Peace is not Instantly

Hari ini sungguh sangat indah. Tidak ada kuliah yang kadang membuat kantuk, tidak ada tugas karena telah terselesaikannya ujian akhir semester, serta tidak ada kesibukan lainnya. Tapi ternyata, tidak pada saat saya bangun di pagi hari dan mendapat kabar bahwa satu-satunya tunggangan saya kemana-mana lenyap. Sepeda kesayangan saya hilang. Hmm…Apa yang saya lakukan setelah mengetahui hal tersebut?

Yap, tentu saja, marah, kesal, atau berbagai perasaan yang sering kita namakan emosi tingkat tinggi. Tapi, Tuhan berkata lain. Entah mengapa perasaan tersebut hanya meliputi saya dalam beberapa saat saja. Lalu kemudian ada suatu perasaan damai yang muncul, tenang, dan tentu saja, dengan adanya perasaan tersebut, saya pun bisa berpikir rasional serta mengiklaskannya.

Yap, Emosi.

Hari ini saya ingin membahas tentang emosi dalam hal ini hal yang biasa kita sebut marah, mangkel¸esmosi, atau apalah itu. marah tentu saja muncul ketika suatu hal terjadi di luar kehendak kita dan kita tidak menginginkan itu ataupun karena ada suatu hal yang “mengganggu” diri kita. manifestasinya adalah perasaan yangtidak karuan, napas tersengal-sengal, detak jantung meningkat serta akibat yang paling buruk ada 3 hal, yaitu, berkata-kata kasar, melakukan tindakan fisik yang tidak tepat, serta tidak berpikir rasional. Semuanya itu terjadi akibat kita masuk dalam taraf tidak mampu mengontrol diri kita.

Marah? Itu normal tentu saja. Kita adalah manusia. Bahkan Yesus pun sendiri yang menyatakan diriNya sebagai Allah Manusia yang hidup pernah marah saat Bait Suci dijadikan pasar. dalam ilmu kejiwaan dan ilmu tingkah laku pun seperti psikologi menyatakan bahwa marah adalah sesuatu yang wajar bagi kita yang dinamakan manusia. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, jika manifestasi dari marah itu adalah negatif dan dapat merugikan banyak pihak bahkan diri sendiri, apakah marah itu perlu? Ya, perlu, tapi tentu saja tetap menyesuaikan pada  ketepatan hal mengapa kita marah, kepada siapa kita marah, dan durasi kita marah.

Dari kejadian yang saya alami hari ini, sebagai manusia normal, saya marah dengan apa yang terjadi. Salah saya apa sehingga sepeda satu-satunya dan alat transportasi utama saya selama ini hilang dicuri orang. Siapa yang harus disalahkan? Mengapa? Kok bisa? Atau berbagai pertanyaan lainnya muncul. Tapi seperti yang saya bilang, ketika ada damai merasuk dalam hati, serta ketika kita bisa mengontrol perasaan itu, niscaya, masalah kita memang tidak akan selesai dengan keinginan kita, sperti masalah saya, lalu kemudian setelah tenang sepeda kembali tapi setidaknya, kita mengalami penenangan jiwa terlebih dahulu.

St. Jose Maria Escriva dalam bukunya, “Jalan”, menyatakan,

Tenanglah! Mengapa engkau harus kehilangan kendali dirimu, jikalau karenanya berarti engkau menghina Tuhan, menyusahkan orang lain, membuat masalah dalam dirimu sendiri…dan pada akhirnya engkau pun harus menenangkan dirimu kembali?

Ya, faktanya adalah sepeda saya hilang dan sepeda saya tidak bisa ditemukan kembali. Tapi, bagaimana sampai di taraf saya bisa menerima itu adalah ketika kita mengalami damai. Ketika kita merasakan Dia menuntun hati kita ke arah kedamaian. Kedamaian membuat kita lebih tenang, membuat kita lebih dapat berpikir logis dan meredakan emosi marah itu sendiri.

Bagaimana mendapatkan kedamaian?

Dari berbagai pengalaman pribadi yang saya alami, sumber kedamaian berasal hanya dari satu saja, Tuhan, Allah kita. mintalah kedamaian daripadaNya maka Ia akan memberikan kepadamu kedamaian dalam bentuk tes. Tidak serta merta diberikan hati yang damai dan tulus. Di dalam proses pemberian itu, kita pun sebagai manusia dituntut untuk terus berproses membentuk hati yang damai. Tidak serta merta, kita emosi lalu minta damai Tuhan akan langsung memberikannya. Tidak. Mulailah dengan mendekatkan diri kepadaNya lewat doa-doa, pujian-pujian dari lantunan lagu, atau berbagai cara pribadi yang saya yakin tiap pribadi memiliki cara tersendiri untuk mendekatkan diri kepada sumber kedamaian kita.

Dalam suatu bincang-bincang dengan seorang teman yang bernama Odelia, ia lalu bertanya, “lalu, bagaimana. Aku susah untuk sabar, untuk tidak marah. Bagaimana?”

Proses, ya, semua adalah proses. Kembali lagi. Marah adalah normal tapi kemarahan yang berlebihan, bukan pada tempatnya, dan tidak tepat sasaran adalah hal yang tidak normal. Cara mengatasinya adalah dengan menghadirkan kedamaian untuk menangkal emosi. Kedamaian tidak serta merta datang dari Tuhan lewat doa kita sekali saja. Semua butuh proses termasuk membantu mempertahankan hati yang penuh kedamaian. Tapi yakinlah, ketika kita memiliki hati yang damai, emosi hanya sebatas keluar sebagai kita manusia normal.  

“Ya Tuhan. Berilah kami kedamaian dan hati yang damai ketika mengalami masalah. Tuntunlah tiap hari kami yang penuh cobaan. Tapi, biarkanlah itu semua menjadi proses bagi kami demi pendewasaan iman kami sehari-hari. Amin.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s