Ajari Aku

Hmm…wah, pada suatu ketika, ini sih kejadian nyata yaaa…hehehe…Bagaimana seorang teman memandang pacarnya dengan mata yang bersinar, indah, dan seakan dengan menggunakan matanya berbicara “aku tulus menyayangimu”…wah, so sweet banget…X_X. Indera penglihatan yang digunakannya seakan ingin menyampaikan perasaan cinta yang tulus kepada pasangannya tersebut.

Lalu, ada pula seorang dosen saya yang sangat berapi-api dan sangat memotivasi banyak orang untuk melakukan perubahan, berpikir out-of-the-box, menjauhi pemakaian asumsi common sense dalam menanggapi suatu permasalahan dan itu semua menggunakan mulut dan lidah untuk menyampaikan berbagai hal tersebut kepada kami. Karunia indera pengecap yang sungguh luar biasa.

Atau, ada pula seorang dosen saya juga, ketika ada mahasiswa yang ingin bercerita kepadanya, ia akan meninggalkan segala pekerjaannya yang ia rasa bisa ditunda, untuk hanya sekedar mendengarkan apa yang ingin disampaikan mahasiswa-mahasiswa. Tentu saja, semua orang ingin cenderung hanya didengar bukan mendengarkan. Dan dosen ini memiliki indra pendengaran yang sangat tahan untuk melakukan semua itu.

Ataupun dalam sebuah film Prancis yang berjudul “Parfume” seorang anak yang bisu serta tuli memiliki anugerah indera penciuman yang tajam hingga pada akhirnya menjadi seorang peramu parfum yang amat sangat terkenal serta dapat membuat parfume dengan wangi yang menakjubkan. Hal tersebut berasal dari kehebatan indera penciumannya tersebut.

Ataupun bagaimana kulit manusia memiliki keanekaragaman warna dan membuat manusia itu sangat unik, sangat mengesankan, dan sangat indah ketika kita mengetahui sesama kita memiliki warna yang berbeda. Keindahan dan keanekaraman warna kulit berasal dari panorama indera perabaan yang dibungkus rapi olehnya.

Hmm, meskipun begitu, semua keindahan, hal yang takjub lainnya, serta kehebatan-kehebatan lainnya adalah milik orang lain, milik mereka. Dan ternyata, tidak saya sadari bahwa saya berada sangat dekat dengan orang yang memiliki semua penggabungan indera beserta pelbagai kehebatannya tersebut…

Sang bunda. Ya, ibu saya memiliki mata yang indah bukan karena seperti artis-artis luar negeri dengan kelentikan bulu mata mereka, tapi dengan tatapan tajam jauh menusuk hati ketika ia menyampaikan suatu maksud tanpa kata-kata. Selain itu, kemampuan dan kelihaiannya dalam mengolah kata-kata baik dari hal yang pedas hingga hal selembut kapas menjadikanku seperti ini, khususnya mempelajari banyak hal dalam hidup ini. Tidak sampai disitu pula, telinganya yang setia akan masalah-masalah yang datang dari berbagai orang yang mendatanginya pada saat mereka ingin berbagi masalah dengan bunda, sangat membantu dan menyenangkan banyak hati orang banyak khususnya keluarga dekatnya. Dan tentu saja, kulit lembut terpatri pada kedua tangannya yang lembut siap membelaiku ketika di satu titik saya berada dalam kesulitan-kesulitan yang tidak mampu diatasi secara pribadi.

Ya, itu dia ibu saya. Tapi, ketika saya merefleksikan kembali, daritadi, hanya teman, dosen, kenalan, bahkan hanya ibu saya yang dipikirkan. Lalu, bagaimana dengan diri saya  sendiri? Mengapa hanya membanggakan orang-orang lain saja. Bagaimana dengan diri saya sendiri? Bagaimana ketika mereka lenyap semuanya, hilang tanpa bekas, ataupun di suatu perjalanan saya harus terdampar di pulau kosong tak berpenghuni???

Hmm…ya, saya memiliki tangan yang kuat untuk menopang hidup saya. Saya memiliki mulut dan lidah untuk merasakan sesuatu yang tidak enak ketika berada di tengah kemalangan di pulau sendiri. Saya memiliki telinga untuk mendengar suara hewan liar yang mungkin saja mengintai di malam hari saat terlelap. Ya, saya memiliki mata yang tajam untuk mengetahui daerah mana yang layak untuk ditinggali serta hidung yang peka untuk mencium bau air dari kejauhan untuk sumber kehidupan saya.

Semuanya terasa begitu sendiri. Begitu sepi dan tanpa arah…

Ya, semua hal di atas hanyalah kiasan. Meskipun kita berada di tengah keramaian dan tidak berada di pulau sendirian, kadang kita terlalu memikirkan orang lain, di dalam kesempurnaan mereka, di dalam segala kelebihan mereka, termasuk orang-orang terdekat kita ataupun idola-idola kita.  saking sebegitunya kita memperhatikan orang lain, kita melupakan bahwa indera yang dimiliki oleh mereka, dimiliki pula oleh kita. Ya, kita punya semua itu. Kadang kita terlambat untuk menyadarinya.

Lalu, ketika kita telah menemukan diri kita, dan apa saja yang ada di dalam diri, kita pun secara terbalik mulai melupakan orang-orang di sekitar kita. menganggap semua kehebatan ada di diri terangkum menjadi satu hanya di dalam tubuh jasmani kita.

Tapi, ternyata, dari segalanya itu, adalah Dia yang mengatur semuanya. Adalah Dia yang selalu mengarahkan indera pribadi, orang terdekat, ataupun semua orang di dunia ini.

Adalah Dia yang seakan menuntun mata kita agar selalu mengarah padaNya.

Adalah Dia yang seakan memberikan bau-bau bunga untuk kenyamanan kepada hidung kita agar kita tahu, Ia selalu ingin mengindahkan kita.

Adapun Dia yang selalu memberikan suara kepada lidah dan mulut kita untuk menyampaikan kabar sukacita bagi sesama agar kita selalu menghargai pengorbanan PuteraNya di kayu salib hanya untuk kita

Adalah Dia yang selalu memberikan kepekaan terhadap telinga agar kita senantiasa mendengar perintahNya

Serta, adapun Dia yang selalu menyentuh kulit kita agar kita selalu terlindungi dari panas dan dinginnya kehidupan dunia ini, agar kita semua menjadi anak-anak kesayanganNya

Tapi sayang. Sayang sekali, banyak sekali yang mengabaikanNya. Termasuk saya. Semuanya berlalu begitu saja. Tapi, dengan sabar, Ia terus menerus memberikan berkat dan rahmat kepada kita agar senantiasa dapat mempergunakan kelima indera kita dalam mengarungi indahnya dunia ini bersamaNya dan berasama sesama kita.

“Ya Tuhan, ajarilah kami lebih mengenal suaraMu lewat telinga kami. Ajarlah kami untuk mewartakan kabar sukacita lewat lidah kami. Ajarlah kami untuk senantiasa mengenal rahmatMu lewat bau-bau di taman bunga. Ajarlah kami untuk lebih peka merasakan tangan kasihMu menyentuh hidup kami. Dan biarkanlah itu pada akhirnya menjadi kehendakMu saja, bukan kehendak kami. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s