Ketika Tembok Menghalangi Kita Berdua???

 

Ahhh…emang tidak ada habisnya kalo kita ngomongin tentang yang dinamakan. . . . . L O V E alias cinta atau apalah yang sering kita sebut deg-degan, atau perasaan bahagia bertemu dengan someone, atau yaaa…u know, maksudku…hehehe

Emang benar, topik tentang cinta mengandung pro dan kontra termasuk masih lebih mudah belajar faal daripada mendalami cinta, dan ada ampe yang bilang, mendingan sakit gigi daripada sakit karena cinta (saya tidak mengatakan sakit hati ya…^^)

Oke. . . . .berbicara tentang cinta hanya akan sekedar menjadi wacana ketika hanya berbicara tentang teori, kebahagiaan dari cinta itu, atau kesedihan karena cinta tanpa adanya refleksi dan pencerminan terhadap dan kepada diri kita sendiri.

Ada rekan saya, sebut saja Ani, memiliki perasaan kepada Budi. Seiring berjalanannya waktu, Ani dan Budi pun saling mengungkapkan apa perasaan yang mereka alami. Tapi, untuk mencapai kata, “baiklah, kita memulai hidup bersama. Paling tidak dalam ikatan pacaran dulu.” Pun tidak. Mengapa? Ras dan agama adalah tembok penghalang bagi penyatuan dua insan tersebut. Ya, berbicara tentang ras dan agama memang adalah suatu hal yang krusial dan selama ini menjadi perdebatan.

Bisakah orang yang berbeda agama dan atau ras hidup bersama?

Agama dan ras adalah suatu yang fundamental dan mendasar dalam kehidupan kita. Agama menyangkut bagaimana hubungan kita, personal, dengan Tuhan. Tapi, sayang sekali, memang, agama adalah menyangkut hubungan PRIBADI kita dengan Tuhan berdasarkan keyakinan pribadi, tapi tidak dengan urusan percintaan. Agama dalam urusan percintaan adalah urusan keluarga. Karena pada saat orang memilih pasangan dan menyatu, pada umumnya keluarga cenderung akan bertanya, “pasanganmu beragama apa?”.

Begitu pula dengan urusan ras karena menyangkut keluarga bahkan keluarga yang lebih besar lagi. Saya tidak perlu menjelaskan khususnya d Indonesia, teristimewa di Surabaya, ras-ras apa yang  seringkali menjadi perdebatan ataupun dianggap masalah ketika disangkutpautkan dengan urusan percintaan. Perbedaan mencolok antar kedua ras utama ini menjadi penghalang bagi mereka yang biasanya ingin memadu cinta.

Memang, banyak pula pasangan yang dapat menyatu tanpa menghiraukan hal-hal di atas. Tapi, yang menjadi pertanyaan, bagaimana kedepannya?

Saya setuju bahwa untuk apa memperdebatkan masalah ras? Toh yang jalani kita. tetapi, tidak begitu dengan keluarga besar yang secara turun temurun (mungkin) sangat mengedepankan unsur-unsur ras dan dimasukkan ke dalam salah satu kriteria penilaian sebelum seseorang ingin bersatu dengan orang lain. Tapi apabila tentang masalah agama, menurut saya pribadi adalah hal yang lebih krusial daripada perbedaan ras. Hal ini dikarenakan agama adalah sesuatu yang mendasar dan biasanya menjadi batu pijakan seseorang untuk melakukan sesuatu atau akan berkehendak sesuatu. Sangat jarang kita mendengar bahwa ras dibawa-bawa dalam urusan menjadi batu pijakan orang bertindak,

Memang agak sedikit berpikir jauh ke depan, selain untuk batu pijakan masing-masing, agama juga bisa menjadi salah satu media pengajaran paling dasar bagi anak untuk memulai hidupnya kelak. Sehingga, bagaimana mungkin dua orang dengan agama yang berbeda memberikan ‘materi’ pelajaran bagi anak di dasar kehidupan mereka? Okelah jika suatu saat anak tersebut menentukan sendiri pilihan hatinya, agama apa yangi ingin ia ikuti. Tapi, selama itu, bukankah lebih baik ketika kedua orang tuanya memiliki satu visi dalam melakukan pengajaran hal mendasar bagi anak tersebut?

Memang sih, masih terlalu jauh untuk memikirkan tentang anak. Tapi seperti yang saya bilang di atas, cinta adalah permasalahan yang rumit karena tidak hanya tentang agama dan ras, tetapi juga banyak hal diluar itu.

Cindy adalah seorang wanita yang taat ibadah dan sayang dengan keluarganya. Ia pun didekati oleh Doni, seorang dokter dengan hidup yang mapan serta memiliki kepercayaan yang sama dengan ras yang sama. Keluarga Cindy pun setuju bahkan sangat setuju jika Doni bersanding dengan Cindy. Tapi, tak pelak, Cindy tidak memiliki rasa apa-apa dan tidak bisa memilih Doni karena Cindy telah tersanding dengan orang lain. Keluarga Cindy pun memaksa Cindy untuk bersama Doni saja.

Itulah dia. Cinta adalah masalah perasaan. Dan banyak sekali pihak yang mengintervensi tentang cinta. Suatu masalah kompleks yang seringkali terjadi dalam kehidupan kita. Begitu pula dengan kedua contoh diatas. Itu adalah kisah nyata di dalam kehidupan kita seharihari.

Tapi, ahhh, biarkan semua itu menjadi pelajarn buat kita semua dan tetap berefleksi apa itu cinta. Dan ketika orang bertanya, “lalu menurutmu apa itu cinta?” …..

Selamat Malam…

Gbu

2 thoughts on “Ketika Tembok Menghalangi Kita Berdua???

  1. Cinta bukan hanya perasaan yang memabukkan dan melumpuhkan logika, tetapi terutama adalah kekuatan jiwa yang menghebatkan kehidupan.
    … yaitu cinta yang terlepas dari kepentingan kenafsuan tubuh saja,
    tapi cinta yang membebaskan kita untuk menjadi jiwa-jiwa yang kuat dan berani untuk membangun kehidupan yang menjadi rahmat bagi sesama dan alam
    (mario teguh)

    Cinta itu datangnya dari Tuhan, kudus dan diciptakan untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup kita ….
    Bila melakukan sesuatu dengan dasar cinta, tetapi tidak mendatangkan kebaikan, maka itu bukanlah cinta.

    “…karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan.” (Kidung Agung 8:6)

    p.s sometimes its just beyond our control🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s