Ketika Keluarga Bersanding dengan Pekerjaan

Isu mengenai broken home telah sering diperdengungkan. Tersirat ketika kita mendengar kata itu, cenderung langsung dikorelasikan dengan anak yang berasal dari keluarga yang kacau, berantakan, dan hubungan yang tidak harmonis antara ayah dan ibu. Selain itu, cenderung kita pun akan berasumsi demikian,

            “Ahhh, anak broken home, pasti dia gak bisa apa-apa.” Atau,

            “Yaelah, lihat aja, orang tuanya saja kayak gitu. Tiap hari penuh pertengkaran di keluarganya. Pasti nanti gede dia juga gak akan jauh-jauh dari sikap dan sifat orang tuanya kok.”

Ya, memang banyak yang beranggapan bahwa broken home adalah suatu hal yang sangat negatif. Keluarga yang kacau pasti akan menghasilkan anak yang kacau juga. Namun, pernyataan mengenai broken home yang diidentikan dengan perpisahan orang tua dan anak pada akhirnya disuruh memilih akan ikut ayah atau ibu sepertinya kurang tepat.

Dari beberapa definisi yang saya peroleh, broken home merupakan suatu keadaan dimana anak mengalami kekurangan kasih sayang dari orang tua. Penyebab kurangnya kasih sayang dari orang tua pun mengandung banyak alasan, seperti orang tuanya telah meninggal, perceraian, hingga kesibukkan orang tua saat ini. memang perceraian adalah rumor yang seringkali kita dengar sebagai penyebab seorang anak itu menjadi broken home.

Lalu, menjadi pertanyaan, so what kalo anak itu broken home?

Banyak yang menyatakan ketika seorang anak menjadi broken home, ia akan menjadi pembangkang, tidak taat aturan, sering melakukan kejahatan, nilai secara akademik menjadi kacau, dan berbagai efek negatif lainnya. Namun, memang tidak dapat dipungkiri bahwa memang tidak semuanya seperti itu.

Pada artikel ini, saya akan lebih membahas pada penyebab anak menjadi broken homen karena kurangnya kasih sayang orang tua dengan alasan kesibukan dan bagaimana sebaiknya.

Di bawah ini saya hadirkan beberapa artikel tentang penyesalan orang tua tentang kesibukannya . . .

  1. Ibu yang sibuk (selengkapnya di: http://butikonline83.multiply.com/journal/item/134/Ibu_yang_sibuk_True_Story)

“Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.

Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal karena overdosis narkotika. Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan karena memikirkan musibah ini

. . . . . .

Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian bahkan mungkin lebih. Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan urusan mereka. Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba saya dan suami sudah seperti “robot” yang terprogram untuk urusan kantor.

2.      Perempuan Bekerja (Sebuah Dilema Perubahan Zaman), selengkapnya di http://sosbud.kompasiana.com/2011/04/22/perempuan-bekerja-sebuah-dilema-perubahan-zaman/

. . . . .

Tren wanita bekerja di perusahaan tak luput dari sekelumit permasalahan. Fenomena ini memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positif dikemukakan oleh Lim (1997) mengungkapkan wanita yang memprioritaskan bekerja untuk keluarga akan meningkatkan kepercayaan diri, kompetensi, dan rasa kebanggaan pada perannya sebagai pekerja. Selanjutnya, Pratiwi Sudamona (www.kompasiana.com) mengatakan bahwa wanita tidak lagi dianggap sebagai mahluk yang semata-mata tergantung pada penghasilan suaminya, melainkan ikut membantu berperan dalam meningkatkan penghasilan keluarga untuk satu pemenuhan kebutuhan keluarga yang semakin bervariasi.

Konsekuensi negatif yang terjadi akibat dari ibu rumah tangga yang bekerja yaitu (1) pada anak-anak, yaitu meningkatkan risiko terjerumusnya anak-anak kepada hal yang negatif, seperti tindak kriminal yang dilakukan sebagai akibat dari kurangnya kasih sayang yang diberikan orangtua, khususnya Ibu terhadap anak-anaknya, (2) pada suami, yaitu memiliki perasaan tersaingi dan tidak terpenuhi hak-haknya sebagai suami, (3) pada rumah tangga, memiliki risiko kegagalan rumah tangga terkait ketidakmampuan istri mengurus rumah tangga atau sibuk berkarir, (4) pada masyarakat, yaitu bertambahnya pengangguran untuk pria dikarenakan wanita mengambil alih pekerjaannya. Hal ini juga terkait dengan permintaan perusahaan dimana lebih memilih wanita ketimbang pria karena upah yang murah dan anggapan wanita tidak terlalu banyak menuntut dan mudah diatur (Talita, 2010 dalam www.kompasiana.com). Pernyataan tersebut diperkuat Tjaja (2000) yang mengungkapkan bahwa kecenderungan untuk bekerja di luar rumah jelas akan membawa konsekuensi sekaligus berbagai dampak sosial, antara lain meningkatnya kenakalan remaja akibat kurangnya perhatian orang tua, makin longgarnya nilai-nilai ikatan perkawinan/keluarga dan lain-lain.

. . . . .

Dari beberapa artikel di atas, dan masih banyak artikel yang bisa kita temukan di internet atau bahkan ada di antara kita yang mengalami kisah serupa, memang merupakan sebuah dilema di zaman yang penuh tantangan ini. Di satu sisi, kebutuhan hidup meningkat, mulai dari kebutuhan makanan, minuman, pakaian, sekolah, ataupun kebutuhan apapun di dukung pula oleh kenaikan harga yang mulai gila-gilaan, sedangkan di sisi lain, ayah cenderung tidak lagi mampu bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan semuanya. Ibu serta perempuan-perempuan lainnya pun mulai berpartisipasi dalam usaha membantu keluarga mendapatkan pendapatan. Hal ini pun mendapat dukungan dari berbagai feminis-feminis yang ingin mendapatkan kesejajaran wanita dalam kehidupan ini. akhirnya, kerja bagi pria sekarang mulai disejajarkan dengan para wanita. Otomatis, baik jam kerja maupun tanggung jawab dalam kerja wanita mulai sama. Pria dan wanita dewasa pun kini makin sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. dan apa akhirnya??? . . . ingat, ada pihak ketiga . . . Anak.

            Mengacu dari berbagai artikel yang pernah saya baca, orang tua pun seringkali mengidentikan cinta kasih, kasih sayang dengan uang.

            “toh saya kerja buat anak. Saya kerja, dapat uang, saya sekolahin anak saya, berarti saya cinta dia. Saya sayang dia.”

Ya, memang, salah satu bentuk kasih sayang adalah dengan uang, karena dengan uang bisa memberi anak makan, menyekolahkan anak, dan memenuhi kebutuhan fisik anak. Namun, uang tidak bisa menggantikan belaian lembut seorang ibu, atau kecupan seorang ayah menjelang anak tidur.

Seorang ilmuan psikologi, Maslow, menyatakan, manusia memiliki hirarki kebutuhan dimana salah satu tingkatan kebutuhan manusia adalah kebutuhan akan cinta dan kebutuhan untuk diperhatikan  (love and belongingness). Mari kita sepakati definisi operasional dari cinta dan diperhatikan adalah komunikasi aktif antar keluarga, belaian tangan, ciuman, dan pelukan hangat antar anggota keluarga. Lalu, jika kita mengacu pada definisi operasional itu, apa yang akan terjadi bila orang tua pergi pagi sekali dan pulang saat anak sudah kembali tidur?

Kasih sayang pun tidak tercapai, bukan? Cinta kasih tidak ada lagi bukan? Lalu, apakah broken home adalah suatu hal yang ‘wah’? jika kondisi seperti itu, broken home adalah sesuatu yang pasti akan terjadi, dan tidak heran jika berbagai efek negatif bagi anak pun terjadi.

Lalu, bagaimana seharusnya? Memang tuntutan kebutuhan sangat penting. tidak munafik, tanpa uang kita tidak bisa hidup. Tapi setidaknya, ada dua hal utama yang mungkin bisa dipelajari oleh ayah dan ibu yang sibuk bekerja. Prioritas dan management waktu. Ketika memang pada dasarnya kita bekerja atas dasar keluarga, tentu kita akan memprioritaskan keluarga. Prioritas yang dimaksud disini adalah yang diutamakan, yang dinomorsatukan, jadi, apapun yang terjadi, keluarga adalah tetap nomor satu. Kedua adalah management waktu, pengaturan waktu yang pas adalah untuk membagi waktu antara pekerjaan maupun keluarga. Proporsi pembagian waktunya pun disesuaikan dengan prioritas mana yang kita tentukan, apakah keluarga atau orang tua.

Dan, bagaimana dengan anak? Berani bersuara adalah hal yang penting sekali. Saya masih sangat yakin bahwa komunikasi adalah hal yang paling penting dalam hal apapun. Ketika sesuatu bisa dapat dikomunikasikan, pasti paling tidak akan ada jalan untuk diskusi. Dengan adanya diskusi, mungkin saja orang tua dan anak akan mulai berbicara dari hati ke hati agar supaya anak bisa mengungkapkan yang ia rasa, dan orang tua bisa mendengarnya.

Memang terkesan sangat normatif, tapi, jika kita tidak mulai dari sekarang, kapan lagi???

Salam Brilian!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s