D’ MVP

Kakinya yang pincang dilangkahkan masuk ke dalam ruang kelas. Semua mata tertuju padanya. Ia pun langsung dihujani oleh berbagai celaan dari teman-teman yang seharusnya menjadi penyemangat baginya.

            “Eh, pincang, maen basket yuk!” Ajak Ran, anak kelas 3 yang jago basket dan merupakan kapten tim basket di sekolah Pelita Timur kepada Tio, si pincang itu.

            Tio adalah mantan pemain basket terbaik tahun lalu dan peraih gelar MVP di beberapa turnamen yang diikuti sekolahnya, tapi karena mengalami kecelakaan, kakinya patah dan pincang sampai sekarang. Ia pernah menajadi idola disekolahnya pra kecelakaan itu. Dengan modal sang  jawara basket, dan tampang yang sangat bernilai ditemani dengan gayanya yang ‘dingin’ serta ditemani dengan bau parfum yang selalu menghiasi dirinya, Tio mampu menggaet semua kaum hawa di sekolahnya. Namun, semuanya berubah seiring waktu berjalan, pamornya menurun karena keadaan fisiknya. Ia tidak lagi menjadi idola.

Idola di Pelita Timur kini adalah Ran, kapten basket sekolah mereka. Dengan wajah yang menggemaskan, Ran juga mampu menggaet semua perhatian dari tiap mata yang memandangnya, namun ia tetap tidak bisa menyamai kepopuleran Tio yang lalu. Ia pun tetap menggangap Tio sebagai seorang yang tetap harus dibasmi. Tio musuh bebuyutan Ran.

 Kaki Tio dilangkahkan dengan mantap ke arah kelas dibarengi dengan tatapan dingin menatap Ran meski atmosfir kelas yang meledek dia habis-habisan. Dia pun berkata

            “Pas lomba antar kelas, gue tantang lo maen horse.” Ajak Tio dengan suara yang halus namun mengisyaratkan ketegasan. Ran pun mendekatinya. Pandangan berapi juga dilontarkan Ran, ia tidak terima ditantang seperti itu. Ia pun hendak memukul Tio tapi tangannya langsung ditepis oleh Vin, cewek favorit di sekolahnya. Ia merupakan cewek incaran Ran, namun dengan tindakannya seperti ini, Vin mungkin akan langsung ilfil ke Ran.

            “Eh, apaan sih lo! Lo selalu nyiksa yang lemah. Dasar gak punya hati lo!” Kata – kata pedas terlontar dari mulut halus Vin kepada Ran yang saat itu langsung terdiam dan langsung pergi keluar kelas sambil menatap penuh amarah kepada Tio.“Eh, pincang, gue terima tantangan lo!” Sambung Ran dari arah luar kelas dengan nada yang sangat keras memecah ruangan kelas itu.

            “Oke, gue pasti tunggu lo, looser!” Teriak Tio. “Eh, Vin, lo apa-apaan sih! Gak usah sok bae deh ma gw apalagi sok perhatian!” Tukas Tio dengan jutek. Tio satu-satunya cowok disekolahnya yang tidak menyukai Vin, tetapi, dari kelas 1 ia rela menolak semua cowok hanya demi mendapatkan Tio meskipun sekarang keadaannya seperti itu.

            “Tapi, lo hampir dipukul, gw harus…” Ucapan Vin langsung dibalas dengan berlalunya Tio dari kelas itu tanpa mempedulikan perhatian dari cewek yang sangat manis itu.

            “Tio, biar lo gak peduliin gw, gw tetep tunggu lo!” Vin berteriak tapi tetap tidak dipedulikan Tio, si pincang.

Tio pun berjalan ke arah lapangan basket yang saat itu dipenuhi oleh para siswa yang sedang saling mengadu ketrampilannya dalam menggiring dan menguasai ‘si bundar’. Di situ berkumpul pula Ran dan teman-teman setimnya…

To be continue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s