Katakan ‘IYA’ pada POLIGAMI DAN SELINGKUH?!

Polemik tentang poligami membawa kita ke beberapa persepsi. Meskipun demikian, fenomena ini tidak pernah bosan untuk diperbincangkan apalagi jika mengundang nama-nama besar di seantero tanah air ini. Seperti yang kita ketahui, poligami itu sering didefinisikan dalam istilah pernikahan, orang tidak menikah dengan satu pasangan saja entah itu suami yang memiliki lebih dari satu istri atau sebaliknya.

Saya sangat tertarik dan ingin mengutip sebuah artikel yang ditulis oleh seorang Kompasioner, dengan Url: http://sosbud.kompasiana.com/2012/03/24/poligami-itu-halal-note-perhatikan-tanda-bintang/  menyatakan begini,

“Hukum di halalkan nya poligami sebenarnya juga jelas-jelas di barengi dengan SYARAT DAN KETENTUAN yang banyak dan tidak mudah,misalnya poligami karena istri ada kekurangan fisik(mandul), yang akan di poligami memang membutuhkan missal punya anak 5 dan di tinggal mati suaminya,atau punya penyakit dan akan meniggal beberapa saat lagi,dan juga sangat di anjurkan poligami bukan karena nafsu seperti yang di contohkan beliau nabi besar Muhammad SAW atau berbagi syarat yang bisa di konfirmasi kepada mereka para ulama yang bener-bener ahli dalam ilmu tentang poligami ini,, dan sekali lagi poligami itu pilihan yang rumit, tentu sangat butuh pertimbangan yang bener-bener matang dari segala aspek dan unsur yang bersangkutan.”

Intinya adalah boleh poligami asal……banyak juga persyaratannya. Adapun yang menyatakan, mendingan berpoligami dari berselingkuh. Bukankah selingkuh itu dosa? Apakah selingkuh dosa atau tidak dan apakah poligami juga tidak berdosa tidak akan menjadi pembahasan saya secara mendalam dari artikel ini. Saya tidak akan membahas boleh atau tidaknya poligami atau berdosa atau tidakkah selingkuh itu berdasarkan unsur agama atau keyakinan tertentu karena pada keyakinan saya poligami adalah suatu hal yang dilarang apapun kondisinya. Tapi, disini saya mencoba merefleksikan bagaimana konsep poligami ini diadaptasi oleh pengembangan industri dan organisasi.

Saat ini perkembangan industri organisasi pun tidak diam. Perubahan adalah hal mutlak dalam dunia IO ini. Namun, seiring perkembangannya pun berbagai pihak berpoligami karena memang dituntut untuk berpoligami. Dari pernyataan saya di atas, ada beberapa hal yang perlu dikritisi, yaitu

Dituntut? Siapa yang dituntut? Dan siapa yang menuntut?

Salah satu bagian yang menjadi kekuatan dan ujung tombak suatu perusahaan adalah salesman. Seperti yang dituliskan di http://pialangnews.com/read-news-1-1-1148-appmi–sales–ujung-tombak-pengembangan-pasar-modal.pialang.news, penulis menyatakan bahwa,

“Sales pada dasarnya ujung tombang yg semestinya paling berperan dan paling bertanggung jawab dalam mengembangkan pasar di masyarakat,” ujar Direktur Eksekutif APPMI, M Syurbainy Nasution”

Namun, ada beberapa perusahaan mungkin yang kurang memerhatikan kondisi dari para salesman ini. Kondisi yang dimaksud pun bermacam-macam, yaitu dari sistem pengupahan dan atau compensation benefit, performance appraisal, sampai target yang tidak terbatas. Dari berbagai diskusi dengan rekan-rekan yang berprofesi sebagai salesman, mereka menyatakan bahwa kebanyakan, perusahaan menuntut mengejar omset yang tinggi dalam jangka waktu yang sangat singkat.

“Gileee, masa aku disuruh cari omset Rp.500.000.000,00 dalam sebulan. Selain itu, bonus yang aku dapatkan pun sangat sedikit. Gak sebandinglah.” Ataupun ada yang mengungkapkan memang omset yang dikejar, tapi, meksipun ada imbalan yang tinggi, tapi tidak mendapat rekognisi dari pihak perusahaan.

Berbagai permasalahan bagi para salesman ini membawa dampak “berpoligaminya” para salesman dengan perusahaan yang lain. dalam perjalanan karirnya sebagai salesman, ketika tidak tercukupi kebutuhannya, maka cenderung para salesman akan ‘menambah’ pemasukannya lewat komoditi lain. Mereka menjual tidak hanya satu barang saja tapi beberapa barang dari perusahan yang berbeda. Memang, jika dikontrakan maka akan muncul juga berbagai tanggapan baik positif maupun negatif. Ya, memang benar, kebutuhan hidup sehari-hari saat ini amat sangat tinggi. Penghasilan tinggi juga sangat dituntut untuk pemenuhan kebutuhan tersebut. Jika di satu sisi kita memang perlu penghasilan tinggi tapi di sisi lain pendapatan kita terbatas, bukan tidak mungkin jika salesman pun akan ‘berpoligami’ dengan mengadakan kegiatan penjualan di dalam perusahaanya itu sendiri. Bentuk poligami pun bisa bermacam-macam, misalnya ia bekerja sebagai salesman sepatu, tapi, di dalam perusahaanya sendiri, ia pun memperdagangkan kue-kue basah atau kering buatan istrinya, ataupun ia menjual produknya sendiri di dalam perusahaan. Namun, banyak juga perusahaan yang tidak rela di-poligami-kan. #justjoke# mungkin perusahaan itu tidak mau dimadu mungkin ya, sama seperti istri tidak mau dimadu suaminya…hehehe.

Tapi, ada juga salesman yang ‘selingkuh’ terhadap perusahaanya alias ia juga bekerja untuk perusahaan lain. Yang tadinya ia hanya bekerja sebagai salesman sepatu, kini ia juga bekerja sebagai salesman pakaian. Apakah itu salah? Apakah itu dosa? Kembali lagi, tergantung dari corporation policy masing-masing perusahaan apakah tindakan ‘poligami’ atau ‘selingkuh’ yang dilakukan karyawannya adalah dosa besar dengan sanksi yang siap menunggu si pelaku.

Tidak hanya posisi SALESMAN saja yang mengalami hal demikian.

Tapi, memang dilema,

Ketika kita dihadapkan pada tuntutan kebutuhan yang lebih tinggi dan tinggi lagi, tapi di lain pihak pendapatan kita pun hanya sedikit. Alhasil, kita pun kerap ‘berpoligami’ atau ‘berselingkuh’ dengan yang lain. Lalu, apa yang dapat kita lakukan???

Menurut hemat saya, dari masa muda pengembangan diri sangat penting dengan terlibat di berbagai kegiatan yang bermanfaat seperti jika kita masuk dalam dunia pendidikan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan organisasi atau pengembangan bakat minat lainnya, jika ada perlombaan sebisa mungkin untuk mengajukan diri mengikutinya. Selain itu, aktif ‘menjual diri’ di berbagai media massa lewat tulisan ataupun lewat karya-karya. Dengan demikian, kita akan meningkatkan track record apik kita sebagai SDM yang berkualitas. Dengan meningkatnya kualitas kita sebagai SDM, bukan tidak mungkin perusahaan besar akan merekrut kita. Ketika perusahaan itu pun dapat meng-support kebutuhan kita, kemmungkinan untuk ‘poligami’ atau ‘selingkuh’ akan lebih kecil bukan? Ataupun membuat usaha sendiri.

Memang itu adalah hal yang sangat rumit dan perlu pendefinisian yang operasioanal, tapi ketika kita tidak memulai meningkatkan kualitas kita sebagai SDM, akankah kita ‘berpoligami’ dan ‘berselingkuh’ lebih sering lagi???

One thought on “Katakan ‘IYA’ pada POLIGAMI DAN SELINGKUH?!

  1. Poligami atau tidak itu tergantung pada manusianya – yaitu untuk bersyukur apa tidak. misal kita beristri tapi yang terjadi ketidak puasan dalam berumah tangga maka terjadi poligami atau poliandry. yang terpenting adalah tujuan dalam berumah tangga (Motif utama) dan mensyukuri. termasuk dengan sales, jika tidak setara dengan gaji dan effort yang dikeluarkan maka ” Keluar aja, gitu aja kok repot”(Gus Dur). didalam dunia usaha dan lapangan kerja terdapat demand dan supply. tidak bisa kita munafik dengan menyalakan gaji atau komisi yang didapat kecil dan melakukan pembenaran untuk selingkuh😀😀 just ikut nimbrung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s