Menyoal Identitas…

Hmm…menarik! sungguh indah!…

Yaaa, itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan budaya yang ada di Indonesia. Tidak usah kita membicarakan budaya yang serumit budaya dalam pelajaran antropologi ataupun bagaimana budaya terbentuk seperti pada sosiologi. Tapi mari kita membicarakan tentang kulinerpologi dan tentu saja setahu saya belum ada pelajaran atau mata kuliah kulinerpologi…

Pretend it is exist…^^

Kulinerpologi, dan tentu saja itu berkenaan dengan makanan. Makanan disini adalah makanan tradisional or, makanan khas suatu daerah.

Apa itu?

Supaya gak ribet, yaaa, makanan khas dari suatu daerah, dimana makanan itu menjadi khas di suatu daerah itu…ahhh…ribet…yauda, gampanganya, kayak di Manado terkenal dengan tinutuan, Jakarta dengan kerak telor, Semarang dengan lunpia, dan tentu saja Surabaya dengan tahu tek.

Saya perlu menggaris bawahi bahwa artikel ini tidak bermaksud untuk MEMPROMOSIKAN suatu brand tertentu ataupun bukan salah satu tim marketing di dalam industri tersebut. Serta tidak ada unsur Misuh secara sengaja. Tapi disini, saya akan membahas tentang sesuatu yang saya nilai dari segi dan sudut pandang pendatang di Kota Pahlawan, Surabaya…

“Jancoook! Pedes cok! Iki gawean opo rek cabene! Jancoook!”

Yaaa, itu mungkin kata-kata yang akan diucapkan (tidak bisa menggeneralisasi) oleh orang yang menikmati salah satu makanan khas terbaru Surabaya sekarang, yaitu, Nasi Goreng Bledos or Jancok Fried Rice. seperti yang saya sudah tuliskan di atas, memang Surabaya banyak dikenal dengan tahu tek atau sate ayam atau apalah, tetapi, dewasa ini mulai dikenal dengan masakan Nasi Goreng Jancok.

Terletak di sebuah hotel di kawasan Surabaya tengah, yaitu, Surabaya Plaza Hotel, mereka menyediakan suatu hidangan khusus yaitu Nasi Goreng Jancok. Sama halnya dengan nasi goreng biasa namun, yang membedakannya adalah porsi, dan tingkat kepedesan dari nasi goreng tersebut.

Nasi Goreng Jancok (NGJ)!

Dimasak seperti nasi goreng biasa dengan rasa seperti nasi goreng pada umumnya, NGJ memberi kesan tersendiri bagi saya ketika menyantapnya bersama 5 orang rekan saya lainnya. Pedasnya minta ampun!!! Dan tentu saja tidak heran hingga ada yang memaki saat memakan NGJ. Ataupun makian itu hanya bercanda saya tidak tahu. Tetepi memang, NGJ adalah nasi goreng spesial karena tingkat pedas yang saya bilang lumayan pedas dan siap mengocok perut bagi barang siapa yang tidak biasa makan pedas. Tidak tahu benar apa tidak, menurut rekan saya, NGJ dimasak dengan menggunakan 1.5 kg cabai entah terdiri dari cabai merah ataupun cabai hijau. Ya, untuk takaran tepatnya saya kurang bisa memberikan ide itu tapi, secara kenampakan fisik, memang nasi goreng tersebut berhiaskan cabai-cabai segar yang memang disengaja diletakkan bersama nasi goreng tersebut. Komposisi dalam nasi goreng itu
sendiri juga sama seperti nasi goreng lainnya yaitu telur serta ada udangnya. Rasanya pun hampir sama, tetapi pedasnya…wooooow!

Dengan harga Rp90.000,00, konsumen bisa mendapatkan nasi goreng itu dengan porsi yang sangat jumbo serta es teh dengan tempat yang lumayan besar. Dan tentu saja, meskipun kami memakannya dengan 6 orang, nasi goreng itu tetap perkasa bertahan dan akhirnya kami membungkusnya untuk dibawa pulang.

Hingga artikel ini diturunkan, proses dan gejolak sedang terjadi di dalam perut saya,
dan ketika bertanya dengan rekan yanng lain, ternyata, alangkah beruntungnya
saya tidak mengalami gejolak perut sendirian…^^

Apa yang dapat kita ambil disini?

Identitas…ya…berbicara identitas adalah berbicara “who you are, or who are you?” NGJ disini bahkan untuk prospek ke depannya bisa menjadi identitas Suroboyo bahkan di dekat hotel tersebut dipasang seperti baliho yang menuliskan, “anda belum sampai di Surabaya jika belum mencoba Nasi Goreng Jancuk.”.

Ya, identitas. Dengan sarana kulinerr seperti ini dapat membuat daerah atau kota terbesar kedua di Indonesia ini menjadi semakin terkenal, bukan hanya di tingkat nasional, tapi juga bisa sampai tingkat internasional ketika terus menggali berbagai kebudayaan dan ciri khas daerah masing-masing.

Asumsiku, lahirnya Nasi Goreng Jancok ini dilatarbelakangi akibat Surabaya yang terkenal dengan bahasanya juga. Sehingga akibat kata “jancuk” sering digunakan di keseharian, kata ini kemudian dapat menjadi investasi baik dari segi materi seperti hadirnya NGJ ataupun investasi bagi Surabaya sendiri karena memiliki ciri khas itu, ya, identitas itu sendiri.

Memang terkesan kasar ketika kita menyebut kata itu, tapi, ketika kita melihat tidak dari sisi kekasaran makna atau arti kata tersebut, kata “Jancok” bisa menjadi komoditi yang baik sekali bagi perkembangan Surabaya di kemudian hari yang dimulai dari sekarang…

Nasi Goreng Jancuk memang sangar!!!

Selamat beraktivitas,

Selamat malam

Salam Brillian!!!

GBU

4 thoughts on “Menyoal Identitas…

  1. wakakakakaka jiancuk tenan artikelmu iki leee….. apik, to the point, lugas cermat….. ya ada sih sedikit yg perlu diwaspadai diksimu…hehehehe btw , tetep semangat menulis ya Ken… lup yu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s