Power To Control

sumber gambar: google.com

 

Berbicara tentang dunia entertainment adalah hal yang sangat menarik. Dunia seakan indah jika memikirkan begitu banyak cuan jika kita masuk di dunia tersebut bahkan sukses di dalamnya. Tapi, alih-alih, pemain-pemain di dunia hiburan tersebut cukup banyak berlabuh ke dunia politik. Kata orang, dunia politik itu kejam, sadis, dan apalagi di Indonesia, katanya banyak yang korupsi. Entahlah, tapi, sepertinya, hal ini menjadi tren sekarang. Lihat saja begitu banyak aktor dan artis yang berlabuh ke panggung politik yang tentu saja sangat mengusung kesejahteraan rakyat. Dan bahkan, karena kepopuleran mereka di dunia entertainment itu sendiri banyak juga yang pada saat pemilu mendapat kemenangan mutlak.

Tampaknya dunia politik sangat menggiurkan. Begitu banyak orang yang rela menghabiskan uang untuk mendaftarkan diri menjadi calon-calon wakil bangsa duduk di pemerintahan dengan berbagai kampanye-kampanye.Begitu banyak yang dikorbankan untuk paling tidak terjun di dunia politik. Hingga berita terbaru yang saya peroleh dari artikel yang berjudul, “Tak Ikut Wukuf, Calhaj Pulang Demi Bertarung di Pilkada” (bisa di baca di: http://haji.okezone.com/read/2011/10/30/398/522446/tak-ikut-wukuf-calhaj-pulang-demi-bertarung-di-pilkada)

Hmm, eforia pilkada ataupun pemilu sangat berdampak bagi masyarakat. Hal ini tampak dari banyaknya peminat yang mendaftarkan diri ke calon-calon pemimpin baik dari tingkat daerah hingga ke paling atas. Hal ini membawa saya kembali ke beberapa tahun lalu, tepatnya menjelang pemilu 2 periode yang lalu. Salah seorang kenalan masuk ke suatu parpol namun ia menyatakan tidak tahu menahu tentang dunia politik itu sendiri.

Lantas, apa yang mendorong seseorang untuk tetap mencoba eksis di dunia politik ini??? Saya mencoba melihat dari dua sisi yang berbeda.

Yang pertama adalah anggapan, “jika saya terpilih, saya akan terkenal. Jika saya terkenal, saya akan memiliki pengaruh. Jika saya memiliki pengaruh, saya dapat mengontrol orang yang notabene juga saya dapat memegang kendali sistem.”

Herzberg, dalam teori motivasi antara hygiene dan motivator terdapat unsur motivator yang didalamnya terdapat unsur achievement dan recognition.

“Dengan mengikuti partai politik, adalah pengakuan yang akan saya terima. Apalagi ketika saya terpilih. Berarti saya dianggap berkompeten dan siap menjalankan tugas ini.” Aktualisasi diripun tercapai, dan orang yang masuk hingga terpilih menjadi pemenang dalam pilkada dan bermain dalam dunia politik pun akan merasa kebutuhannya sebagai manusia telah tercapai hingga aktualisasi diri, dalam hal ini, Abraham Maslow berbicara tentang aktualisasi diri seseorang sebagai puncak tertinggi dari hirarki kebutuhan manusia.

Tapi, lepas dari itu semua, politik, dalam hemat saya, kembali berbicara tentang kekuatan atau power. okelah aktualisasi diri bisa tercapai lewat achievement dan recognition sebagai kandidat bahkan pemenang di dunia politik. Ujung-ujungnya, power inilah yang kemudian memainkan peran yang penting bagi orang-orang yang ingin terjun dalam dunia politik. Dunia politik adalah dunia yang penuh dengan power. power itu sendiri digunakan untuk mengontrol dan mempengaruhi orang lain. Dan kembali ke pernyataan pertama saya tadi, orang pun akan ikut ke dalam dunia politik, mengorbankan apapun, termasuk (mungkin) kewajibannya keagamaannya. “dengan saya ikut dunia politik, saya bisa mempengaruhi orang lain. Saya memiliki power dan bisa mengontrol orang. Dengan demikian, apapun yang saya kehendaki, paling tidak dengan menggunakan power itu bisa tercapai.”

Sisi lain yang saya lihat adalah tetap kembali ke persoalan ekonomi. Bukan rahasia jika orang bermain di politik uang yang akan dikucurkan sangat banyak, dan juga yang akan diterima cukup bernilai. Itu semua terlepas dari isu nasional yang berbicara tentang politik = korupsi, sehingga politik = kotor. Dari hasil bincang-bincang dengan seorang rekan yang bergelut di dunia politik, memang dunia ini adalah salah satu “sektor penghasil uang yang terbesar” karena terkait dengan proyek-proyek yang mungkin bernilai sangat besar. Siapa yang tidak tergiur dengan duit yang nantinya akan didapat setelah memenangi pemilu? Biarkanlah slogan, “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” tetap merasuk di diri. Dalam artian biarkan saja begitu banyak materi yang dikeluarkan dahulu, sebelum nantinya akan “balik modal”. Tidak hanya uang, berbagai materi pun siap menanti ketika kita masuk dalam dunia politik bahkan menang di dalamnya, bahkan lagi ketika kita menjadi paling tidak salah satu orang yang penting dalam negeri ini. Maslow dengan bersemangat berbicara, salah satu kebutuhan dasar adalah makan, minum, sex serta kebutuhan dasar lainnya. Uang atau materi paling tidak adalah salah satu sarana mendapatkan pemenuhan kebutuhan dasar ini. Dan bukan tidak mungkin orang akan korbankan apapun untuk mendapatkan sarana guna pemenuhan kebutuhan dasarnya.

Dunia politik memang dunia yang sangat menarik. Berbagai intrik, petualangan, cerita, atau definisi apapunlah tentang dunia tersebut mengalir tiap harinya. Berbagai pandangan positif dan negatif pun bermunculan dari situ. Hmmm…tapi, bagi saya, politik tetap satu . . . . . Power to Control!

3 thoughts on “Power To Control

  1. Kandy, bagiku politik itu tidak lebih daripada kemampuan manajemen dan administrasi. Tidak ada yang istimewa dari politik.

    Asal kamu tahu, dahulu kala, aslinya orang yang berpolitik asalnya adalah orang yang kemampuan manajemen dan administrasinya dalam: mengatur persawahan dan perladangan, perdagangan, pembangunan gedung, jalan dan jembatan, pengembangan industri, pengaturan dan pemanfaatan untuk semua hal itu, serta melindungi semuanya itu, memiliki keahlian yang baik dalam mengaturnya. Kita bisa bilang baik apabila pembangunan dapat berjalan dan dapat bertahan, malah kalau surplus, bisa dibilang luar biasa.

    Tapi yah… Politik itu gak istimewa amat kok. Menjadi seorang pemimpin politik itu cuma masalah kompetensi manajerial dan administrasi semua aspek fisik dan aspek manusia yang diatur sang pemimpin agar apa yang direncanakan dapat dikembangkan.

    Soal politik yang penuh intrik dan konflik, bagiku itu namanya yah: aji mumpung, banyak maunya, menang sendiri, egois, munafik. Itu semua karena yang menjadi pemimpin tidak ada pemahaman tentang konsep politik itu aslinya ya gak lebih dari manajemen dan administrasi.

    1. kalo menurutku,pollitik itu power mon…
      kenapa orang zaman dulu ampe skarang perang dengan atas nama agama?
      menurut pendapatku, itu karena politik bukan karena agama…

      alur berpikirku gini…

      politik = power = kekuasaan = akses lebih = cuan akeh…makanya mereka perang….gitu sih…menurutmu gimana???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s