Trend Berkomunitas Dalam Hidup Modern

Dunia yang makin mengglobal menghantarkan manusia lebih ke kedekatan satu sama lain. Didukung oleh sifat dasar mereka yang merupakan makhluk sosial dimana tidak dapat terlepas dengan orang lain, manusia pun cenderung membentuk kelompok. Kini, pengelompokan tersebut kerap dinamakan komunitas.

Kerap kali kita mendengar adanya komunitas-komunitas di berbagai bidang seperti komunitas otomotif, komunitas fotografi, komunitas die-cast, komunitas rohani, bahkan di institusi pendidikan pun terdapat komunitas-komunitas seperti di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya khususnya fakultas Psikologi terdapat komunitas Psikologi Industri dan Organisasi, Komunitas Warung Plus-Plus, dan English Club.

Lalu, apa sih komunitas itu?

Secara eksplisit, saya menyebut komunitas sebagai kumpulan dua orang atau lebih yang memiliki minat yang sama terhadap satu hal dan intens mengadakan pertemuan. Tapi ternyata, definisi dari komunitas itu sendiri sanga t bervariasi dan bahkan menjadi banyak sorotan bagi para ilmuwan, khususnya ilmuwan-ilmuwan sosial seperti Margaret Betz dalam bukunya “From Making Life Choice.” Menyatakan bahwa,

“Community is a way of relating to other persons as brothers and sisters who share a common origin, a common dignity, and a common destiny. Community involves learning to live in terms of an interconnected “we” more than an isolated “I’. It involves making choices which reinforce the experience of relatedness and foster the sense of belonging and interdependence. Community begins, but does not end, in our face to face relationships with the persons who are closest to us.”

Bahkan, Jerry Hampton, seorang penulis di website www.community4me.com menyatakan bahwa,

“If you ask a group of people to write one definition of community using only 15 words, each definition could be different. If you allowed more words you will still find differences but more similarities would emerge. The following are some definitions that have evolved over time.”

Tapi, memang pada dasarnya komunitas biasanya terbentuk karena adanya kesamaan minat atau hobi dari dua atau lebih orang yang membuat kelompok itu sustain.

Lalu, apa yang diperlukan dalam komunitas?

            Sebagaimana yang dituliskan di atas, members adalah hal yang paling penting di dalam komunitas. Jika tidak ada orang maka tidak dapat disebut komunitas. Dan juga, komunitas diusahkan agar semakin besar berkembang dan berkembang dengan ditunjukkan oleh banyaknya membersnya. Untuk masalah formalitas ataupun keanggotaan itu sendiri memang tergantung dari komunitas itu sendiri seperti apa teknis pelaksanaanya.

            Yang kedua adalah kesamaan minat. Hal ini adalah hal yang juga kedua fundamental setelah members karena ya, memang, di dalam komunitas itu perlu juga adanya kesamaan minat atau keinginan yang sama antar anggota, ingin mendiskusikan apa, atau ingin membuat apa, yaaa, tapi tidak tertutup kemungkinan juga untuk saling berbagi tentang hal-hal lain.

Contoh yang konkrit adalah Komunitas Warung Plus-Plus yang ada di Unika Widya Mandala Surabaya Fakultas Psikologi. Sewayanya, komunitas ini didirikan sebagai wadah bagi para mahasiswa atau dosen untuk bertukar pikiran tentang suatu topik tertentu yang berkaitan dengan dunia psikologi. Tapi, di dalam teknisnya, tidak hanya hal-hal yang berbau psikologi saja yang dibicarakan. Bahkan ada yang merembet sampai di wisata kuliner suatu tempat, atau tentang tempat-tempat hang-out yang asli ataupun berbagai hal lainnya tapi tentu saja, tanpa tinggalkan topik utama yang dibahas.

Untuk apa komunitas itu?

Bagi saya, sebagai mahasiswa, kuliah lalu pulang kos, lalu besok kuliah lagi lalu pulang kos adalah suatu hal yang amat sangat membosankan. Sedangkan, kita sebagai manusia memiliki waktu yang banyak untuk menyelami keindahan dunia ini, salah satunya lewat orang lain yang diwadahi oleh komunitas. Dengan terlibatnya kita di dalam suatu komunitas, akan membawa banyak dampak positif (tapi, tentu saja tergantung dari komunitas apa yang kita ikut). Seperti halnya “ruang informasi”, komunitas juga dapat menjadi “ruang informasi” bagi kita yang berasal dari info members lain. Ataupun sebagai tempat untuk saling mengenal atau memperbanyak relasi.

Namun, bisa ditarik suatu pernyataan bahwa banyaklah yang kita dapatkan dari suatu komunitas itu sendiri. Bahkan, memang, sebaiknya kita terlibat dalam suatu komunitas, meskipun komunitas kecil karena kita adalah makhluk yang perlu orang lain, karena kita hidup dengan orang lain. Komunitas RT/RW atau keluargalah (dalam bentuk arisan), bisa dikatakan komunitas (maybe…???)…

Ya, pada intinya, komunitas adalah trend baru dalam manusia modern, terutama dalam membina hubungan dengan sesama dan hidup berkomunitas diasumsikan akan terus dan terus berkembang sampai di masa yang akan datang…

            Bagaimana bentuk komunitas itu secara langsung???

Silahkan datang ke Lantai 7, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, tiap Sabtu jam 12.00…kita tunggu disana…^^

Selamat Malam, Selamat Beraktivitas

Salam Brillian!!!

GBU

3 thoughts on “Trend Berkomunitas Dalam Hidup Modern

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s