“Dewan ini percaya bahwa pelatihan ketrampilan bagi PSK dapat menurunkan motivasi menjadi PSK kembali.”

Pada salah satu mosi dalam acara lomba debat “Psychobate” di Unika Soegijopranata Semarang (3 -5 Juni 2011) mengangkat tentang, “Dewan ini percaya bahwa pelatihan ketrampilan bagi PSK dapat menurunkan motivasi menjadi PSK kembali.” Dan juga, saya setuju dan percaya bahwa dengan adanya pelatihan ketrampilan dapat menurunkan motivasi PSK untuk kembali menjadi PSK. Tapi, sebelum membahas lebih lanjut, saya akan membatasi beberapa hal disini:

  1. PSK
    merupakan pekerja seks komersial dimana produk yang ditawarkan berupa pemuasan kebutuhan secara seksual. Tujuan dari PSK ini yang dibatasi adalah pada hal komersil atau keuntungan secara materi.
  2. Motivasi
    menurut Chaplin di dalam bukunya yang berjudul Dictionary of Psychology yang diterjemahkan oleh Dr. Kartini Kartono menyebutkan bahwa satu variabel
    penyalang yang digunakan untuk menimbulkan faktor-faktor tertentu di dalam
    organisme, yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan tingkah laku menuju satu sasaran.
  3. Pelatihan ketrampilan disini merupakan pelatihan yang diberikan berupa pelatihan ketrampilan dalam melakukan suatu hal tertentu seperti menjahit atau memanfaatkan barang yang tidak terpakai menjadi berguna lagi.

Nah, kita cenderung mengenal PSK merupakan orang-orang yang yaaa, seringkali dianggap negatif tapi, tidak pula dapat dipungkiri ada yang memerlukan PSK-PSK itu(teringat lagunya Peterpan…”ini hidup wanita si kupu-kupu malam…dst dst dst…”) tapi tidak relevan ketika kita membicarakan hal itu di sini.

Sebelumnya, mari kita membahas tentang faktor mengapa mereka menjadi PSK. Mengacu pada sebuah jurnal ilmiah dalam penelitian yang dilakukan oleh Kasnodihardjo, Rachmalina S Prasojo, Helper SP Manalu “Dinamika Pelacuran Di Wilayah Jakarta dan Surabaya dan Faktor Sosio Demografi yang melatarbelakanginya.” Dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI, menyatakan bahwa, faktor ekonomi merupakan alasan klasik (95%). Pada umumnya mereka berasal dari keluarga kurang mampu atau miskin. Alasan lain kejiwaan atau  frustrasi. Faktor pendorong untuk bekerja sebagai PSK sangat bervariasi antara lain terkena PHK, diajak teman, paling mudah  mendapatkan uang, sebagai janda ditinggal suami, tidak dapat memenuhi kebutuhan anak-anak dan kehidupan sehari-hari, frustrasi karena pernah digauli oleh laki-laki, dibohongi untuk dikawin/ditinggal pacar, membantu beban orang tua yang tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, sulit mencari pekerjaan lain, ingin kecukupan supaya tidak ketinggalan dengan teman-teman sebayanya, bertengkar dengan orang tua karena dijodohkan.

Dari berbagai hal di atas, wah, secara subjektif, memang saya akan merasa sangat down, tidak berdaya dan apalah karena tersadar bahwa hidup itu tidak adil (duhhh,,,paan sih!), yes, perasaan inferior muncul dalam diri sehingga di suatu titik muncul di dalam diri PSK itu, “ya, daripada gini terus, mending aku jadi PSK saja. Gampang. Tidak esek-esek dapat duit, jadi kaya deh. Lagian gak usah kena marah dari suami or dikhianati.”

Senada dengan hal itu, Norman juga memberikan pendapatnya tentang inferioritas. Ketika seseorang merasa tidak berdaya, tidak ada lagi yang dapat ia lakukan, tidak ada yang membantunya, individu akan menjadi inferior atau lebih dikenal dengan istilah learned of helplessness.

TAPI…

Pada dasarnya manusia itu ingin menjadi lebih baik. lebih baik disini dapat didefinisikan berbagai hal, baik dalam hal ekonomi, baik dalam hal hubungan, ataupun baik dalam hal psikologis. Hal ini pula diungkapkan oleh Adler dalam 2 teorinya tentang Striving for Superiority  dan Subjective Perceptions. Esensinya adalah, ketika manusia ingin menjadi lebih baik, ia akan menjadi lebih baik dan lingkungan akan menerimanya karena pada dasarnya manusia ingin menjadi lebih baik. Sama seperti pada PSK terlepas dengan segala alasan dan latar belakang mengapa mereka menjadi PSK, mereka pun ingin menjadi lebih baik. kembali mengacu pada jurnal penelitian di atas, didapatkan hasil dalam studi kualitatifnya tentang harapan-harapan PSK.

“Mereka juga mengharapkan bantuan dana (modal) saat berhenti dari profesinya. Informasi ini diperoleh dari hampir semua PSK yang sudah janda dan mereka yang sudah mendekati usia 30 tahun. PSK yang relatif masih muda lebih menghendaki pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan tingkat pendidikannya. Di samping itu mereka juga mengharapkan mendapatkan tambahan ketrampilan di tempat penampungan. Bahkan ada yang bercita-cita menjadi pedagang setelah mempunyai modal kerja. Pekerja seks pada umumnya ingin kembali ke jalan yang benar, setidaknya ingin kembali menjadi wanita yang baik. Mereka umumnya menginginkan pekerjaan dan membentuk keluarga yang sejahtera. Menurut
pengakuan mereka hanya kesempatan yang belum muncul. Mereka pada dasarnya
mempunyai naluri kewanitaan yang baik dan ingin menjalani hidup seperti wanita
atau ibu-ibu rumah tangga secara normal di masyarakat lingkungannya.”

Setelah kita mengetahui pada dasarnya terlepas dari alasan mereka menjadi PSK, para PSK pun ingin menjadi lebih baik. dan ketika kita memfokuskan pada permasalahan ekonomi, pelatihan ketrampilan terasa tepat bagi para PSK ini. Pelatihan ketrampilan ini dimaksudkan untuk menjadi modal secara skill bagi para PSK untuk mendapatkan sesuap nasi ketimbang melakukan bisnis esek-esek yang secara subjektif juga dinilai PSK merupakan pekerjaan yang kurang baik dari segi norma dan aturan.

Berbagai pelatihan ketrampilan pun diberikan oleh berbagai dinas sosial atau pemkot setempat. Dan memang, pemberian ketrampilan ini memberikan efek yang sangat signifikan bagi penurunan PSK dari tahun 2003 – 2011. Dalam artikel  Hidup
Normal, Kembali ke Masyarakat Hebat, Setiap Tahun PSK Mulai Sadar
, data yang diperoleh dari Dinas Sosial Pemkot Surabaya bahwa, Hasilnya, jumlah PSK di Surabaya yang ada di 6 lokalisasi mulai turun. Sesuai data, jumlah PSK yang ada di 6 lokalisasi, (Kremil, Bangunsari, Moroseneng, Klakahrejo, Jarak dan Dolly) sejak 2003, tercatat ada 7.442 PSK. Kini pada 2011, jumlahnya tinggal 2.225 PSK. Namun pada 2011 ini, setelah dilakukan pembinaan dan pelatihan kepada PSK di 6 lokalisasi itu, ada 225 PSK yang sudah siap dipulangkan ke daerah asalnya. Ke-225 orang ini sudah menjalani pelatihan keterampilan selama dua hari.Saat dipulangkan, mereka tak saja mendapat ilmu keterampilan, tapi masing-masing akan mendapat bantuan modal sebesar Rp 2,5 juta yang dikucurkan Dinas Sosial Provinsi Jatim.

Lalu pertanyaan berikutnya, “SUSTAINABILITY-nya bagaimana? Dan bagaimana para dinas bisa mengontrol itu semua?”

Ya, mereka telah mengantisipasinya lewat evaluasi dan pendataan bagi para PSK yang mengikuti kegiatan pelatihan tersebut. Selain itu pula, mereka membuat surat perjanjian. Setelah mereka diberikan penelitian, mereka harus menandatangani surat perjanjian bahwa mereka tidak akan kembali lagi menjadi PSK. Di dalam surat ini juga melibatkan mucikari atau germo yang menyatakan bahwa mereka juga tidak akan menerima kembali PSK tersebut.

Sehingga, dari berbagai pemaparan di atas, kembali lagi, saya sangat percaya bahwa
pemberian ketrampilan bagi PSK dalam hal pelatihan ketrampilan untuk tingkatkan ekonomi bagi PSK yang latar belakangnya karena alasan ekonomi adalah baik adanya.

Dan memang,
ada 2 pertanyaan besar muncul disini:

1. “Lalu, apabila ia terjun di lapangan dan lapangan (dalam hal ini masyarakat) tidak menerimanya dan tetap menganggap ia negatif bagaimana?”

Ya, Adler, dalam Subjective Perception telah ditekankan bahwa ketika individu mengpersepsikan lingkungan itu baik maka lingkungan itu akan menjadi baik. kesannya seperti self-fulfilling propechies atau lebih dikenal dengan The Secret. Tapi, just try it!^^

2. “Lalu, kalo gajinya lebih besar jadi PSK gimana?”

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa gaji PSK jika dibandingkan dengan langkah awal seorang penjahit berlatarbelakang PSK tidak akan sebanding, tapi, data statistik penurunan PSK yang salah satunya akibat dari pemberian pelatihan ketrampilan
dengan tujuan untuk membuat lapangan kerja bagi PSK membawa angin segar perubahan ke arah yang lebih baik dan mari kita berharap bersama-sama itu akan sustain…

Selamat
Malam, selamat beristirahat…

Salam
Brillian!

GBU

4 thoughts on ““Dewan ini percaya bahwa pelatihan ketrampilan bagi PSK dapat menurunkan motivasi menjadi PSK kembali.”

    1. hmm…menjadi victim seperti apa nih ko yang ko2 maksud???
      bahkan, dsini, aku mau menghadirkan nilai2 positif dari PSK yakitu lewat harapan2 mereka ke arah yang lebih baik…hmm..tapi aku sadari sebeoum temukan nilai2 positifnya, aku menghantarkan pembca dulu ke latar belakang knp mrk jd PSK…baru deh aku kasi fakta2 ttg positf2nya PSK base on journal…^^

      1. Maksud saya begini Kandy, kan karena yang selalu menjadi sorotan dalam arti pemerintah harus membenahi si PSK itu bukan si masyarakat yang hrs diubah pola pikirnya. Lalu mana yang harus dirubah terlebih dahulu, masyarakatnya atau PSKnya? atau bs jg bersamaan?

  1. nah, siapa yang duluan? aku juga masih ngambang tentang who’s first, karena ketika kita menyatakan masyarakat yang diutamakan dalam hal pembenahan, masyarakat adalah suatu yang amat sngat luas. budaya, atau apalah sangat kental disitu…
    PSK duluan? hmmm…mungkin bisa, tai tidak semua karena kita tahu bersama PSK adalah pekerjaan abadi dari zaman Julius Cesar sampai zaman Obama sekarang pun masih ada yang namanya PSK meskipun di artikel aku sudah paparkan data penurunan PSK di jawa timur…

    so, mungkin diri kita duluan kali yang open-mind dulu lalu pelan2 menularkan ke yang lain..gimna ko???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s