SAY NO TO PREGNANCY, NOT TO FREE SEX

 

            Judul di atas menimbulkan banyak makna, bukan? Ya, secara harafiah, judul tersebut bisa diterjemahkan sebagai “Katakan Tidak pada Kehamilan, Bukan Pada Sex Bebas”. Makna yang muncul adalah boleh sex bebas, tapi jangan sampai hamil ataupun jangan hamil ataupun sex bebas. Tapi, bukankah itu adalah suatu realitas di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama ini kita banggakan?

            Sex bebas merupakan fenomena yang lazim terjadi. Lazim, suatu kata yang identik dengan ‘kebiasaan’ atau ‘sudah sering terjadi’, merefleksikan kasus sex bebas yang memang sudah sering terjadi. Seperti yang dituliskan dalam Tribun-Medan edisi Senin, 4 Maret 2013 dengan judul artikel “Masalah Seks Bebas di Aceh Makin Serius”, yaitu praktik seks bebas diduga dilakoni 70 persen Kota Lhokseumawe, sebagaimana hasil riset Dinas Kesehatan Aceh Tahun lalu. Sementara itu, dari artikel yang dimuat dalam Solopos.com edisi 11 Februari 2013 tentang “Tinggi Kasus Remaja Terjerat Seks Bebas dan Narkoba” dituliskan hasil survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2011, 51 dari 100 remaja di kota besar tidak perawan lagi. Jika diasumsikan, ketika remaja tidak perawan lagi, tapi ia belum terikat dalam perkawinan, maka stereotipe yang muncul adalah, mereka melakukan seks bebas.

            Berbagai dampak negatif pun sudah disodorkan oleh berbagai pihak, baik dari sisi spiritual, psikologis hingga sisi kesehatan. Peningkatan jumlah penderta HIV/AIDS serta penyakit kelamin lainnya dari tahun ke tahun tampaknya tidak menjadi momok bagi pelaku seks bebas. Ironisnya, para pelaku seks bebas yang juga menderita HIV/AIDS ini cenderung berada di usia produktif. Dari sumber humas.surabaya.go.id dirilis bahwa 89 persen penularan HIV/AIDS adalah akibat seks bebas dan sebanyak 62,7 persen yang menjadi pengidap berada di usia produktif, yait 20-39 tahun. Namun, pada artikel ini, saya tidak akan membahas siapa yang mendominasi perilaku seks bebas tersebut, karena sama saja, baik itu remaja, dewasa awal, hingga dewasa akhir.

Tentu, banyak upaya telah dilakukan oleh berbagai pihak guna menurunkan perilaku seks bebas ini. Berbagai sosialisasi, pelatihan tentang kesehatan reproduksi, tindakan sosio-represif seperti mempermalukan pelaku di depan umum, hingga undang-undang seperti UU Nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi dan KUHP pasal 284 tentang perzinahan tidak berpengaruh terhadap naiknya angka seks bebas di tanah air. Pertanyaannya adalah, jika ini suatu hal yang lazim terjadi serta berbagai upaya telah dilakukan dan pada akhirnya tidak memberikan dampak apa-apa, apa yang harus kita lakukan?

Teknologi Internet: Industri Pornografi yang Tidak Terselubung Lagi…

*maaf menyebut merk* Facebook dan Twitter merupakan suatu produk teknologi yang sangat baik. Berbagai peran positif di bawa oleh kedua jejaring sosial terbesar di Indonesia. Kita telah mengetahui berbagai peran positif mereka, tapi juga, pasti kita sudah bisa mengasumsikan berbagai dampak negatif dari hal tersebut.

Dalam suatu kesempatan mengakses kedua jejaring sosial tersebut, saya menemukan berbagai akun dengan profile picture yang katanya melanggar norma sosial. Gambar-gambar tersebut menunjukkan berbagai cuplikan adegan seks yang dilakukan oleh berbagai aktor dan aktris film biru. Tentu saja, it’s free to access. Naif bagi kita, jika mengatakan tidak mungkin hal itu dapat terjadi. Bahkan, siapa sangka di antara kita pernah mengomentari atau melakukan direct message kepada pemiliki akun tersebut, hayooo???

Selain itu, berbagai blog-blog pribadi ataupun situs-situs menyediakan berbagai materi adults plus baik paid system hingga free-to-download. Di sini kita bisa melihat berbagai peran teknologi yang kian menjadi industri pornografi yang sudah tidak terselubung lagi. Kenapa bisa dinamakan industri? Ya, karena di dunia internet tersebut, sudah tidak asing lagi terjadi transaksi jual beli materi-materi pornografi. Mengapa pula sudah tidak terselubung lagi? Ya, siapapun, kapanpun, dan dimanapun bisa mengakses berbagai hal tersebut meskipun katanya, pemerintah telah melakukan pemblokiran. Hal ini akan dibahas dalam artikel lainnya tentang industri pornografi: Situs dan Blog vs DVD/VCD.

            Dengan demikian, siapa saja bisa mengakses teknologi internet tersebut, dan mempraktekkan segala materi tersebut, yang pada akhirnya menuju ke seks bebas. Hal inilah yang menjadi salah satu roket pendorong tingginya angka seks bebas tersebut.

Industri Kondom: Sang Penolong Atau Sang Penjagal

            Menurut hemat saya, kondom dibuat untuk mencegah kehamilan pada pasangan suami istri yang belum merencanakan adanya momongan. Jika kita menilik dan mencari berbagai sumber, akan diperoleh bahwa kecenderungan saat ini bagi keluarga muda menunda untuk memiliki anak. Inilah menjadi salah satu pendorong industri kondom makin berlomba untuk menjaring konsumen. Bahkan kondom impor pun ‘membanjiri’ pasar Indonesia (detikfinance, edisi 2 Desember 2012)

            Tampaknya, target pasar yang di sasar industri tersebut agar menggeser dari pasangan suami istri menjadi pasangan ‘madu mentah’ alias pasangan bukan suami istri. Event-event tahunan seperti tahun baruan, valentine day ataupun berbagai pesta ulang tahun menjadi ajang bagi mereka yang cenderung bukan pasangan suami istri untuk melakukan seks bebas. Supaya tidak hamil, para pelaku tersebut sudah mempersiapkan kondom sebagai pengamannya. Kondom pun sangat gampang ditemukan baik yang dijual di apotek ataupun dijajakan di pinggir jalan.

Jadi…

Dari berbagai pernyataan di atas, apakah mungkin seks bebas itu bisa dihindarkan? Saya rasa kurang bisa. Bukan bentuk pesimis, tapi realistis. Berbagai teknologi telah berkembang, serta berbagai komponen mendukung terjadinya seks bebas tersebar dimana-mana. Yang bisa kita lakukan saya kira tetap sosialisasi, pelatihan-pelatihan dan sebagainya, tapi yang paling penting adalah mencegah kehamilan di luar nikah. Mengapa? Kecenderungan hamil di luar nikah akan membawa dampak psikologis yang berat bagi si pelaku serta bisa saja berujung pada aborsi. Daripada membunuh bayi, mendingan mencegah kehamilan bukan???

No Offence, just my opinion. Jika ada pihak yang merasa tersindir, tersakiti, or apapun saya mohon maaf karena saya hanya mencoba untuk memberikan opini terhadap apa yang kita sebut sebagai ke-lazim-an ini…So,  SAY NO TO PREGNANCY, NOT TO FREE SEX

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s