Lorong Asmara: Kamu Ingin, Aku Layani. Tapi . . . . .

Ketika kita mendengar kata lokalisasi, berbagai anggapan muncul di pikiran kita. Kalo mau jujur-jujuran, palingan tanggapan kita akan mengarah ke negatif, dimana daerah lokalisasi itu langsung diidentikkan dengan tempat pelacuran, dimana jablay berkeliaran menjajakan diri, industri rumah bordil bertebaran, penjualan alat kontrasepsi dan sebagainya.

Tapi, lepaskanlah dulu segala anggapan tentang hal-hal berbau negatif tentang lokalisasi, dan mari ikut saya terbang ke Pattaya, Thailand mengunjungi “Lorong Asmara Pattaya”

Sesampainya di Pattaya, Tuk-Tuk (public transportation) membawa big bos, Kak Nancy, n Aku menuju D’Beach Hotel. Ya, u knowlah, backpacker dengan modal pas-pasan gak mungkin nginep di Hard Rock rek, I mean, nanti suatu saat…amiiinnn…he he he.. Tapi, sebelumnya, kami melewati suatu gang, tapi, sayang sekali, aku lupa namanya. Mari kita sebut saja, “Lorong Asmara Pattaya”

Lorong atau gang itu tidak aku bilang seperti gang Dolly yang ada di Surabaya. Di Gang itu begitu banyak miras internasional, dihiasi oleh pernak-pernak yang memang international style seperti siaran-siaran televisi saluran dunia, tempat duduk yang mewah, dan meja-meja bar yang istimewa. (nanti aku coba tunjukin lewat foto). Dan tentu saja, para “bunga” yang siap menanti sang lebah datang menghisap, menggerai¸dan mencumbu madu yang ada di dalamnya. Eiiitttsss… jangan berpikiran kotor dulu yaaa…^^

 

 

Yasudah. . .  sesampainya di hotel, kami segera membereskan perlengkapan di dalam tas dan bersiap untuk mandi karena memang sudah sangat penat. Pada saat mengecek-ngecek kamar, di dalam kamar itu ternyata ada minuman berkarbonasi, minuman keras, hingga kondom . . . hmmm… “apa maksudnya ini kok di dalam kamar hotel tersedia kondom?” aku berasumsi bahwa konsumsi minuman beralkohol dan free-sex adalah sesuatu yang wajar di sana bahkan beberapa tempat publik seperti hotel menyediakan media pembantunya seperti minuman keras itu sendiri dan tentu saja sih karet lentur penahan cabang bayi…^^

Selanjutnya, saya memutuskan untuk berpetualang di sekitar daerah hotel sedangkan big bos bersama kak Nancy massage. Petualangan yang mendebarkan pun dimulai. Kok bisa? Yap, deengan baju tanpa lengan dan si hitam di kalungkan di leher, aku melangkah sendirian ke “Lorong Asmara Pattaya” itu. awalnya sih aman-aman saja, tapi, tiba-tiba ada seorang cewek yang mendekatiku dan langsung berdiri tepat di depan wajahku…yaolooo,,,secara fisik cewek itu memang manis sih. deg-degan iya, tapi, dia kok kayak menggoda gitu..,hiii, serem.

“Hi. Wanna walk with me?” tanyanya sambil deket-deketin gitu (kaga GR nih)

“Ahhh. I’m walking alone, and I just want to take some picture there” kataku (padahal dalam hati deg-degan pol)

“How old are you? You looks like so younger” Gileee, seneng gw dibilang gitu. Masih muda coy artinya…yey

“Guess what…” kataku nih…sambil mesem-mesem gimana gitu.

“20?”

“Ahh, it’s too younger for me.” Padahal emang iya. Tapi kan gak mau keliatan sok muda.he he he. Lagian, bule-bule yang di sekitar situ nertawain gw lagi. Haiiizzz

Setelah itu, aku coba stop-in obrolan-obrolan yang gak jelas ama sih jablay manis itu karena takut ketinggalan sunset di pantai. Kan uda sekitar jam setengah 5an tuh. Huhuhu…Eh, pas uda mau pergi, gw hampir di cium. Astajim serem banget dah. Ckckck.Yauda, aku lanjut perjalanan foto-foto. N banyak banget bulenya. Ceile, serasa bule juga gw..wkwkwk..yaiyalah, bule dari Indo…asiiiikkk..hehehe..

Trus, malamnya sekitar jam 7an, kita sepakat buat nonton kayak operah show Banci-Banci gitu di gedung yang namanya Alcazar. Memang, banyak teman yang bilang banci-banci di sana itu cakep-cakep abis. Pas aku liat di internet juga memang pada cakep-cakep sih. tapi emang bener???

Nanti saja aku bahas di artikel khusus tentang “Alcazar: Kalian Anggap Mereka Rendah, Gue Anggap Mereka Superstar!”

Setelah menonton show yang diadain sekitar 1 jam, kami langsung pulang karena memang capek dan besoknya harus melanjutkan perjalanan ke Bangkok lagi. Tapi, sebelum pulang, kami kembali lagi melewati “Lorong Asmara Pattaya” wah. Wah, kali ini, pas aku lagi jalan, tidak di todong lagi, tapi . . . . .langsung dibekap n dipeluk oyyy.. astaga….sangar!!!

Mama yang berada di belakang langsung shock pasti melihat putra tunggalnya dipeluk. Ha ha ha, dan aku yakin bukan shock bahagia tapi shocking soda…*jayus*. Yaiyalah, tiba-tiba digituin sapa yang gak kaget? Langsung saja kita mempercepat langkah menuju ke hotel dan memang beliau speechless.hahaha.

Itu memang sedikit cerita dari “Lorong Asmara Pattaya” tapi, dari sini aku bisa merefleksikan bahwa prostitusi ataupun lokalisasi adalah suatu pekerjaan yang paling tua. Lihat dan telusuri sajalah rekam jejak sejarah. Pelacuran adalah jenis pekerjaan yang paling tua karena “memang mudah” untuk melakukan pekerjaan itu. diri tinggal “dijajakan” saja di jalan. Selesai. Memang banyak orang dan hampir semua orang menggangap pelacuran baik cewek panggilan atau daerah lokalisasi seperti di Pattaya ini ataupun Dolly di Surabaya adalah hal yang negatif. Baik norma sosial maupun agama melarang hal tersebut. Tapi, itu adalah salah satu rantai atau roda bisnis. Sangat sulit untuk diputus dan ketika putus, mungkin saja banyak orang yang “meregang nyawa”. Mengapa?

Tidak usah jauh-jauh ke Pattaya, di Dolly, kita bisa lihat tidak hanya pelacur saja yang mengadakan “bisnis”. Tukang parkir, tukang cuci, penjual kaki lima, hingga anak-anak pemulung pun kecipratan untung dari bisnis esek-esek bernilai jutaan uang ini. Bagaimana tidak, bayangkan saja begini roda itu berputar dari hasil amatanku . . . .

Om A ingin banget nikmati daun muda dari Dolly. Yap, dia pun memacu CLK-nya menuju tempat itu dan memilih-milih tempat parkir. Tukang parkir siap membantu mobilnya diparkir dan dengan biaya Rp.2000,-. Lanjut, setelah turun, dia pun melihat-lihat daun mudanya, dan mami siap membantu memilihkan daun yang terbaik. Bayaran awal pun untuk mami sekitar Rp.100.000,-. Lalu setelah menemukan si daun, ia pun siap mengadakan “perang koboy matador” dengan sih daun (sebut saja daun mawar). Perang pun selesai dan entah siapa pemenangnya tapi Om A harus membayar biaya perang sebesar Rp.500.000,- ditambah Rp50.000,- untuk pengaman. Besoknya, mawar bayar laundry mungkin sebesar Rp.10.000,- dan cek dokter Rp.200.000,-

Coba kita hitung, berapa banyak roda bisnis yang berputar disitu? Banyak bukan? Dan berapa banyak para penggangur bisa bekerja disitu. Tapi kembali lagi,prostitusi adalah sesuatu yang negatif sampai kapanpun.

Aku tidak mengatakan bahwa lokalisasi yang menjadi sarana prostitusi adalah hal yang baik atau buruk. Ketika kita melihat fenomena tersebut dari berbagai kacamata, bakal banyak pandangan atau tanggapan yang muncul. Baik di Pattaya ataupun Dolly atau dimanapun, fenoeman lokalisasi adalah sesuatu yang lumayan ajeg. Tapi, meskipun begitu, liburan di Pattaya adalah sesuatu yang tidak dapat terlupakan…

Nitez all…

GB

 

catatan: dua gambar terakhir di ambil dari google.com sedangkan gambar lainnya copyright dari penulis…^^

5 thoughts on “Lorong Asmara: Kamu Ingin, Aku Layani. Tapi . . . . .

  1. Yang meluk kamu itu cewek atau ladyboy? hehehehe….
    The thing is, what ever people are going to talk about this particular setting, it is an industry. Yang namanya industri, ya bukan soal baik dan buruk tapi tentang apa yang diterima sebagai transaksi dalam ekonomi masyarakat.

    Jadi, mengapa jenis industri yang satu ini selalu tak kunjung henti dibahas? Jangan-jangan bahasan yang menggebu ini justru mendongkrak pemasarannya industri yang satu ini ya? Kamu marketingnya ya?

    1. hahaha….secara sengaja tuh yang lady boy karena bermaksud mau foto bareng…tapi, untuk yang cewek th dee yang datang tiba2 gt..ckckckc..hahaha…
      ahhh,,,mengenai hal ini, aku belajar tentang “who gets whats itu”…tapi, emang kalo mo lihat dari sisi ekonomi, usaha2 kayak gini, emang paling menguntungkan. bahkan bisa dibilang simbiosis mutualisme pol bagi banyak pihak..hahaha

      soal marketingnya, wahhh, gaklah, tapi, itu adalah bisnis yang menarik bukan?hahaha..bcnda pak..

  2. woww ternyata si loly penggemarx bukan hanya cewek duank tetapi cowok “feminim” juga yee,,hahaha ;p

    wah keren,seru juga iaa perjalanx di thailand,kapan ya q iza ke luar negri?hmm -,-
    hehehe..

    tpi klo msalah tempat prostitusi mnurut berbagai kacamata emank sih pro dan kontra.ada yg blg g setuju tpi bukti nyatax juga banyak yg dtg n memerlukan tempat2 seperti itu. justru klo g ada tempat yg dikhususkan bwt “melampiaskan” bbrp org,akan amburadul neh dunia,malah banyak “pekerja seks” yg berkeliaran di jalanan,g terkontrol.mlah berabeee,,hahahaha..

    toh mnurutq mreka itu bukanx utk qt cela,hina,jauhi,justru patut kita kasihani dan kira rangkul. kan mreka juga punya alasan2 mengapa mpe mereka melalukan itu.

    banyak orang menganggap mreka lbih benar dari “kupu-kupu” itu padahal sebaliknya..
    sungguh ter..la..lu…
    hahahaha😀

    1. Gak apa meski gk trrlalu lancar bahasa inggris. Bahasa inggris ala thai jg gk beds jauh dari kita kok. Yg ptg berani aj. Lgpl, mrk sangat welcome thd turis. Jd smpe tukang parkir pun setidaknya bisa bhs inggris little little i can.heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s