Uda lama gak …

Uda lama gak nulis . . . .

Hmm, lumayan banyak kejadian yang saya alami akhir-akhir ini. Fiuuuh. Dan pada umumnya, ehh, gak juga sih, semuanya memerlukan pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan tapi menyangkut kepentingan banyak orang tuh susah…haiiizzz…X_X

Tapi, bukan itu yang ingin saya sharingkan. Rada melow sih, tapi, tadi, minggu (25/9), sehabis pulang dari Tunjungan Plaza, saya menumpang sebuah taxi. Ternyata, yang jadi seorang taxi itu adalah seorang ibu. Kaget sih. tapi, emang kenapa kalo sopir taxi adalah seorang wanita? Bukankah di Manado juga ada seorang wanita yang jadi seorang sopir mikrolet (angkot)?

Lanjut cerita. menurut ibu yang di nametagnya bernama Ida Zubaidah itu, Ia telah mengemudi taxi dan melanglang buana selama 23 tahun. Ia pun bercerita bahwa semua daerah khususnya daerah Surabaya telah dikuasainya dengan baik meksipun ia bukan asli Surabaya. Kita pun mengobrol tentang daerah Manado karena ia menanyakan daerah asal saya, dan juga, ia bercerita banyak pelanggannya yang berasal dari sana.

Tapi, ia pun mulai bercerita tentang permasalahan keluarganya. Sempat menikah tapi kandas di tengah jalan, tapi ia memiliki tiga orang anak. Ketiga orang anaknya pun telah sukses menurutnya. Dan memang benar, dari ceritanya ia menggambarkan kebanggannya kepada anaknya. Anaknya bekerja di bagian pelayaran kapal pesiar Eropa. Dulu, di awal masuk kerja, anaknya itu hanya bekerja sebagai tukang laundry, tapi dengan gaji yang demikin melejitnya. Kita anggap ceritanya benar dan ia jujur, karena bukan masalah gajinya yang kita akan lihat tapi apa yang bisa kita pelajari dari ceritanya. Gaji anaknya sebagai tukang laudry di kapal pesiar itu melejit hingga 18 juta. Sebuah angka yang fantastik. Lalu, di dalam perjalanannya, anaknya itu masuk ke bagian restoran, dan hingga kini menjadi kepala restoran di kapal pesiar tersebut.

Anaknya hanya bisa pulang selama 2 bulan saja dalam setahun lalu kembali berlayar, dan di tengah lautan yang luas, ia Cuma bisa bercerita, “Bu, apabila aku melihat samudera yang luas dilayari oleh kapal semewah ini, saya hanya terbayang satu hal. Taxi ibu yang selalu ibu bawa untuk kami bertiga.”
Ya, memang rada melankolis sih ceritanya. Tapi, dari sini saya pun seakan mendapat jawaban dari apa yang saya bingungkan sekarang terlebih tentang masalah pengambilan keputusan. Jujur, saya suka dengan kata-kata ibu tersebut ketika ia bercerita tentang keluarganya. “keluarga saya kandas, tapi hidup perlu lanjut bukan? Jadi saya banting stir ke sopir taxi. Saya tidak meminta harta yang berlebihan tapi kesehatan, karena dengan kesehatan saya bisa mendapatkan harta tersebut.”

Ya, dari kata-kata ibu tersebut dapat terlihat jelas tentang bagaimana ia mengambil keputusan berat. Menjadi single-parent untuk ketiga anaknya dan menjadi sopir taxi dengan banyak ancaman di jalanan sana. Kembali saya mencoba berefleksi, kok bisa, saya hanya mengalami beberapa macam masalah yang memerlukan pengambilan keputusan tapi kok sudah kepikiran terus?
Saya setuju dan sangat setuju dengan tuan putriku, Odilia,, yang menyatakan bahwa, santai saja. Apapun itu, santai saja dan belajar untuk tenang. Ya, memang ketenangan dan pikiran yang sehat adalah salah satu kunci penting dalam memilih keputusan.

Semoga, pengalaman ibu taxi tersebut bisa jadi refleksi sendiri buat kita semua.

Fiuuuh,,,memang, kalo hidup tanpa masalah itu adalah sesuatu yang sangat tidak menyenangkan.

Selamat siang semuanya…

GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s