Kemiskinan Struktural: Sebuah Siklus yang Mungkin Tidak Pernah Putus

Pengalaman 3 hari berada di Semarang mengantarkan saya untuk menuliskan sama seperti jawaban pada salah satu pertanyaan pada saat ujian etika sosial. Kota yang pernah menjadi saksi bisu “Pertempuran Lima Hari” tersebut kembali menjadi saksi bisu maraknya fenomena kaum marginal yang terjadi disitu dan, yaaa, apakah itu bisa dapat dikatakan fenomena pun tidak bisa dijustifikasikan…

Seorang ibu berbaju merah tua dan berbando pink memegang sebuah nampan, dan di atas nampan tersebut berisikan seperti mainan atau yaaa, hiasan untuk di mobil. Dan yang menarik adalah di belakang agak mendekat ke si ibu tersebut ada seorang anak kecil yang seakan menemani wanita paru baya tersebut. Tidak jauh dari situ, di sudut suatu gedung di salah satu daerah pusat oleh-oleh kota Lunpia itu, ada seorang bapak beperawakan kecil dan baju compang camping, duduk sambil menikmati rokoknya dan juga seakan mengemis ketika ada orang yang lewat di dekatnya. Dan, kemudian hadir, ketika seorang pemuda, sehat bugar, dan dengan polosnya meminta uang kepada kami dengan alasan belum mengisi perutnya dengan sesuap nasi. Serta terakhir seorang anak kecil memegang setumpuk koran sambil menjajakan kepada kami seraya berkata bahwa ia juga belum mengisi perutnya karena tidak punya uang…

All about money…Ketika saya mencoba mengkorelasikan dengan berbagai ide di kepala ini, muncul pertanyaan berupa insight di pikiran,

“hmm, kemiskinan struktural? Inikah bukti nyatanya?”

Apa itu Kemiskinan Struktural?

            Disini, saya akan memberi batasan istilah yang terletak pada kemiskinan, struktural, dan kemiskinan struktural itu sendiri. Kemiskinan menurut Darwin, yang diambil dari situs http://digilib.petra.ac.id/ tentang “Landasan Teori Kemiskinan” adalah konsep yang abstrak yang dapat dijelaskan secara berbeda tergantung dari pengalaman, perspektif, sudut pandang atau ideologi yang dianut. Selain itu, berdasarkan jurnal “Pengentasan Kemiskinan dan Pendekatan Psikologi Sosial” oleh M. Enoch Markum dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 2009 menyatakan bahwa kemiskinan adalah masalah kemanusiaan yang dihadapi di seluruh dunia.

Pembatasan kemiskinan yang dibahas disini terletak pada kemiskinan secara ekonomi dan biasanya diukur dari tolak ukur pendapatan per kapita suatu negara. Untuk tolak ukur kemiskinan itu sendiri dan kemiskinan di Indonesia sendiri diambil dari suatu artikel,”Benarkah Gaji 2,2 juta Membuat Rumah Tangga Aman” oleh Gusti Ramli yang dikutip dari Kompasiana.com edisi 6 Juni 2011

“Data Badan Pusat Statistik menunjukan bahwa pada tahun 2010 pendapatan terendah mencapai 2 dolar (18.000 ribu per hari/kurs sekarang) sebanyak 43,3 persen dari 237 juta jiwa penduduk Indonesia. Artinya, 102 juta jiwa berpenghasilan mencapai 2 dolar. Angka ini lebih bagus daripada tahun 2003 yakni 62.2 persen. Sementara itu penduduk yang berpenghasilan menengah, yakni 2-20 dolar (18.000-180.000 ribu per hari/kurs sekarang) sebanyak 56,5 persen, sedangakan pada tahun 2003 hanya 37,7 persen. Disamping itu, masyarakat berpenghasilan diatas 20 dolar (180.000 per hari/kurs sekarang) sebanyak 0,2 persen. BPS mengukur angka garis kemiskinan berdasarkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non makanan. Tolak ukur garis kemiskinan dihitung dari tingkat konsumsi penduduk. Jika konsumsi makanan dan non makanan tidak mencapai 211.000 ribu per bulan/per kapita atau 2.100 kalori per hari maka dikategori sebagai penduduk miskin. Dengan indikator itu BPS menyatakan bahwa 13,3 persen atau 31 juta penduduk berada dibawah garis kemiskinan.”

            Sedangkan ketika kita berbicara tentang struktural mengacu pada Chaplin, 2008 dalam “Dictionary of Psychology” yang diterjemahkan oleh Dr. Kartini Kartono adalah menyangkut hal yang stabil, menetap, ataupun abadi. Dalam mengartikannya menurut kata benda, Chaplin berpendapat bahwa strutktural itu sendiri merupakan pola tingkah laku yang tetap dan teratur dalam satu kelompok, termasuk di dalamnya ialah status, peranan, norma, penggunaan komunikasi, ruang dan waktu.

Ya, sehingga dengan asumsi yang diselaraskan pada batasan pembahasan, kemiskinan struktural merupakan keadaan tak berdaya dari segi ekonomi dan terjadi secara menetap serta stabil. Hal ini didukung pula oleh Lingkaran Kemiskinan yang terdapat pada jurnal “Pengentasan Kemiskinan dan Pendekatan Psikologi Sosial” oleh M. Enoch Markum dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 2009, dimana suatu keadaa kemiskinan akan tetap menjadi stabil adanya akibat dari sikluk kemiskinan itu sendiri. Secara garis besar, lingkaran kemiskinan sangat dipengaruhi oleh deprivasi dan ketika deprivasi (dalam hal ini ekonomi) tak terpenuhi dapat menjadi helplessness dan akhirnya depresi lalu ke ketergantungan. Seperti inilah saya asumsikan bahwa fenomena yang coba saya hadirkan di atas tidak terlepas dari lingkaran kemiskinan itu sendiri. Ketika anak itu melihat seorang ibu (yang saya asumsikan ibunya) menjual dan menjajakan sesuatu yang mungkin saja kita anggap kurang berharga di tepi jalan, ia akan terproses dalam kognitifnya bahwa ia pun akan menjadi seperti itu, meskipun ia tidak tahu mengapa ia beralasan begitu, atau striving for superority Adler berlaku bahwa pada dasarnya manusia ingin hidup baik apalagi dari segi ekonomi. Bandura sendiri menyatakan tentang Matched-Dependent Behavior, dimana seorang lewat proses kognitifnya ketika ia melihat orang melakukan suatu hal ia pun akan menirunya tanpa mengetahui unsur “WHY”.

Ketika hal ini terjadi bagaikan suatu perputaran roda, yap, benar, kemiskinan struktural akan terjadi secara turun temurun dan stabil. Saya tidak memiliki data tentang penurunan angka kemiskinan di Indonesia. Tapi, ketika kita melihat efek atau dampak dari kemiskinan itu sendiri yang salah satunya banyaknya pengangguran dan mengakibatkan tingginya kriminalitas, kayaknya, masalah ini adalah masalah yang akan terjadi terus menerus dan entah kapan berhentinya.

Memang statement di atas terkesan pesimistik, tapi, ketika masih ada budaya korupsi di Indonesia, baik dari tingkat atas maupun ke tingkat bawah, dan baik dari jenis korupsi seperi uang, waktu dan tenaga, saya yakin, secara statistik angka penurunan kemiskinan bisa saja berubah turun, tapi, apakah bisa hingga mencapai kategori 0% atau at least 5% kemiskinan? Ketika kemiskinan itu menjadi suatu budaya dan pola pikir yang terpatri di dalam pribadi Indonesia, bisakah mencapai hal itu?

Hmmm, tampaknya kita harus berpikir lebih dalam serta mempraktekkan langsung cara pengentasan kemiskinan dengan cara berhenti korupsi baik tenaga ataupun waktu seperti mengerjakan tugas tepat waktu bagi para pelajar, ataupun bagi anggora kelompok berpartisipasi dan berkontribusi aktif dalam tugas kelompok. Pemberdayaan budaya seperti ini bisa menjadi salah satu jalan solutif pengentasan real kemiskinan, karena sesungguhnya akar masalah dari kemiskinan struktural itu adalah budaya korupsi (apapun itu) telah berbenak dan berdiam dalam sanubari dan pribadi.

Ketika kita menyangkal terhadap hal itu, bahwa kita pun sering korupsi, coba tanyakan pertanyaan ini secara pribadi,

“Sudahkah saya mengerjakan tugas dan tanggun jawab tepat waktu?”

Selamat malam

Salam Brillian!!!

GBU

Referensi:

  1. http://sosbud.kompasiana.com/2011/06/02/benarkah-gaji-22-juta-membuat-rumah-tangga-aman/
  2. http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=1&submit.x=0&submit.y=0&qual=high&fname=/jiunkpe/s1/tmi/2009/jiunkpe-ns-s1-2009-25405021-12280-kemiskinan-chapter2.pdf
  3. Chaplin. J.P. 2008. “Kamus Lengkap Psikologi”. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s