Soal Merdeka, Nasionalisme dan Manusia di Layar Kaca

 

Image

Mana mungkin film kolosal yang seharusnya mengagungkan kisah suatu rekam jejak sejarah suatu negara disatukan dengan kisah klenik atau mitos-mitos bayangan belaka? Apalagi dengan menggunakan atribut negara bahkan sosok serupa dengan kepala pemerintahan negara tersebut. Tampaknya hanyalah suatu pemikiran sempit ketika kita menganggap film “Abraham Lincoln Vampire Hunter” hanyalah sebuah film ber-genre horor dengan Abraham Lincoln muncul sebagai tokoh utama secara tidak kebetulan.

Sebagai sebuah prolog, saya mengutip resensi singkat yang dimuat secara resmi di situ Cinema 21 versi Mobilesite (alias dibuka dari BB) ataupun berbagai resensi yang telah dimuat oleh kawan-kawan di situs lainnya. Film produksi 20th Century Fox ini menceritakan tentang kisah presiden Amerika Serikat ke-16 menjadi seorang pemburu vampir yang berawal dari pembunuhan ibunya oleh vampir itu sendiri. Ia berlatih sehingga menjadi pemburu yang handal. Namun, hal ini berubah ketika para vampir mencoba mengambil alih Amerika Serikat, sang negara adidaya tersebut.

Oke, begini pendapat saya…TIDAK LOGIS!? ANEH!? FILM APAAN INI???OH YA???

?mengapa? mari kita telusuri lebih lanjut dulu…

Abraham Lincoln adalah salah satu presiden yang sangat hebat dan bahkan  diagungkan di Negeri Paman Sam karena perjuangannya terhadap kesetaraan para kaum buruh dihadirkan dengan  sisi lain menjadi seorang pemburu yang artinya pekerjaannya adalah pembunuh. Apa yang diburu dan dibunuh? VAMPIR?! Sesuatu yang selama ini kita percaya sebagai hal mistik, tidak mungkin ada, dan hampir bersaingan dengan ‘teman-temannya’ di Indonesia seperti pocong, kuntilanak, genderowo, atau hal lainnya. Bahkan yang lebih tidak logis lagi adalah, kelompok vampir itu akan mengambil alih Amerika Serikat! WOW!

Eiiitsss, kembali lagi, jangan berpikir sempit. Inilah salah satu kreativitas pembuat film yang berangkat dari novel karya Seth Grahame-Smith ini. Benar atau tidak menurut akal sehat kita bagaimana? Kembali ke keyakinan dan prinsip masing-masing pembaca tentunya. Ia mampu mengangkat pesan tidak tersurat dalam film ini. Film ini pun menghadirkan berbagai manfaat bagi para penontonnya, yaitu antara lain penonton disajikan dengan sebuah tontonan yang menarik dengan efek yang begitu mantap, penonton diedukasi tentang bagaimana sosok Abraham Lincoln dalam tiap pelajaran yang ia petik dari omongan pemeran lainnya, tiap perkataannya, tiap keputusan yang ia ambil, tiap tindakan nyata dalam mempersatukan Amerika Serikat, serta secara tidak langsung ‘memprovokasi’ penonton untuk meningkatkan rasa nasionalisme terhadap bangsanya sendiri.

Jika ada pembaca yang mungkin berpikir, “so, kamu stands for nasionalismenya Amerika? Bagaimana rasa nasionalismemu dengan Indonesia?Ngapaen care ke filmnya Barat”

Hahaha, salah satu film favorit saya adalah Merah Putih dari seri pertamanya hingga seri terakhir, bahkan saya sambil menunggu para produser membuat serial Merah Putih selanjutnya. Selain itu, di awal bulan Juni ini, masyarakat Indonesia ditawarkan suatu film yang sangat amat mengandung suplemen untuk meningkatkan nasionalisme terhadap Nusantara ini, Soegija, karya Garin Nugroho. Two Thumbs Up untuk film berdurasi 116 menit ini. Eiiittss jangan salah dan berpikir negatif lagi bahwa Soegija memiliki pesan tersembunyi untuk mengagamakan suatu agama tertentu. Memang film ini tidak kental akan peperangan fisik dalam melawan penjajah seperti yang dihadirkan oleh Merah Putih dan menghadirkan pula beberapa tata cara suatu golongan agama tertentu tapi, Soegija hadir bukan sebagai kaum rohaniwan tertentu yang menyebarkan misi agamisnya namun sebagai kaum agamawan yang nasionalis. Memperjuangkan arti sesungguhnya dari kemerdekaan lewat kata-kata dan pemikirannya.

Dari kedua film yang dikemas dari genre yang berbeda ini ada pesan yang ingin disampaikan bahwa:

Pertama, kemerdekaan adalah sesuatu yang beresensi penting namun absurd. Kemerdekaan itu tidak sekedar pengakuan akan kebebasan atau aktualisasi diri dari sebuah negara dan orang di dalamnya. Tapi, kemerdekaan itu adalah soal rasa dimana kita, sebagai suatu individu, bebas dengan diri kita, berdamai dengan diri kita dan akhirnya berdamai dengan sesama.

Kedua, nasionalisme tidak sekedar Tor-Tor, batik, dan apapunlah itu ‘dirampas tetangga’ lalu pada akhirnya kita bersatu padu angkat suara menolak, atau pada saat pemilu kita tidak masuk dalam golput. Nasionalisme lebih absurd dari itu namun memiliki esensi yang sangat mendalam bagi bangsa dan negara, nasionalisme adalah sebuah kesepakatan baik pikiran, tenaga, uang, waktu dan apapun yang ada didiri kita disatukan untuk ketahanan, bahkan kemajuan bangsa negara kita.

Ketiga, apapun, siapapun, bagaimanapun, dimana dan kapanpun, kita semua adalah manusia, sederajat, dan sama secara esensi. Semua punya potensi, kesempatan, dan hak serta kewajiban yang patutnya dikembangkan demi pemenuhan esensi manusia itu sendiri. Ketika kita masih terbelenggu dengan segala keterbatasan, itulah yang dinamakan dijajah. Selama kita masih terikat oleh berbagai hal termasuk pemikiran kita yang egois, kita sesungguhnya masih adalah budak.

Begitu banyak hal dapat kita lakukan untuk mencapai kemerdekaan sesungguhnya salah satunya dengan meningkatkan nasionalisme kita, dan pada akhirnya mendapatkan makna dan esensi dari manusia itu sesungguhnya…film, karya sastra ataupun berbagai kreativitas lainnya menjadi saran yang jitu untuk meningkatkan rasa nasionalisme kita terhadap negara ini.

So, kapan lagi ya ada film-film berkualitas yang siap memberikan kita berbagai asupan gizi nasionalisme atau yang mengandung vitamin untuk memperkuat esensi kita sebagai manusia diputer di bioskop???Ditunggu….!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s