Back to Virtue…

Manado so pe fol do eh…atau ada yang bilang, Surabaya wes sumuk oyyy…serta, ada juga yang bilang, Yaolo, Jakarta macet cuy. Atau berbagai daerah dengan bahasa yang khas masing-masing mengungkapkan berbagai pandangan mereka tentang kota masing-masing.

Tiga kota tersebut adalah tiga kota yang pernah menjadi habitat saya, menimbah apa yang dinamakan asam garam dunia. Tapi, meskipun asam garam dunia itu ada di tiap kota tersebut, tidak terlepas pula dengan segala kemajuan dan perkembangan yang ada di ketiga kota tersebut, serta seluruh kota di dunia ini.

Yap, tentu saja, begitu banyak perkembangan yang terjadi. Seperti, lihatlah berbagai kendaraan modern yang bermunculan, seperti kita bisa pergi ke Surabaya dengan menggunakan burung besi atau dari Surabaya ke Jakarta menggunakan si roda empat. Atau pula, didirikanlah gedung-gedung megah di Manado sebagai salah satu wadah untuk “menampung” para wisatawan yang ingin menikmati indahnya pantai Boulevard Manado. Ataupun, perkembangan di bidang teknologi informatika, makin lama komputer makin kecilm bahkan tidak mungkin kita hanya perlu membawa alat seperti bulpen lalu menekan tombol tertentu maka akan keluar bayangan komputer seperti di pilm-pilm.

Semua itu bisa terjadi, dan semua itu telah tekonsepkan. Manusia pada dasarnya ingin terus menerus berkembang serta mengembangkan yang ada. Ingin menemukan sesuatu yang baru, inovatif, dan apapunlah hal tersebut. We want to growing up. More develope. Dan itu memang fakta.

Tapi, saya terhenyap dengan suatu daerah di Surabaya. Di tengah kemegahan kota metropolitan ini, masih ada ternyata nilai-nilai khas, who we are. Tentang budaya. Tentang sesuatu yang indah, dan bisa saja saya sebut sebagai seni. Dan ketika saya berani menuliskan demikian, kita sepakat bahwa seni itu indah dan budaya adalah bagian dari seni, sehingga budaya adalah indah. Ada dua hal yang saya akan bahas disini,

  1. perayaan 17 Agustusan

Masih ingat dan sangat terekam di memori kita (semoga), berbagai perayaan yang diadakan oleh masyarakat Indonesia guna menyambut perayaan kemerdekaan Republik Indonesia pada setiap tanggal 17 Agustus. Lari karung, lari kelereng, lomba makan kerupuk, panjat pinang, dan berbagai hal lainnya adalah ciri khas dari perayaan yang sering kita sebut 17an tersebut. Berbagai sekolah mengadakan ajang perlombaan, seperti menghias kelas, lomba olahraga, lomba tarik tambang dan ataupun lari karung dan kelereng. Tidak hanya itu, di kampung-kampung ataupun di daerah yang masih sangat melekat dengan perayaan tersebut sangatlah terasa. Seperti halnya di kampung Dinoyo, dekat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Memang tanggal 17 Agustus masih sangat lama, tapi, para warga disini semenjak Juli sudah mengadakan berbagai kegiatan demi memeriahkan acara peringatan kemerdekaan Indonesia tersebut. Berbagai lomba pun diadakan. Keren!

Adapun acara lain yang dilaksanakan adalah pasar malam. Di pasar malam itu berbagai kegiatan dilakukan. Keren sekali!!!

Seperti pada gambar-gambar ini ditunjukkan begitu indahnya pasar malam yang bertujuan untuk menyambut datangnya 17an. banyak acara yang dilakukan disini. seperti Bazar, atau permainan-permanan yang dilakoni oleh anak-anak. sungguh sangat menarik apabila kita, sebagai orang-orang modern, tetap bisa kembali teringat bahwa kita pun berasal dari sini. kita pun terlahir dari karena tradisi kita-turun temurun. begitu indahnya penyambutan terhadap 17 Agustusan. dan begitu meriahnya berbagai kegiatan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Topeng Monyet

Memang sih, apabila kita bertanya, dan bahkan menggerutu, “kok bisa, topeng monyet menjadi identitas atau budaya kita? masa mau disamakan dengan monyet?” tapi, janganlah kita mengkota-kotakan karena monyet, bukan budaya kita. ingat, salah satu budaya terlahir dari pertunjukkan tradisional. Dan salah satu pertunjukkan tradisional yang merupakan ciri khas dari Indonesia adalah topeng monyet keliling. Keliling dari kampung ke kampung.

Kenapa khas? Coba lihat, negara apa yang menggunakan monyet disertai tabuhan alat musik pukul lalu monyetnya beratraksi? Itu pun sambil dikeliling-keliling kampung. Lihatlah, betapa tertariknya para penerus bangsa kita, dalam hal ini anak-anak. Mereka begitu terlarut dari tiap aksi yang dilakukan oleh para pemain dalam atraksi topeng monyet tersebut.

Sangat menarik disini. Karena, ternyata, meskipun begitu banyak perkembangan teknologi dan berbagai perubahan yang terjadi dan lebih mengarah pada modernisasi, masih ada hal-hal tradisional yang bisa saja kita sebut budaya yang turun temurun tetap ada. Memang sangat menarik dan sangat penting ketika kita harus mengenal budaya. Mengapa? Budaya adalah layaknya KTP atau kartu tanda penduduk begitu penting buat kita, agar kita dikenal oleh dunia luar. Oh, Indonesia ternyata ada. Oh, Indonesia memiliki ciri khas.

Oleh karena itu, apa yang sebaiknya kita lakukan???

Selamat malam…

GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s