Human Capital – How to Reduce the Unemployement?!?

Saya asumsikan kita semua pernah membaca koran, atau paling tidak pernah melihat dalam kurun waktu seminggu terakhir ini begitu banyak tawaran-tawaran kerja. Tawaran kerja seperti apa? Lowongan kerja yang ada baik di koran, di majalah, di pamflet-pamflet bahkan ada yang cuma ditempelkan di jalan-jalan raya (bahkan membuat kota terlihat jorok karenanya). Begitu banyak lowongan kerja sebagai apapun, dari tingkat managerial hingga ke tingkat donw-level alias worker ditawarkan di berbagai iklan lowongan pekerjaan tersebut. Spesifikasi pun tidak sulit-sulit amat, seperti lulusan S1 dari fakultas tertentu, ataupun bahkan ada lowongan pekerjaan yang hanya menuliskan spesifikasi jujur, baik, dan mampu bekerja sama. Wahhh, gampang banget ya apabila spesifikasi yang dibutuhkan suatu perusahaan atau tempat kerja itu seperti itu…

Menariknya disini. Salah satu masalah sosial yang terjadi hingga saat ini adalah masalah pengangguran. Oke, sebelum menjelaskan lebih lanjut, kita sepakat dengan istilah pengganguran disini berkaitan dengan orang atau individu yang tidak memiliki pekerjaan meskipun ia telah mencapai usia kerja. Kita menyepakati usia kerja adalah diatas 18 tahun.

Penggangguran, fenomena masalah sosial yang kontinyu

Kita telah sepakat tentang definisi pengangguran dan sekarang, saya akan menghadirkan beberapa cuplikan artikel tentang fenomena tersebut.

1. Situasi Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2006 dari Berita Resmi Statistik No.30/ IX/1 Juni 2006 yang diambil dari link http://www.bps.go.id/brs_file/tenaker 01jun06.pdf?tanggal  Juni 2011.

“jumlah penganggur terbuka pada Februari 2006 mencapai 11,1 juta orang, atau bertambah
sebanyak 200 ribu orang dibandingkan jumlah penganggur terbukapada Februari 2005.”

2.  “Artikel Pengangguran di Indonesia Capai 8,59 Juta” – antaranews.com (27 Oktober 2010)

“Pengangguran di Indonesia kini mencapai 8,59 juta orang atau 7,41 persen dari total angkatan kerja di Nusantara sebanyak 116 juta orang. “Angkatan kerja tersebut didominasi lulusan sekolah dasar (SD) 57,44 juta orang atau 49,42 persen,” kata Dra Suwito Ardiyanto, SH,MH, widyaswara utama Bidang Penempatan Tenaga kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Denpasar, Rabu.”

3. Artikel “PPCI -Pengangguran Indonesia Tahun 2011 Masih 8.12 Juta” dari link http://www.pengumuman-cpns.com/2011/06/berita-cpns-indonesia/pengangguran-indonesia-tahun-2011-masih-8-12-juta yang diambil pada tanggal 8 Juni 2011.

“Angka pengangguran terbuka di Indonesia masih
mencapai 8,12 juta jiwa. Angka tersebut belum termasuk dalam pengangguran
setengah terbuka, yaitu mereka yang bekerja kurang dari 30 jam per minggu.
Masih tingginya angka pengangguran di Indonesia, harus diatasi dengan
menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang unggul.
Hal itu disampaikan Menteri Tenaga Kerja
dan Tansmigrasi RI, Muhaimin Iskandar dalam sambutannya pada pembukaan
Nakertrans Expo 2011, di Pusat Promosi dan Informasi Bisnis Kota Tegal, Jawa
Tengah, Selasa (21/6/2011). Menurut dia, banyak perangkat yang harus disiapkan
untuk mengatasi pengangguran.”

Dari berbagai artikel di atas, angka pengangguran masih mencapai angka juta. Disini tentu saja muncul masalah menyangkut dengan banyaknya lowongan kerja yang ditawarkan di berbagai tempat ataupun oleh berbagai media. Ya, paling tidak, seharusnya, angka pengangguran di Indonesia tidak melebihi angkat 5 juta jika saya boleh mengasumsi jika dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak sekali lowongan kerja yang ditawarkan. Mengapa demikian?

Kompetensi, hal yang paling utamakah???

Ketika berbicara tentang kompetensi, berarti kita akan membahas tentang kemampuan seseorang khususnya dalam bidang akademik dan non-akademik. Ketika berbicara masalah akademik, dan dikaitkan dengan usia kerja, lulusan-lulusan perguruan tinggilah yang memiliki andil terbesar. Mengapa? Ya, tentu saja, mereka adalah lulusan – lulusan hasil godokan dari berbagai universitas yang notabene dapat diasumsikan sangat menggembleng bidang akademis juga. Tapi, mengapa malah mahasiswa yang lulus terbuang percuma atau menjadi pengangguran? Tidak perlu diragukan lagi, jika kita bermain asumsi, mahasiswa berapapun IPK yang ia dapat, ia akan memiliki paling tidak modal akademik selama kuliah dan dapat menjadi modal untuk melamar kerja, dan tidak jadi pengangguran. Tapi yang terjadi adalah???…dalam suatu diskusi juga dengan salah seorang rekan hasil lulusan universitas yang kebetulan pengangguran dan kebetulan juga memiliki IPK yang cukup baik (> 2.75), menyatakan, “yaaa, secara kompetensi saya mampu, tapi, saya malas untuk kerja. Kan ada orang tua yang bisa biayain.hehe.”

Dari pernyataanya dapat terlihat bahwa kompetensi bukan hal yang utama di dalam menentukan seseorang menjadi pengangguran atau tidak. Kepribadian atau karakteristik mempengaruhi seseorang untuk menghilangkan ke-pengangguran-nya tersebut. So, apa yang
terjadi apabila semua orang berprinsip seperti ini? Mari kita refleksikan bersama…

Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki kompetensi khususnya akademik?

Yang saya heran, cukup banyak loh orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang baik, dalam arti, paling tidak, belum pernah mencicipi dunia perkuliahan, dan menjadi sukses. Kita ambil saja beberapa entrepreneur yang ketika mereka berkisah tentang hidupnya, dahulu hanya OB, atau penjual apa kek, tapi pada akhirnya mereka menjadi sukses. Jadi, kemampuan akademik dan kompetensi tertentu mungkin tidak bisa menjadi alasan agar kita menjadi pengangguran. “Ahhh, gue mah gak pintar, gak tau apa-apa. Gak sekolah. Yauda deh, gue
nganggur aja.”
. masih banyak pendapat-pendapat yang berkata demikian. Balik lagi ke kepribadian dan karakteristik per individu. Memang manusia itu unik ya???^^

Tapi, bagaimana menanggapi fenomena pengangguran-pengangguran seperti ini sedangkan dapat diasumsikan selalu berakar pada kepribadian atau karakteristik per individu???

Seperti yang dikatakan oleh Anies Baswedan dalam jejaring sosial pribadinya mengatakan bahwa, “Human capital, not human resources.” dan “Apa kekayaan utama RI? Bukan laut, bukan hutan, bukan migas, bukan tambang tapi manusia Indonesia, Manusia yang tercerahkan.”

Yaaa, human capital. Kita tidak usah membicarakan tentang sumber daya manusia. Mengapa? Indonesia masih masuk ke dalam 5 negara terbanyak penduduknya. Jadi, ketika kita mengatakan, pengangguran terjadi karena kurangnya sumber daya manusia, wahhh, sepertinya
harus ditinjau lagi deh jika melihat total penduduk Indonesia.

Yang perlu digaris bawahi adalah, SUMBER DAYA, dan DAYA itu sendiri. Daya dalam arti kemampuan, dan kita lebih spesifikan lagi, kemampuan yang berkualitas dan berwujud pada human capital.

Human Capital – How to Reduce the Unemployement?!

Menurut Partner Dunamis Organization Services, Agi Rachmat, dalam situs portalhr.com, dari artikel The First Indonesian Human Capital Study: Ajang Belajar dan  Benchmarking Bagi Perusahaan, Selasa, 19 Januari 2010 menekankan pada pentingnya pembelajaran mengenai pengelolaan sumber daya manusia (SDM) di organisasi. “Pada dasarnya human capital adalah sebuah fase yang bertumbuh, dan hingga hari ini kita menemukan insight bahwa manusia memang real asset. Artinya, manusia bukan sekadar alat produksi,” ujarnya menegaskan.”

Masih banyak lagi sumber yang mengatakan, memang, SDM itu adalah asset yang sangat berharga terutama demi perbaikan ekonomi, bahkan sebagai senjata untuk menurunkan pengguran itu sendiri. Dengan mengalihkan konsep human capital sebagai pengganti SDM diharapkan dapat menurunkan tingkat pengguran.

Tindakan nyatanya seperti apa? Khususnya untuk para kaum muda seperti kami? Bagaimana tolak ukur dan jangkauan kita tidak sekedar menjadi SDM dan akhirnya jadi pengguran tapi menjadi SDM berkualitas dan menjadi human capital itu sendiri?

Saya merefleksikan pernyataan dosen saya, “ketika kamu akan memilih mata kuliah yang akan kamu ambil, pilih yang bermanfaat untuk cita-citamu bukan hanya untuk yang kamu suka.” Dalam arti, bijaksana dalam memilih sesuatu termasuk perkuliahan dan sebagainya, apakah sesuai dengan kebutuhan atau hanya sebatas tertarik saja.

Selain itu, di bidang akademik plus non-akademik, membangun jaringan akan sangat berguna dan sangat terpakai khususnya dalam mengurangi pengurangan. Tapi perlu digaris bawahi, membangun jaringan disini adalah membangun jaringan yang positif. Ada suatu pepatah yang menyatakan, ketika kita mendekat pada hal positif, itu akan menarik kita, dan kita akan menjadi serupa dengannya. Tapi sebaliknya ketika kita mendekat ke arah negatif, hal negatiflah yang terjadi. Contoh konkrit, ketika seputaran kita adalah orang – orang pengguran dengan alasan seperti hal yang dikemukan di atas, tentu saja, kita pun tidak akan jauh-jauh dari pengangguran itu sendiri. Lalu, ya sudah, Indonesia tetap akan bangga dengan SDMnya yang banyak dan bahkan melimpah ruah, tanpa adanya penurunan di bidang pengangguran atau penaikan di bidang SDM berkualitas yang mengarah pada human capital itu sendiri.

Selamat Malam

Selamat beristirahat

Salam Brillian!!!

GBU

2 thoughts on “Human Capital – How to Reduce the Unemployement?!?

  1. Luar Biasa!!! kalau menurutku itu di sebabkan oleh karakteristik orang tersebut, mengapa? karena tingkah laku seseorang itu sebenarnya tumbuh dari perilakunya sendiri, jika dasarnya orang itu malas, ya maka kehidupannya akan malas terus-terussan, beda dengan orang yang berpikiran untuk tekun dan mengejar apa yang menjadi impiannya. mengapa orang yang kuliah selalu menganggap suatu pekerjaan mudah ?
    karena, mereka terlalu santai, mereka berpikir bahwa dengan ilmu yang dimilikinya ia dapat dengan mudah mencari pekerjaan, ternyata itu salah besar sekali. orang bekerja itu tidak hanya membutuhkan ilmu belaka, tetapi ada hal yang lebih penting dari itu semua, yaitu yang dinamakan dengan “Pengalaman”… ada suatu pribahasa yang pernah aku dapat dari temanku di kampus…

    – anda memilih membaca 1 buku untuk mengetahui jendela dunia.
    atau
    – anda memilih terjun langsung ke Dunianya…

    ini merupakan pilihan yang sulit…

    So, will have been you choice??

    1. pembudayaan maybe…ketika suatu perliaku dibiasakan akan menjadi kebudayaan…ditambah lagi lingkungan dalam hal ini sekitarnya mendukungnya, yasudah, akan menjadi kebudayaan yang amat sangat…hehehe….konsep kebudayaan sendiri: pola pikir dan pola asuh melahirkan pola perilaku.

      hmm,,,memilih yang mana, hehehe…ada sebuah pepatah indah dari Jose Maria Escriva…

      “ketika kamu akan memilih buku sebagai bacaanmu, konsultasikan dulu kepada yang lebih tahu dari Anda seperti pembimbingmu, sehingga kamu tidak akan membuang waktunya untuk memilih dan membaca buku yang tidak berguna.”

      tapi, yang mana akan pilih dari keduanya?…laksanain aja keduanya..paling gampang, kuliah kan? gak mungkin kita terjun langsung di dunia psikologi tanpa pernah pegang bukunya McGraw-Hill…hehehe…

      Keep reading n comments bro^^
      GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s