menggoda seperti SEM-SEM lainnya yang selama ini kita stereotipekan.

“Saya dari Surabaya. Disini ada keperluan saja sebentar. Habis itu balik lagi.” Jawab saya kemudian.

“Ooo. Surabaya toh.” Jawabnya singkat. Obrolan kami pun berlanjut dan membahas berbagai hal dari hal yang umum seperti keadaan dan pariwisata kota Semarang hingga penjelasan yang mengarah tentang profesi mereka. Selama ini, saya hanya mengetahui dari berbagai teks book bahwa profesi ini begini dan begitu. Ternyata, banyak hal yang saya peroleh dari obrolan kami tersebut terkait dunia SEM. Mereka yang menawarkan jasa pijat sekaligus pijat xxx mematok harga sekitar Rp100.000,00.

“Apakah tarif demikian masuk kategori murah atau mahal?” Tanya saya.

“Saya tidak tahu apakah murah atau mahal. Tapi, jika lebih dari itu, mana ada yang mau? Susah kalo kita tinggiin harganya gak ada yang mau sama kita.” Kata ibu tersebut. Saya sendiri tidak mengerti tentang tarif dasar jasa mereka, tapi, dari berbagai artikel yang saya baca, rata-rata tarif di bisnis tersebut terlampau tinggi, bahkan ada yang sampai jutaan. Hmm…Info baru bukan? Selain itu, mereka tidak seperti yang selama ini kita asumsikan bahwa bisa dibawa kemana saja.

            “Gak, mas. Saya dan ibu yang di sebelah situ (sambil menunjuk wanita tua yang dari tadi saya ceritakan) tidak mau kalo ada tamu yang ngajak pergi. Mending disini aja, langsung eksekusi. Soalnya kami takut kalo diapa-apain sama tamu itu. Pernah tu, ibu yang itu diajak pergi, ehh, gak tahunya dia malah dirampok. Gimana bisa ngelawan kitanya. Atau gak, awalnya yang jemput satu. Ehh gak tahunya dijalan, mereka rame-rame make kita.” Jelas wanita tersebut dengan tatapan kosong menghadap ke arah jalan.

            Wanita itu juga bercerita tentang alasan mengapa ia menjadi salah satu bagian dari bisnis malam ini. Ia bercerita bahwa memang kerjaan mereka adalah sesuatu yang tidak halal. Sebagai awam, kita memang seringkali menganggap profesi PSK atau kupu-kupu malam atau sejenisnya selalu dianggap sampah masyarakat. Ya! Tentu, hal ini melawan norma kesusilaan serta dianggap sebagai dosa. Di sisi kesehatan, mereka pun dituding sebagai penyebar berbagai penyakit kelamin. Oleh sebab itu, tidak heran jika mereka pun seringkali menjadi sasaran cibiran tetangga, ataupun target pengejaran dari para, yaaa, saya tidak mau menyebutkan para petinggi itu. Banyak UU yang mengatur kebebasan berbicara di internet.

Bagi saya pribadi, memang profesi tersebut adalah profesi paling tua yang telah ada semenjak dulu kala. Secara norma susila pun tidak dianggap benar. Tapi, kita tidak boleh naif terhadap suatu alasan yang sering kali didengungkan oleh para pelaku bisnis esek-esek ini…Ya…Ekonomi. Tuntutan hidup yang semakin berat disertai pula lonjakan harga kebutuhan pokok yang mencekik leher makin memotivasi mereka untuk tetap stay di bisnis lendir ini. Lebih lanjut wanita itu bercerita harus menghidupi anaknya yang sekolah, dan berbagai kehidupan rumah tangga lainnya. Sepertinya, tidak ada pilihan lain untuk mendatangkan uang lebih cepat daripada bisnis ini. yes!

“Ya. Kalo berapa jumlah tamu sih tidak tentu, ya mas. Kadang 3 kadang empat. Kadang bahkan tidak ada sama sekali.” Terang wanita tersebut sambil kembali menyalakan rokok LA-Light miliknya itu.  

Jika kita logika, bisnis ini sangat cepat menguntungkan uang. Cukup sekali melayani tamu, mereka langsung mendapatkan uang Rp100.000,00 bahkan lebih tergantung tip yang diberikan para tamu tersebut. Itu hanya satu tamu, bagaimana jika dalam satu malam mereka mendapatkan 3-4 tamu? Coba kita berhitung sejenak…

Misalnya, dalam satu hari, ia mendapatkan minimal 1 tamu. Dan satu tamu tersebut memberikan Rp100.000,00. Berarti, dalam 30 hari, ia sudah mendapatkan 3 juta rupiah. Jauh melampaui UMR Surabaya yang bernilai 1,750 atau pun UMR Semarang sebesar 1,2 juta rupiah.

Meskipun begitu, mereka pun menyadari bahwa bisnis ini tidak sehat, juga tidak halal. Tapi, mereka memiliki alasan tersendiri. Ya ekonomi tadi. Tapi, sekali lagi, kita tidak boleh menganggap remeh pemikiran mereka loh. Ibu tersebut berpendapat, sebenarnya Indonesia ini adalah negara yang kaya. Lihat saja berbagai sumber daya yang kita punya. Bisa kita gunakan. Selain itu, pemerintah juga bisa menggunakan mereka sebagai tenaga untuk mengolah sumber daya tersebut. namun, sayangnya ada suatu virus yang lebih berbahaya dari HIV AIDS ataupun raja singa… KORUPSI!!! Lebih lanjut, ia menyatakan memang para kaum berdasi di ‘atas’ saat kampanye dengan manisnya menawarkan janji-janji yang menyejukkan telinga. Namun, setelah terpilih…Wuuussshhh… “Elo siapa?” mungkin seperti itu kira-kira yang ada di benak para kaum atas itu. Mereka seenaknya korupsi. Uang yang seharusnya bisa digunakan untuk memodalkan mereka untuk mendapatkan pelatihan dan ketrampilan kerja serta modal untuk membuka usaha, hanya digunakan untuk kepentingan sendiri. Itulah paling tidak ungkapan yang berulang kali ia nyatakan terkait alasannya memilih profesi tersebut. Memang alasan klasik yang sering kita dengar terkait motivasi seseorang memilih profesi kupu-kupu malam. Ironis memang, ‘orang atas’ berkoar-koar menyejahterahkan semua rakyat, tapi malah uangnya dikorupsi seenaknya. Jelas saja banyak profesi seperti pemulung, pengamen hingga prostitusi kian menjamur di berbagai daerah di tanah air.

            Suatu pemikiran yang tidak saya duga keluar dari mulut seseorang yang selama ini dianggap tidak berguna oleh sebagian masyarakat kita. Meskipun terkesan normatif, pemikiran ibu ini mengisyaratkan bahwa ia pun concern terhadap pekerjaanya. Ia memiliki alasan tersendiri mengapa ia berprofesi demikian, meskipun terkesan klasik. Tapi yasudah. Saya hanya berharap, mereka pun bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di kemudian hari dan sangat berterima kasih atas berbagai sharing yang mereka berikan. Hmm…

Mata saya pun sudah tidak bisa berkompromi lagi. Saya kembali ke kamar, dan berusaha untuk tidur meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 03.30. paling tidak, saya memiliki kurang lebih 2 jam lebih untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya…

To Be Continue…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s