Ketika Kemerdekaan Dipertanyakan

 

Seminggu sesudah memperingati hari kemerdekaan Indonesia, masih banyak umbul-umbul yang terpampang di jalan, serta berbagai tulisan poster atau baliho di tepian jalan yang menyemarakkan perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke-66. Tidak hanya itu saja, di berbagai situs jejaring sosial seperti fb or twt juga marak akan status-status yang menuliskan tentang peringatan hari kemerdekaan, kata-kata merdeka, dan berbagai hal lainnya.

Tapi, tepat seperti dugaan saya sebelumnya bahwa beberapa hari sesudah itu, semangat kemerdekaan seperti yang digembargemborkan sebelum dan pada hari H tersebut seakan tidak ada lagi. Tidak ada lagi kata-kata “MERDEKA” yang menghiasi dinding di fb ataupun kicauan semangat di twt. Kembali seperti biasa, dipenuhi dengan berbagai curhatan ataupun berbagai pesan lainnya yang pada intinya adalah kembali seperti dahulu.

Lalu, kemana kemerdekaan itu?

Ya, semangat MERDEKA yang dikumandangkan pada hari H kembali berubah menjadi hari-hari biasa. Lalu, apa makna kemerdekaan itu sebenarnya? Dalam tulisan ini, saya ingin memaparkan beberapa pendapat saya mengenai esensi dari kemerdekaan itu sendiri, terlepas dari berbagai referensi yang ada.

Apa itu Merdeka?

Apabila kita menyoroti ke kosokata bahasa inggris, merdeka berarti independence. Tidak tergantung. Dan artinya, adalah bebas. Bebas dari apapun dan dapat berdikari sendiri. Nah, merdeka itu sendiri tidak hanya berarti bebas, tapi juga apa dan bagaimana setelah bebas? Tentu saja kebebasan yang diraih pasca kata-kata dan esensi merdeka dicapai akan diarahkan kedua pilihan yaitu kearah positif ataupun negatif. Sebagai contoh sederhana adalah ketika ulat bulu jadi kepompong, dan kepompong itu siap menjadi sesuatu, ia akan dihadapkan kepada dua pilihan, menjadi kupu-kupu yang cantik nan indah, atau gagal dan kembali menjadi ulat lagi yang merugikan karena bau dan berbagai hal negatif lainnya.

Di Indonesia sendiri, kemerdekaan di atas kertas terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945, dan hampir semua orang Indonesia mengetahui tanggal bersejarah itu. Tapi, apa yang terjadi pasca tanggal tersebut? Apakah kita benar-benar bebas?

Setelah Indonesia merdeka, banyak kejadian yang terjadi, seperti berbagai agresi militer Belanda yang terjadi, pecahnya kasus PKI, hingga puncak masalah ekonomi tahun 1998 yang masih hangat di telinga para korban. Dan sekarang banyak masalah lainnya seperti kasus korupsi, narkoba, pendidikan yang terhambat dan tidak berkembang hingga masih banyak kasus lainnya. Dan itu semua adalah fakta dimana rekam sejarah telah merangkum semuanya ke dalam suatu memori nasional yang tertanam di tiap diri kita masing-masing.

Tapi, sayang sekali. Inilah hal yang kontras. Orang Indonesia ingin sekali merdeka secara penuh. Tidak hanya terlepas dari penjajahan bangsa kolonial dan imperialismenya. Dan di sisi lain, untuk memenuhi harapan tersebut, terlalu banyak orang yang mengasumsikan bahwa memang di atas kertas telah diakui Indonesia merdeka namun belum merdeka sepenuhnya. Tiap tahun berbagai pendapat miring menyerang peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Entah berbagai alasan pun digunakan untuk menyebutkan bahwa Indonesia memang belum merdeka. Korupsi, kemiskinan, kelaparan, keterbelakangan pendidikan dan kemunduran human capital. Tapi, kok hanya mengkritik saja? Apa solusi yang tepat dan solutif untuk memerdekakan Indonesia secara penuh, tidak sebatas wacana atau formalitas pengakuan dunia internasional saja?

Katanya ingin Indonesia merdeka secara penuh? Kok hanya bisa mengkritik saja? Apa solusi yang solutif untuk itu semua?

Tidak usah jauh-jauhlah. Kita terlalu banyak memikirkan tentang mau makan apa hari ini, mau beli apa besok, bagaimana mau bergaya dan saling bersaing satu sama lain dalam hal model, tapi kita lupa pada pendidikan anak muda zaman sekarang. Generasi di bawah kita. anak-anak kita, adik-adik kita, saudara-saudara kita. tidak usahlah di artikel ini kita bicarakan tentang anak-anak yang putus sekolah ataupun tidak bersekolah karena hanya akan memicu perdebatan dan penyalahan kepada pihak pemerintah. Tapi, coba kita soroti dunia pendidikan kepada anak-anak yang mampu dan bersekolah.

Memang mereka bersekolah. Tapi, apakah pendidikan yang didapat telah mencerminkan bahwa mereka sekolah untuk pendidikan yang baik dan benar? Atau hanya sekedar mendapatkan nilai bagus?

Sangat miris sekali anak-anak zaman sekarang, khususnya SD atau Sekolah Dasar, memang memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anaka zaman sebelumnya, termasuk zaman kita yang lalu. Pencarian informasi kini seakan tidak terbatas antara ruang dan waktu. Serta berbagai instrumen dan media pembelajaran sangat berkembang pesat. Bahkan, dalam suatu perbincangan dengan seorang rekan saya, Putri Odilia Makmur, ia menyatakan bahwa ada berbagai inovasi yang dibuat oleh berbagai pihak untuk mendukung proses belajar, yang salah satunya adalah pensil ajaib atau apalah isitilahnya.

Memang maju secara akademis, tapi bagaimana secara moral? Anak SD sudah bisa membentak gurunya dengan kata-kata kasar dan tidak sopan (dikenal dengan istilah misuh), ataupun anak SMP sudah bisa memperkosa teman sebayanya. Atau bahkan sekarang ada anak SMP yang ikut tawuran. Mantap! Tapi itulah yang terjadi di lapangan.

Lah, terus, kaitannya dengan MERDEKA?

Ehmmm, bangsa didalamnya terdiri dari 3 lapisan menurut saya, lapisan muda, lapisan tengah, dan lapisan tua. Lapisan muda adalah mereka yang baru lahir hingga mencapai tahap dewasa awal, lapisan tengah adalah mereka yang memasuki tahap produktivitas kerja, dan lapisan tua adalah mereka yang mulai pensiun dan seterusnya hingga sang khalik memanggil mereka.

Salah satu tonggak keberhasilan suatu bangsa dan yang mendominasi adalah kaum lapisan tengah khususnya para remaja ataupun yang biasa kita sebut kaum muda. Karena kaum muda inilah banyak negara merdeka, contohnya Indonesia. Karena kaum mudalah banyak teknologi berkembang. Karena kaum mudalah dunia dibuat seakan tanpa ruang dan waktu. Tapi, karena kaum mudalah juga suatu bangsa dapat hancur, karena kaum mudalah dunia juga bisa dapat saling berperang, karena kaum mudalah yang memang sangat berpengaruh terhadap iklim dunia ini.

Lalu, apa yang dapat terjadi ketika Indonesia memiliki kaum muda dengan moral-moral seperti di atas? Memang tidak dapat menggenaralisir, tapi, tujuan kita kan satu…Full of Independence. Nah, apabila kita hanya mengkritik saja tanpa ada arahan dan bentuk konkrit, bisakah negara kita merdeka secara penuh? Saya kira itu hanya wacana belaka saja dan menjadi dongeng bagi anak cucu kita nanti.

Mulailah dengan menata anak-anak muda kita sekarang, termasuk diri kita sendiri bagi yang merasa anak muda atau yang berjiwa muda, sehingga dapat ditularkan ke anak muda kita. caranya bagaimana? Lewat pendidikan tentunya, baik akademis maupun non-akademis. Prinsip reward-punishment saya kira tepat dapat dilakukan untuk merubah apa yang ada sekarang.

Saya percaya, tidak ada kata terlambat untuk merubah sesuatu. Tapi, terlalu banyak kata takut dan malas yang muncul ketika kita dipaksa keluar dari zona nyaman itu sendiri. Untukmu Indonesiaku, selamat memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66. Jayalah negeriku majulah bangsaku…

Selamat malam

MERDEKA!!a!

2 thoughts on “Ketika Kemerdekaan Dipertanyakan

  1. so,,segala sesuatu pada intinya bukan hanya sekedar perbincangan semata tpi lebih kepada tindakan nyata utk merubah indonesia ke arah yg lbih baik lge,,itu semua hrus di mulai dari diri sendiri,,keluarga,,lingkungan sekitar..
    yup,,selain kepintaran secara pendidikan formal dan informal,,jg penting sekali pendidikan “moral” diberikan kpd smw remaja,atau saat dia msih ank2,
    supaya kedepannya mndpt pembelajaran lbih ttg hal yg seharusx dilakukan dan apa yg tdk seharusx dilakukan,,Experiantial Learning :))

    ehh,ehh,,sp nm rekannya??ehem,ehem,,uhuk uhuk,, >o<
    #keselek_bijisalak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s