Cycle of Spirit – Bagian 2

Setelah mengenal visi dan misi dan kira-kira apa saja yang terdapat di dalamnya, muncul refleksi singkat bagi saya, “Lalu, ketika kita berkaca pada berbagai macam organisasi, ketika ditanya, bagaimana visi dan misinya, banyak yang tidak dapat menjawab atau kurang dapat menjelasknya.” Ya, memang demikian adanya, sehingga dari sini dapat terlihat beberapa respon para “pemain” organisasi atau industri menyangkut visi dan misi itu sendiri.

“Hmm…visi misi ya…Itu apa ya?”

            Ya, memang tidak dapat dipungkiri bahwa visi dan misi terkesan “wah”, dalam arti masih banyak yang kurang paham tentang definisi, esensi atau apalah yang berhubungan dengan visi dan misi karena paling tidak, hanya tahu tentang “tujuan”. Sehingga, dalam membangun suatu organisasi atau industri sekalipun sedikit yang menekankan pada pembuatan visi dan misi sebagai arahan untuk masa depan mau dibawa kemana organisasi atau industri ini. Kurangnya informasi terhadap visi dan misi pun sangat berpengaruh terhadap pembuatan visi dan misi itu sendiri.

            Tapi, dari sini, muncul hal yang menarik. Kita ambil contoh adalah industri-industri kecil (memang tidak dapat digeneralisasi karena ini hanyalah hasil pantauan penulis dari beberapa industri) atau biasa disebut home industry, mereka tidak memiliki visi dan misi yang tertulis atau formal seperti perusahaan besar lainnya, dan disini muncul suatu hal mengenai visi dan misi…

“Waduh, Saya sih tidak terlalu peduli dengan visi misi. Toh usaha dan karyawan lancar…”

            Ya, hal ini pun tidak dapat dipungkiri terjadi. Saya mencoba melihat dari sudut pandang owner dan diasumsikan bahwa orientasinya lebih ke profit dengan keadaan karyawan yang stabil. Tapi, bagaimana dengan daya saing untuk di masa depan? Seperti yang dijelaskan di bagian pertama bahwa, salah satu unsur visi adalah untuk masa depan, dan memang kita kenal bersama di dalam industri tidak asing hadirnya putaran roda profit dan juga kompetitor. Nah, menjadi pertanyaan bagaimana organisasi atau industri itu meng-sustainkan bidangnya itu menghadapi berbagai pesaing dan konsumen untuk kedepannya?

Ini terkait juga dengan pemeliharaan berbagai unsur di dalamnya termasuk SDMnya. Mengapa saya menyoroti SDM juga? Karena, biar bagaimanapun salah satu unsur bahkan hal yang penting dalam suatu organisasi atau industri adalah SDM, manusia itu sendiri yang merupakan pelaku di dalamnya. Ketika para SDM memang memiliki keahlian-keahlian di atas rata-rata, ataupun SDM yang sangat berkualitas sekalipun, dihadapkan pada suatu organisasi atau industri yang tidak memiliki arah, atau pandangan ke depannya, atau apalah yang semuanya terangkum dalam visi dan misi, apa yang kira-kira terjadi untuk ke depannya?

“Ya, saya punya visi misi seperti ingin memajukan karyawan dan usaha…”

Dari pernyataan di atas pun hadir respon lain tentang visi dan misi dimana memang ada pihak yang mengetahui tentang perlunya visi dan misi tapi kurang di definisi operasionalnya atau bentuk konkrit pemaknaan visi dan misi yang diterapkan di dalam perilaku. Sebagai contoh, dalam suatu kesempatan diskusi dengan seseorang, saya menanyakan tentang visi dan misinya. Ia menjelaskan bahwa visi dan misinya lupa tetapi lebih kepada apa yang ingin ia lakukan. Dengan jawaban seperti itu diasumsikan bahwa pemaknaan yang ada terhadap visi dan misi serta keterkaitan dengan konkritnya terjadi ketidaksinkronan.

Jadi, apa yang bisa ditawarkan untuk menghadapi respon-respon seperti ini? Sejalan dengan salah satu nilai di Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala, Surabaya adalah solutif, disinilah akan coba dijabarkan tentang apa maksudnya cycle of spirit itu sendiri.

Cycle of Spirit à Styling – Justification – Internalization – Evaluation – Re…

 Styling

            Tentu saja adalah suatu hal yang pasti sebelum membuat visi dan misi adalah tentukan dulu apa saja yang akan menjadi orientasi kita. seperti akan bergerak di bidang apa, segmentasi pasar, SDM dan stakeholder yang terlibat di dalamnya, serta input-proses-output di dalam organisasi atau industri itu sendiri, ya intinya adalah kesemuanya merangkum menjadi satu, “What I want and What I need”

            Setelahnya, pembuatan visi dapat dibuat sebagai langkah awal, apa yang ingin dicapai kedepannya dan mau seperti apa. Dan dilanjutkan pada pembuatan misi. Kita menyamakan persepsi disini bahwa misi adalah bentuk nyata atau konkrit untuk mencapai visi.

Justification

            Setelah pembuatan visi dan misi, langkah selanjutnya adalah menjustifikasikan apakah visi dan misi itu sinkron, real, rasional, dan dapat diwujudnyatakan dalam suatu timeframe yang diatur sebagai agenda kegiatan pencapaian visi dan misi. Di dalam tahap ini pun dapat dilaksanakan proses pemilahan kata per kata untuk definisi operasionalnya. Dalam arti, tiap kata akan coba diinterpretasikan seperti apa sih konkritnya dari visi dan misi itu sendiri sehingga, dari situ persepsi tentang visi dan misi antar anggota yang terlibat di dalamnya memiliki kesamaan persepsi termasuk definisi operasionalnya itu sendiri.

            Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s