“Domine! Si vis, potes me mundare”


Banyak rencana yang telah kita atur. Banyak kegiatan yang sudah di-planning-kan. Kadang suatu rencana itu telah dengan konkrit dan sistematik telah dibuat sedemikian rupa, sehingga menurut hemat kita, tidak ada cela sedikitpun dari apa yang telah terencana tersebut. Begitu pula dalam ajaran agama Katolik, bekerja dan berdoa, Ora et Labora. Ketika telah bekerja dalam perencanaan dan pada akhirnya disertai dengan doa, kita seakan yakin rencana dan aktivitas itu akan selalu berhasil. Ya, membangun kepercayaan positif terhadap usaha kita disertai penyertaan dan berkatNya adalah suatu hal yang mutlak.

Tapi, apa yang terjadi ketika semua itu tidak terlaksanakan? Semua hancur dan kacau?

Pasti berbagai perasaan kecewa, sedih, marah, dan apalah akan muncul disini. Semua orang akan mengalaminya, dan semua orang pasti sudah mengalaminya. Bahkan, pada akhirnya, manifestasi dari itu semua adalah seringkali kita menyalahkan Tuhan dengan apa yang telah terjadi.

Inilah yang menarik. Memang bagi kita, kita telah berdoa dan bekerja, tapi ternyata, itu adalah pemikiran kita. nah, seringkali kita terlibat dalam ke”aku”an kita sendiri. Menganggap ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin dan berdoa pasti berhasil dan melupakan semua pada akhirnya adalah di tanganNya. Bahkan juga, sikap “Aku” adalah dengan menentukan cara kita sendiri. Sehingga, kita pun seringkali melakukan apa yang menjadi kehendak kita, bukan apa yang menjadi kehendakNya.

Dalam doa Bapa Kami yang diajarkan Kristus sendiri adalah doa yang tersempurna yang pernah ada. Dalam satu baitnya dikatakan, “Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.” Tapi, sayang, seringkali kita mengubah bait tersebut menjadi, “Jadilah kehendakku menurut perkataanku.”

Pasti kita akan menyanggah, “Loh, aku sudah berusaha, aku sudah berdoa. Mengandalkan Tuhan. Kok masih saja gagal? Apa sih yang Tuhan mau!” menggerutu, dan menggerutu di saat apa yang kita rencanakan tidak tercapai. Ia, itu memang benar, karena kita tidak mengetahui apa yang dipikirkanNya.

Dalam Roma 11: 34 pun ditulis dengan sangat jelas,

“ Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihatNya?”

Lalu dilanjutkan dengan ayatnya ke 35, ketika kita menggerutu bahwa kita pun sudah berdoa tapi tetap saja tidak terkabulkan,

“Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepadaNya sehingga Ia harus menggantikannya?”

Dalam suatu persekutuan doa, saya diajarkan cara yang sangat menarik dari pembicara saat itu, Dr. Handy. Ia menyatakan bahwa, memang hal-hal diatas mutlak pasti akan terjadi. Kita sudah berusaha denga keras, kita sudah berdoa, tapi tetap saja gagal. Itu semua terjadi karena, memang kita, manusia, tidak akan pernah tahu, “What Jesus should do.” Apa yang Yesus akan lakukan. Tapi, dalam renungan selanjutnya, kita bisa belajar dengan , “What Jesus should do.” Gampang saja. Kita sudah memiliki modalnya. Jika dipersentasikan adalah 80% adalah dari Kitab Suci. Ya, memang, semua tentang apa yang terjadi dan apa yang seharusnya kita lakukan dengan mengandalkan pemikiran “What should Jesus do” ada di Kitab Suci. Disitu kita diajarkan bagaimana menyikapi hidup, memilih yang terbaik berdasarkan kehendak Allah dan berusaha untuk bersyukur dengan apa yang selam ini kita peroleh. Selanjutnya, yang 20% adalah kepekaan kita sendiri terhadap apa yang Tuhan kehendaki.

Memang terasa sulit karena kita manusia selalu ingin yang terbaik. Tidak apa-apa. Yang terpenting, janganlah pernah berhenti untuk berusaha sebaik mungkin dan mengandalkan Tuhan, serta mintalah kepadaNya. Untuk hasilnya, ya, kembali ke Tuhan sendiri. Ia punya jalan sendiri untuk kita. iman adalah hal mutlak yang menjadi jembatan untuk itu semua. St. Jose Maria Escriva, dalam buku “Jalan” menyatakan,

Domine! Si vis, potes me mundare. Tuhan, kalau engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Sebuah doa yang amat indah bagimu untuk sering diucapkan, dengan semangat iman si penderita kusta, setiap saat terjadi apa Tuhan, engkau, saya ketahui bisa terjadi pada dirimu. Engkau tak perlu menanti begitu lama untuk dapat mendengar jawaban Sang Guru: Volo, mundure! Aku mau, jadilah tahir!”

Karena, dengan iman kita berharap, dengan iman kita dekat denganNya, dan dengan iman Ia akan menganugerahkan kepada kita apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita kehendaki.

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” (Roma 11: 36)

 

Tuhan, ajarilah kami mengerti caramu dan biarkanlah iman kami bertumbuh hanya demi kemuliaan namaMu. Amin

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s