Sex Education: Antara Tabu dan Urgensi

Sexual Education: Antara Tabu dan Urgensi

Pada saat mengajar IPA, kami membahas tentang perkembangan manusia. Tidak hanya perkembangan tetapi per-kem-bang-biak-an manusia. Dan tentu saja, bukan dibahas dengan anak Sekolah Menengah Atas ataupun Sekolah Menengah Pertama melainkan, anak SD, alias Sekolah Dasar.

“Ko, emang mimpi basah itu seperti apa?”

Saya menjawab, “itu adalah proses kematangan bagi seorang manusia berjenis kelamin laki-laki. Intinya, apabila sudah mimpi basah, alat reproduksi sudah matang dan sudah siap dalam proses pembuahan.”

Lalu, ditanya lagi, “Loh. Maksudku, emang bentuknya seperti apa? Kita mimpi apa?”

Sampai disitu, memang saya langsung terdiam. Bingung mau jawab apa, dan entah mau jawab seperti apa. Tapi, daripada terdiam dalam kondisi membisu seperti itu, saya coba menguraikan tentang proses perkembangan remaja saat memasuki masa pubertas beserta perubahan-perubahan di dalamnya.

Yap, itu adalah nyata. Sex Education adalah sesuatu yang penting ternyata. Tidak dapat dihindari, materi-materi di dalam mata pelajaran sekarang adalah menyangkut proses perkembangbiakan manusia dan tentu saja berhubungan dengan sex education. Tapi, senyatanya hal-hal berbau demikian masih sangat tabu bila dibicarakan di depan umum, apalagi dibicarakan di depan anak-anak.

Disinilah masalahnya, di satu sisi, secara kultur dan secara turun-temurun, Indonesia memiliki banyak hal-hal yang dianggap tabu. Tapi di sisi lain, hal-hal yang di stereotipkan menjadi suatu hal yang tabuh tersebut dimasukkan ke dalam kurikulum meskipun memang penjelasan di dalam buku pelajaran adalah sesuatu yang ilmiah (scientific). Tapi sebelum membahas lebih lanjut, mari kita samakan persepsi terlebih dahulu.

Sex Education . . . . .

Dalam jurnal “Is Erlier sex education harmful? An analysis of the timing of school-based sex education and adolescent sexual behaviors” karya Cheryl L. Somers dari Wayne State University menyatakan bahwa,

“sex education is that knowledge about human reproduction, sexual behavior, and contraception could dispel misconceptions, myths, and half-truths while encouraging more informed, responsible decision making about individual sexual behavior.”

Dari definisi di atas, memang secara garis besar pendidikan seks membahas segala sesuatu tentang seksualitas beserta unsur-unsur di dalamnya, bahkan mitos-mitos yang beredar di masyarakat seputar masalah seksualitas. Tapi, sayang sekali, di Indonesia, yang notabene adalah salah satu negara berkembang masih menganggap hal ini adalah sesuatu yang tabu apalagi jika diperkenalkan kepada anak-anak.

Sexual education di Indonesia

Menurut opini Achmad Hidir dalam artikel yang berjudul “Ambiguitas Pendidikan Seks Di Indonesia”, pembicaraan tentang seks di budaya masyarakat Indonesia dianggap tabu karena pembicaraan seks dimata masyakarat kita selalu diartikan dalam arti yang sempit, hanya seputar kejadian seksual yang mengarah kepada persetubuhan atau reproduksi saja. Selain itu, ekspresi seksual dalam bentuk nyata seperti dalam unsur seni seperti film, fotografi, tarian dan sebagainya dimaknai negatif oleh masyarakat. Ya, itu memang terjadi. Coba saja kita tanya ke orang tua atau siapapun tentang hal-hal yang berbau seks, cenderung akan menghindar, atau menjadi bahan bercandaan. Ketika kita akan menyoroti dan ingin membahasnya secara science ataupun serius, agak susah.

Tapi, sex education adalah sesuatu yang penting. mengapa?

Kembali menurut Achmad Hidir, seksualitas adalah landasan kehidupan sosial yang seringkali sangat menentukan kehidupan masyarakat di masa depan. Kesalahan penyebaran informasi yang keliru pada masyarakat akan berdampak kehancuran tatanan kehidupan sosial.

Saya setuju dengan itu semua. Di samping itu, seperti yang kita ketahui bersama bahwa seksualitas adalah hal yang tabu di Indonesia, dan kecenderungan remaja menurut para ahli psikologi dan perkembangan remaja memiliki ciri khas rasa ingin tahu yang tinggi. Dapat diasumsikan bahwa,ketika hal tabu tersebut dibatasi oleh tatanan kehidupan sosial, dan remaja mencari tahu dengan menggunakan informasi yang tidak terarah, bisa saja terjadi kesalahpahaman informasi.

Dari bincang-bincang singkat dengan salah satu rekan, Evi, menyatakan bahwa selain hal di atas, pendidikan seksual itu penting untuk menghindarkan dari berbagai masalah sosial yang sering terjadi sekarang ini seperti seks bebas atau pemerkosaan. Selain itu, dampak dari kesalahpahaman informasi tentang seksualitas dalam berimbas ke terjadinya seks pra-nikah dan juga berkembangnya HIV AIDS, aborsi, dan berbagai masalah lainnya. Dari berbagai pemaparan di atas, pendidikan seks memang penting diberikan paling tidak sebagai dasar-dasar untuk menghindarkan masyarakat Indonesia khususnya kesalahpahaman informasi tentang seksualitas dan mencegah berbagai masalah sosial yang terjadi.

Lalu pertanyaan berikutnya, meskipun penting, kapan kira-kira sex education diberikan dan kepada siapa?

Untuk pertanyaan kepada siapa, tentu jelas, remaja adalah target utama yang difokuskan. Dalam artikel yang berjudul “Pendidikan Seks Maasuk Kurikulm Dinilai Positif” oleh ANTARA, News, tanggal 4 Agustus 2011, kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Syaiful Syafri menyatakan bahwa pendidikan seks baik adanya jika dimasukkan ke dalam kurikulum meskipun perlu ada pembatasan tidak semua jenjang pendidikan. Sekolah Menengah Atas adalah target yang dianggap paling pas untuk diberikan pendidikan tersebut.

Lah, apabila sex education baru mulai diberikan kepada murid-murid SMA, bagaimana dengan fenomena di awal artikel ini? Anak SD pun diasumsikan telah sampai taraf tahu tentang hal-hal yang berbau seksualitas. Yap, orang tua memiliki peranan penting untuk menjabarkan dan menjelaskan kepada anak-anaknya tentang sex itu sendiri. Dan tentu saja, orang tua pun harus dengan selektif materi apa yang akan diberikan dan disesuaikan dengan usia anak-anak mereka. Orang tua pun hendaknya membaca banyak literatur yang berhubungan dengan sex education yang disesuaikan dengan usia anak mereka, sehingga pemberian materi tersebut tepat guna dan tepat sasaran. Memang, terkesan agak teoritis, tapi, paling tidak, banyak fenomena negatif akibat dari kurangnya sex education terjadi di Indonesia.

Jadi, dari berbagai pemaparan di atas, hal yang dapat disimpulkan adalah, seksualitas adalah sesuatu yang tabu di Indonesia, namun, sex education yang tepat guna dan tepat sasaran juga perlu diberikan kepada para generasi muda di Indonesia, paling tidak untuk menghindarkan permasalahan-permasalahan negatif yang timbul akibat kurang atau kesalahan informasi yang diperoleh para generasi muda tentang sex education itu sendiri. Orang tua, dan pendidik memiliki peran sentral dan diharapkan dapat memberikan sex education kepada mereka namun harus secara selektif dalam usaha pemberian sex education tersebut bagi para generasi muda Indonesia.

Salam Brillian!

GBU

6 thoughts on “Sex Education: Antara Tabu dan Urgensi

  1. Eh Kandy, skripsimu mau bahas ttg ini ya? hahaha…
    Ya, dari aku sih pny opini tersendiri. dl kmu prnh baca siswi SMA yg membuang bayinya trus kemudian seluruh org tua akhirnya seolah-olah menyuruh siswi itu untuk keluar. Tentunya si siswi itu dikucilkan oleh ortu2 yg lain. Pernah baca ya? soalnya pernah ada di JawaPos.
    Nah sekarang opiniku sih, jarang sekali ortu yang menganggap mreka krg tau mengenai pendidikan seks. Malahan justru mreka mgkn “sok” skali tau ttg seks seperti di contohku di atas (walaupun tdk smuanya seperti di atas loh ya). Anak memang penting utk diberikan pendidikan seks, tetapi di lain pihak seharusnya yg pentng jg adalah ortu bkn hny sekedar mencari info mengenai seks melainkan terlibat di dlmnya dg pasti. Inilah pendidikan yg sebenarnya di ortu. Di Jakarta, saya prnh dgr dari tmn saya ada yg namanya sekolah utk ortu. Tujuannya tuh memberikan pengajaran kepada ortu bagaimana seluk beluknya dalam mnjd ortu, trmsk di daiamnya pendidikan seks. Tp aku tidak tahu yg di Sby ada atau ndak, atau mgkn di tmptmu jg ada.😉

    1. hehehe.gak kok ko…saya tetep di IO ko..hehe..jd palingan gak jauh jauh dari organisasi ko..hehehe..

      iya ko, itu hal yang tidak asing lagi di Indonesia ko.heheheh..yap, keterlibatan langsung dari ortu emang perlu ko..dan tidak hanya itu, saya kira ini adalah sebuah sistem juga. sex education haruslah memiliki sistem yang jelas sapa dan apa yang bertanggung jawab terhadap penyaluran sex education untuk generasi muda sekarang..hehehe

      tapi keren juga ya ada sekolah untuk ortu ko.hehehe..pengajarnya siapa ko? trus, seberapa jauh psikologi mengambil peran di dalam ini ko??

  2. hmm,,menurut q seh loly ada bnerx n tmn yg coment tu jg bner,,selain ortu menjelaskan apa itu seks,,ortu jg hrus terlibat didalamnya,,biar sex education yg diberikan tidak sia2,,tpi hal yg terpenting adl kesadaran dri manusia itu sendiri aja,,
    salam brillian😀😀 JBU ^_^

    1. hehehe…yeeppp..semua pihak sangat berperan..siapapun itu..tidak hanya sia2 tapi ortu juga ikut serta dalam perkembangan anak itu sendiri..hehehe..kesadaran dalam diri manusia memang sangat penting. tanpa kesadaran manusia tidak dapat maksimal dalam melakukan sesuatu. tapi, untuk anak2 yang tataran kognitifnya masih belum berkembang, arahan yang tepat sasaran sangat diperlukan. siapa yang melakukannya? ya tentu saja orang tua dan kita semua..selamat berproses..hehehe…^^GBU

  3. hahaha,,
    btul btul btul,,
    sep,,setujuu dah,,
    anda lbih tau dibanding saya..wkwkwkwk
    tpi smw yg anda katakan mmg bnar ly,,haha,,
    sipp mantap jayya..!!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s