1 Minggu Menuju UNAS: Carikan Pena Dari Seorang Pengajar

soal un sma

UNAS sudah bukan hal baru bagi para pelajar kelas 6 SD, IX dan XII. Meskipun begitu, tidak sedikit dari para pelajar menjadikan UNAS sebagai momok yang menakutkan. Mengapa? Ya, UNAS menjadi salah satu penentu (selain ujian sekolah) apakah si pelajar bisa melanjutkan ke tingkat pendidikan selanjutnya atau tidak. Dengan demikian, hal ini mendorong para siswa untuk makin menempa diri dalam mempersiapkan UNAS, seperti mengikuti penyaaan di sekolah, memanggil guru privat hingga ikut lembaga bimbingan belajar. Demi satu kata…Lulus.
Berbagai fenomena menghiasi pelaksanaan UNAS. Misalnya, penggunaan kunci jawaban ataupun berbagai kecurangan lainnya. Banyak pihak yang menyatakan hal tersebut mengakibatkan terjadinya reduksi esensi UNAS. Dengan demikian, jika kemudian terjadi reduksi esensi dari UNAS itu sendiri, apakah UNAS masih tetap layak untuk dilanjutkan atau tidak? Esensi UNAS yang tereduksi hingga kelayakan penyelenggaraan UNAS sudah menjadi santapan tiap tahun lewat diskusi para akademisi hingga awam. Kenyataannya, UNAS tidak pernah tidak dilaksanakan. Meskipun pada kenyataannya UNAS menghadirkan sejumlah kontroversi, ujian tahunan ini akan tetap dilaksanakan.
Apa saja yang langsung terlintas di benak kita jika mendengar kata UNAS? Mungkin saja penentu kelulusan, atau sesuatu yang sulit, bahkan ada juga yang menyatakan, kunci. Kunci? Kunci jawaban UNAS menjadi suatu hal yang tak terpisahkan dari tradisi UNAS. Meskipun telah mempersiapkan dengan baik melalui sejumlah persiapan, tidak sedikit para pelajar yang masih saja menggunakan kunci jawaban untuk mengerjakan soal-soal yang rata-rata berjumlah 40 nomor itu. Alasannya sederhana, “Ya, supaya bisa memastikan kita lulus UNAS” seru seorang murid saya pada saat proses KBM dalam kelas. Tidak heran jika para pelajar berpikir seperti itu. Logika berpikir yang muncul (entah tepat atau tidak) adalah, “masaa belajar selama 6 tahun (bagi SD) dan 3 tahun (bagi SMP dan SMA) hanya ditentukan oleh 3 hari saat UNAS?” ya masuk akal juga. Okelah UNAS bisa menjadi alat evaluasi apakah si pelajar tersebut sudah belajar sesuai target dalam kurikulum atau tidak selama ia sekolah. Tapi, kita jangan NAIF mengatakan kunci jawaban adalah hal yang haram.
Ha ha ha…jadi, apakah saya mendukung proses ‘kecurangan’ tersebut? sorry to say, jika dari sisi humanis siswa, ya, bisa dikatakan mendukung, karena UNAS kurang bisa menjadi salah satu penentu utama para pelajar sudah mengerti atau tidak materi yang diajarkan selama 3 tahun sekolah. Selain itu, saat mengerjakan UNAS, mungkin saja para peserta berada dalam kondisi tidak optimal, ataupun mengalami distress. Ketika hal itu terjadi, berkemungkinan besar peserta tersebut tidak lulus sekolah dan harus mengulangi tahun depan. Tapi, dari sisi policy, saya tidak setuju. Segala bentuk kecurangan adalah salah. Termasuk penggunaan kunci jawaban saat UNAS. Jadi, what I stand for?
Sebagai praktisi di dunia pendidikan, yang bisa kita lakukan bukannya berdebat apakah UNAS perlu dilaksanakan atau tidak. Pemerintah lah yang berhak menjalankan kebijakan tersebut. Tugas kita cukup memberikan yang terbaik bagi para pelajar dalam hal ini materi pelajaran, berbagai latihan soal, dan segala macam. Termasuk juga proses pendidikan untuk tidak menggunakan kunci jawaban. Tapi, jika kemudian para pelajar tidak menggunakan kunci tersebut, kita tidak boleh naif, karena sistem pun kurang mendukung. Dalam arti, pihak sekolah sebagai penyelenggara UNAS harus benar-benar optimal dan profesional dalam pengawasan pelaksanaan UNAS. Begitu pula pihak independen yang selama ini mengawasi jalannya ujian. Nah, pertanyaannya, apakah pihak sekolah siap jika ada para pelajarnya yang kemudian tidak lulus? Apakah citra sekolah tidak tercoreng? Nah, itulah mengapa saya katakan kita tidak boleh naif.
UNAS tidak hanya berperan sebagai alat evaluasi siswa, melainkan pula menjadi alat evaluasi kualitas sekolah, hingga pihak pemerintah tempat sekolah itu berdiri. Logika sederhana yang muncul adalah jika sekolah A bisa meluluskan pelajarnya 100%, pasti akan meningkatkan citra sekolah, dengan demikian, makin banyak siswa yang masuk ke sekolah tersebut. Kemudian, pemerintah sebagai agen yang mengsupport penyelenggaraan pendidikan juga bisa mendapatkan ‘nama’. Pada akhirnya, ‘nama’ ini bisa menjadi modal yang kuat bagi pemerintahan tersebut untuk maju ke putaran pemilihan umum berikutnya. Di lain pihak, ketika sekolah tidak bisa meluluskan pelajarnya 100%, bisa saja berpengaruh terhadap daya tarik siswa-siwi lain untuk masuk ke sekolah tersebut. Begitu juga akan berpengaruh terhadap pemerintahan tempat sekolah itu berdiri.
Saling terkait bukan??? Oleh sebab itu, apakah pelaksanaan UNAS yang penuh dengan polemik ini tetap dilaksanakan meskipun tereduksi esensinya sebagai alat evaluasi siswa???…no body knows…
Just be the best for educating, praying for them, and let the God do the rest…1 minggu lagi menuju UNAS SMA…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s