Laundry dan Company

Menurut saya ini suatu hal yang menarik. Secara pribadi, ini pengalaman kedua yang menyebalkan karena untuk kedua kalinya pakaian yang dilaundrykan hilang. Saya langsung mengontek pemilik laundry, tapi seperti yang sudah bisa ditebak, ia tidak bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Saya merasa sangat kesal dengan kejadian ini. Namun, dalam perjalanan ke kantor, saya mencoba menenangkan diri, berefleksi dan mendapat insight tentang mengapa hal ini bisa terjadi…

Kejadian ini tidak dapat dilepaskan dari kelengahan saya dalam mengontrol pakaian yang masuk dan keluar laundry tersebut.

Sebuah sistem diperlukan! Kok bisa? Ketika kita memiliki suatu sistem kontrol, kemungkinan pakaian saya hilang menjadi kecil. Lalu, seperti apa sistem pengontrolan tersebut? Bisa saja dengan menggunakan suatu form, sebelum melaundrykan pakaian, dituliskan terlebih dahulu berapa potong, dan bila mau, menuliskan pakaian apa saja yg dicuci. Form tersebut kemudian dicocokan ke tukang laundry, dan ketika kita mengambil cucian tersebut, kembali dicocokan dengan form itu.

Simple? memang…Penting? Memang itu simpel dan berkesan tidak penting, tapi coba bayangkan ketika tidak ada suatu sistem pengontrolan atau apapun itu…bukankah kemungkinan baju yang ilang menjadi lebih besar?

Lalu, apa maksud dari semua itu?

Salah satu industri yg berkembang sekarang adalah bisnis keluarga dengan core bisnis yang bermacam-macam. Di Surabaya sendiri terdapat berbagai macam perusahaan keluarga yang sudah sangat berkembang pesat, namun, ketika ditanya apakah ada sistem, berbagai respon pun muncul…”Lah, ngapaen ada sistem, toh sampe sekarang bisnis tetap running” atau “sistem hanya akan membuat cost meningkat. Misalnya, dulu tidak ada aturan bahwa jamsostek diberikan ke semua karyawan, tp krn sistem dr disnaker maka diadakan jamsostek bagi semua karyawan.”

Memang sistem kadang dipandang sebagai sesuatu yang “wahhh” “keren” “apik” dan berbagai tanggapan lainnya, tapi ketika kita diminta untuk coba merancang hingga menerapkannya “eiiitsss tunggu dulu” apalagi untuk perusahaan keluarga, meskipun memang tidak semua seperti itu. Cost yang tinggi, idealisme yang sudah tertanam serta budaya yang telah mengakar dalam sebuah konsep bisnis keluarga tampaknya menghambat suatu sistem yang jelas diterapkan disana.

Tapi, sama seperti ‘kejadian laundry’ tersebut, ketika suatu sistem seperti sistem pengontrolan tidak running, atau hanya sebatas cibiran saja, bukan tidak mungkin perusahaan tersebut memiliki peluang untuk mengalami kemunduran…atau bahkan bukan tidak mungkin menyimpan ‘bom waktu’ yang nantinya ketika bom itu siap meledak malah menghancurkan perusahaan itu…

Kembali lagi, “Lalu, apakah sistem itu perlu???”…perlu, tapi, tergantung perusahaannya memang apakah ingin suatu sistem or tidak…So, what should we do?it depend on us…tapi, privately, saya lebih memilih investasi something ke pembuatan dan sustaining sistem daripada menyimpan bom waktu itu sendiri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s