Konvensional VS Outbound Training: Over Heat Cost Tapi Diperlukan…Hmmmm

Image    VS      Image

Saat ini, berbagai pelatihan yang seidealnya adalah untuk menjawab kebutuhan dari organisasi, termasuk pengadaan outbound training (saya menggunakan istilah “Outbound Training dari Krishnawan Putra, seorang penulis di situs beritaHR). Begitu banyak perusahaan ataupun organisasi termasuk organisasi kemahasiswaan menginvestasikan dananya menggunakan metode ini sebagai pengganti metode training konvensional yang secara formal belajar dalam kelas atau lewat ceramah-ceramah dan BORING.

Experiential Learning. Itulah konsep yang ingin ditawarkan outbound training serta menghadirkan situasi belajar yang baru berdasarkan asas fun dengan semua aktivitasnya dibalut lewat kegiatan-kegiatan permainan di alam terbuka  dan jauh dari situasi kantor atau organisasi sebenarnya. Tentu saja, dari segi nikmatnya, outbound training ini tidak lebih BORING daripada metode yang lama.

Nah, artikel ini tidak akan membahas mana yang lebih baik darimana akan tetapi, berbagai tanggapan pun muncul sehingga (menurut Putra) memunculkan dua kubu).

Kubu yang pertama menganggap outbound training memang merupakan pembelajaran yang menarik, positif dan sangat membantu kerja sama tim. Ketika suasana kantor atau organisasi menjadi sedemikian panasnya sehingga hubungan antar tim pun mulai merenggang, outbound training hadir sebagai salah satu obat yang dapat digunakan untuk mempereratnya kembali.

Tapi, kemudian muncul kubu yang kedua yang menganggap outbound training adalah suatu hal yang perlu dikritisi lagi sehingga tidak menambah over heat cost perusahaan atau organisasi. Dana yang dikeluarkan perusahaan atau organisasi terbilang tidak kecil mengingat yang ingin mengikuti pelatihan ini cukup banyak, tapi perlu perlu peninjauan kembali sejauhmana efektivitas dan manfaat pelatihan tersebut, relevansinya untuk menjawab hasil analisa kebutuhan, dan bagaimana sustainability dari output yang diharapkan dari pelatihan itu tetap terlaksana dalam jangka lama di dalam organisasi atau perusahaan tersebut.

Sikap kritis adalah suatu hal yang sangat ditanamkan berbagai ahli industri organisasi dalam melihat suatu kasus, termasuk ‘kisah tentang outbound training’ ini.

Dari berbagai penelitian serta komentar ahli training mengungkapkan sejauh ini, tidak ada metode pelatihan yang lebih epic dan membangun pengaruh kuat bagi trainee khususnya dalam modul kerja sama tim.

Metode konvensional pun perlu dikritisi karena sejago-jagonya motivator dan sehebat-hebatnya pembicara berdasarkan pengetahuan hardskill ataupun pengalamannya selama ini, itu hanya sebagai yaaa tataran knowledge saja. “ohhh, si motivator Pak. A pernah kerja selama bla bla bla dengan pengalaman bla bla bla. Lihat saja kekayaannya sudah bla bla bla.” Tapi tidak sampai ke tataran skill bahkan attitude dari para trainee saja. Bukankah itu juga adalah salah satu sumber over heat cost???

Menurut saya, seapik apapun metode konvensional atau secanggih apapun metode outbound training tersebut, jika tidak menjawab kebutuhan hasil NA dan outputnya tidak jelas ya overheatcost. Kembali ke esensi adanya pelatihan atau bahasa kerennya Training yaitu menjawab gap competency  yang ada, sehingga, apapun metodenya yang penting adalah apakah kita sudah melakukan TNA yang tepat, memformulasikannya ke dalam modul yang tepat juga, barulah metode mengikuti, dan yang tidak kalah penting juga, bagaimana kelanjutan dari pelatihan tersebut beserta evaluasi dan sustainability hasil training yang diharapkan sangat perlu diperhatikan.

One thought on “Konvensional VS Outbound Training: Over Heat Cost Tapi Diperlukan…Hmmmm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s