Antara Nikah dan Bisnis

Nikah dan Bisnis adalah suatu peluang yang sangat bagus dan prospektif!

Eiiitsss, jangan salah dulu. Maksud saya disini bukan nikah dalam arti harafiah ataupun bisnis pernikahan seperti EO, Salon Bridal, or something else about marriage.

“Jadikan bisnismu seperti kehidupan percintaanmu”

Hal ini terinspirasi dari perkataan bos saya ketika kami sedang mengadakan morning call. Ketika itu kami terfokus bagaimana kinerja salesman belum maksimal dan menurut si bos, mereka tidak sepenuh hati dalam bekerja. Ia bercerita tentang kehidupan percintaan setiap manusia, dimana sebelum kita menyatu dengan seseorang dalam ikatan pernikahan, perlu adanya pengenalan, pendekatan, saling mengisi, saling membantu, dan sebagainya, sehingga tercapai suatu kata sepakat bahwa kita akan menikah.

Demikan halnya dengan bisnis dan bagaimana menghadapi customer. Ketika kita dapat menjalin hubungan relasi dengan para customer dan meningkatkan hubungan tersebut lebih dari sekedar rekan bisnis saja, let’s say to be a friend, bisnis pun akan lancar. Bahkan, ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa, “harga pada akhirnya akan menjadi nomor kesekian dikarenakan hubungan apik dan sustain yang terbangun antara kedua rekan bisnis tersebut.

Namun, dari sini, saya mencoba berefleksi, ketika salesman telah membangun hubungan baik dengan para customer dan istilah di atas bahkan sampai muncul, apakah suatu bisnis akan running jika tidak ada peningkatan yang lebih? Tanpa ada target serta sistem pengontrolan yang lebih terhadap sales itu sendiri ?

Ataupun di sisi lain, dimana para salesman hanya mengejar omzet-omzet-dan omzet. Baiklah ketika omzet besar, namun, ketika sistem pembayaran pun tidak diperhatikan, malahan, akan mengakibatkan ke kerugian yang sangat besar. Maksudnya seperti ini, A memiliki omzet satu bulan Rp.100.000.000,00 namun, sistem pembayaran customer adalah kredit selama 6 bulan, sehingga dalam waktu 6 bulan itu, perusahaan tidak akan mendapat pemasukan secara kontan. Akhirnya apa  yang kira-kira terjadi jika paling tidak dari 10 orang sales, 8 orang sales menerapkan hal yang sama?

Menurut saya, sales adalah ujung tombak dari kebanyakan perusahaan. Perusahaan mungkin tidak akan jalan ketika tidak ada pihak yang secara khusus mempromosikan dan ‘menunjukkan’ barang dagangannya kepada para calon customer. Sekarang ini begitu banyak buku-buku, tulisan, pembicara-pembicara yang membahas tentang bagaimana menjadi sales yang apik dan ‘sakti’. Namun, dari pembelajaran yang saya alami di proses kerja khususnya yang saya pelajari dari tim sales perusahaan kami adalah membangun hubungan erat dan sustain dengan customer adalah suatu hal yang amat sangat penting. Tapi, itu saja tidak cukup ketika dari pihak salesman itu sendiri tidak memiliki suatu rancangan pengembangan seperti penentuan target, ataupun belajar lagi dari para mentornya adalah suatu hal yang tidak kalah pentingnya. Lalu, bagaimana jika tidak ada mentor? Mungkin bisa dicoba dengan alternatif, membuat jenjang karir menjadi supervisor sales.

Try it!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s