Surat Biru – Bagian 2

*****

Wili dan Kayla pun menjadi semakin dekat. 3 bulan mereka telah saling mengenal. Mereka saling curhat tentang masalah-masalah yang mereka hadapi. Mereka saling mengenal lebih dekat. Tidak ada kata pengikat di antara mereka meskipun benih-benih cinta sudah mulai berkembang di dalam hati mereka, hingga pada suatu siang di belakang sekolah…..

            “Kay…” 

            “IIiiyaa..adaa apa, Wil?”

Gue sebenarnya suka ma elo semenjak gue datang kesini. Gue sangat suka sama elo. Saat gue liat elo pertama kali, elo langsung ngasi seberkas cahaya harapan buat gue. Gue begitu terpesona dengan kecantikan elo tapi sikap elo yang begitu baik yang membuat gue sangat suka sama elo.” Oceh Wili dengan gombal serta tatapan yang sangat tajam namun begitu menghanyutkan perasaan bagi siapa saja yang mendengar ucapan Wili ditambah dengan suaranya yang begitu merdu sangat cocok untuk berbagai telinga

“Intinya..?” Tanya Kayla dengan tersipu malu dan muka memerah. Ia makin tertunduk, tidak berani melihat ke arah Wili yang saat itu sedang berdiri tegap layaknya pangeran yang menyatakan cintanya kepada permaisurinya.

Elo mau jadi pacar gue?” Pinta Wili dengan hangat, sehangat wajahnya yang memancarkan aura kepada Kayla.

“HAAAA….WHATZZZ?”

“Iya. Elo mau gak jadi orang yang mendiami hati gue?”

“Haduh..sebenarnya sih gue juga suka ama elo. Tapi…”

“Tapi apa Kay?”

“Tapi. Maaf. Gue gak bisa nolak.” Kayla menjawabnya dengan penuh kepastian serta suatu jawaban yang begitu penting bagi Wili. Mereka pun berpelukan. Namun ternyata, di balik pohon mangga yang besar di dekat situ, Aldi mendengar semuanya.

“GGRRR….Sssiaall!!! awas elo, Banci!!!”

*****

“Barang ada. Gue anterin 3 bulan depan. Jangan lupa buat gue.” Pembicaraan misterius dari bergaung dari dalam gudang belakang sekolah.

*****

3 bulan hubungan mesra Wili dan Kayla tetap terjalin. Menjelang perayaan 3 bulannya, Wili menjanjikan sebuah hadiah yang sangat indah bagi Kayla yang diistilahkannya sebagai “surga”. Kayla pun hanya menunggu hari itu.

Hari kebahagiaan pun tiba. Mereka hari ini tidak masuk sekolah hanya untuk merayakan perayaan 3 bulanan mereka. Pada pagi hari, Wili menjemput Kayla di halte bis, agar supaya tidak menimbulkan kecurigaan di pihak keluarga Kayla. Mereka pun pergi. Di mobil, Wili menutup mata Kayla, dengan alasan surprise. Sepanjang perjalanan mereka hanya mengobrol dan bercanda.

Sementara di MatterDam. Kevin sibuk mencari Aldi. SMSnya tidak dibalas. Entah dimana keberadaan ketua mereka itu.

*****

Mobil Wili pun berhenti. Wili membuka tutup mata Kayla. Kayla kaget dengan semua yang dilihatnya. Mereka berada di daerah puncak. Wili telah mempersiapkan suatu meja khusus lengkap dengan makanan enak plus pemandangan yang menyejukkan mata. Perayaan 3 bulanan yang begitu sempurna. Satu kekurangannya, tempatnya sangat sepi, Tempat itu khusus dipesan oleh Wili jauh dari kebisingan dan agar keromantisan bakal lebih terasa di tempat itu.

“Selamat 3 bulan sayangku. Kita tetap sama-sama selalu ya. Kamu suka dengan semua ini?”

“Aku suka banget sayang.” Kayla takjub memandang alam yang begitu indah. Pepohonan seakan menyambut kedatangan serta diiringi alunan merdu deruh angin yang berhembus lembut. Ditemani burung-burung yang berkicau seakan berbalas pantun tentang perasaan cinta. Semua begitu sempurna.

Wili pun mengecup dahinya dengan mesra, Kayla memejamkan matanya. Berbagai perasaan yang bercampur aduk bagi Kayla di hari itu. Ia begitu terharu. Kayla yang saat itu mengenakan kaos casual merah bergaris hitam di bagian perutnya dan celana jeans biru yang begitu indah. Ia dituntun Wili menuju meja makan dan telah terhidang berbagai makanan dan minuman yang lezat.

Mereka makan sambil berbincang-bincang. Tiba-tiba, Wili pamit pergi ke toilet dengan alasan ia sangat kebelet. Ia pun bergegas ke “toilet”.

*****

“Barang uda datang.”

“Barang juga siap. Transfer siap” Telepon misterius kembali terjadi.

*****

Wili kembali dengan terburu-buru. Ia pun melanjutkan acara makannya. Mereka begitu romantis….

BRUUMMBRUMMM…BBRRRUUMMMM…

2 buah mobil Jeep parkir di dekat tempat itu. Dari dalam mobil, keluar 6 orang yang berperawakan menyeramkan dan 1 orang memakai jas dan berkacamata hitam. Gayanya sama seperti Yakuza yang berasal dari Jepang. Kayla langsung menjadi takut.

Bro, Barang loe bagus juga.” Teriak Yakuza melihat Kayla yang begitu kalem namun menggoda bagi siapa saja yang memandangya.

“Mana gantinya?” Tanya Wili kepada Yakuza yang tengah berjalan menghampiri mereka.

“Wili, ada apa ini?” Kayla ketakutan.

“Sayang, ini surga yang aku maksud. Mereka malaikat-malaikatnya. Mereka menjemputmu” Suara Wili menggema lembut, seraya menunjuk ke arah Yakuza dan anak buahnya.

“Maksudmu?!¨

“Sayang, inilah aku. Aku pengen ngucapin selamat tinggal buat kamu dan terima kasih uda temani aku selama 3 bulan ini.. Namun, sebelum mereka mengajakmu ke surga, biarkanlah aku ngerasain nikmat dunia dari kamu!” Spontan, Kayla berlari namun Wili segera menguasainya kembali.

            “Dasar perempuan bodoh. Loe gak bisa lari dari gue! Gak ada yang dengerin rengekan elo!¨ Kata Yakuza dengan santai. ¨WOY!! CEPETAN, GUE GAK PUNYA WAKTU, INI BARANGNYA!” Yakuza menyahut dan menuju ke mobil sambil mengambil sebuah plastik hitam.

Kayla dicengkram Wili, tangannya mulai mencoba membuka baju Kayla

“TOOOOLLLOOOONNNNGG!!!”

……………………………………………………………………

“WOY..LEPASIN DIA!!!” Aldi muncul dari balik pepohonan dan langsung menerjang Wili yang hampir saja menggerayangi Kayla.

Aldi melawan Wili. Aldi segera menonjok Wili, namun anak buah Yakuza itu langsung mencengkram dan menghajarnya. Mukanya ditonjok sampai darah segar segera mengalir dari hidung, mulut dan pelipisnya. Aldi tidak bisa melawan, hanya bisa menghindar dari pukulan dan tendangan mereka. Wili bangun dan menghajar Aldi. Mereka menahan Aldi, dan Wili menonjok perutnya berulang kali.

“HAHAHAHA….Inilah gue yang sebenarnya. Kalo loe selamat, nih bakal jadi pelajaran, Di. Semoga elo bisa selamat.”

BUUUKKK…

“AHHH”

“Ini pukulan kedua saat di kelas itu….”

BBUUUKKK…

“AHHH..kkknnppaaa hhhaaarrruusss…dddiiaaa…”

“BACOT LOE!!!!”

Pukulan terakhir dari Wili kena telak di wajah sang ketua gang MatterDam dan hidung Aldi berlumuran darah. Sementara itu, Kayla ditangkap sang Yakuza. Kayla diseret ke mobil Yakuza itu, namun ia sempat membuat perlawanan dengan meronta-ronta. Kayla tidak sanggup melawannya…

PLLAAAKK!!!!

Suatu tamparan keras melayang ke wajah cantik Kayla. Yakuza berteriak ke arah Wili dan Wili pun memberikan “hadiah” terakhir buat Aldi. Ia menendang Aldi dengan sangat keras. Aldi kirits.

“ALLDDDIIII!!!!!” Teriak Kayla..tapi…

PLAAAK!!!! Kayla ditampar dan diseret ke dalam mobil. Mereka mencoba segera meniggalkan tempat itu. Dengan segera Yakuza mencoba menyalakan menyalakan mobil Jeepnya yang besar itu.

namun…………….

NGGIIIUUNNNGGG—-NGGIIIUUNNGGG—-NGGGGIIUNNNGG….

Sirene polisi membahana di daerah itu. Para komplotan kaget dengan kehadiran tamu yang tak di undang itu. Ternyata, Aldi telah menelpon pihak kepolisian dengan alasan adanya komplotan perdagangan wanita. Mereka mencoba meloloskan diri. Yakuza mencoba meng-starter mobilnya, tapi tidak juga berhasil. Anak buahnya serta Wili lari terbirit-birit ke dalam hutan seperti tikus yang dikejar kucing. Dewi Fortuna tidak berpihak ke mereka lagi. Dibantu warga, polisi langsung menyergap gerombolan penjahat itu. Tak ada perlawanan berarti dari para pelaku.  Mereka langsung menyerah. Wili terus berlari, tapi sayangnya, sebuah timah panas menembus kulit pahanya yang dilapisi jeans biru yang cukup tebal berlogo L-A

Yakuza segera turun dari mobil dan langsung berlari menuju hutan dengan arah yang berlawanan dengan gerombolan Wili yang telah tertangkap lebih dulu. Ia memberikan perlawanan yang cukup menyibukkan polisi. Yakuza membawa pistol. Kontak senjata terjadi antara pihak polisi dan Yakuza itu. Yakuza bersembunyi di balik pohon yang cukup besar. Tapi, tak lebih dari 5 menit, kontak senjata itu terhenti karena para warga menyergapnya dari belakang, memukul leher Yakuza  dengan batang pohon dan ia jatuh pingsan. Polisi langsung memborgolnya dan membawanya. Wili dan anak buahnya lebih dahulu diringkus. Dengan luka yang sangat perih oleh timah panas yang menghantam pahanya, Wili berteriak tidak jelas, yang pasti berbagai sumpah serapah dimuntahkannya.

Kayla langsung berlari mendapati Aldi yang sedang tergeletak di tanah dengan berlumuran darah di sekujur wajahnya dan tubuhnya. Kayla hanya menderita memar pada wajahnya. Kayla langsung tersungkur dan mengangkat Aldi ke pangkuannya.

“Aldi..maapin gue yaa..Aldi bangun Di. Banguunn…plisssss……”

Beberapa waktu kemudian, Aldi agak sadar. Sepertinya, dia hanya pingsan karena beberapa benturan yang mengenai kepalanya. Kayla menjadi sangat senang. Para warga segera mengikuti mobil polisi. Tinggallah Aldi dan Kayla disitu. Permusuhan yang selama beberapa dilakoni mereka berdua lenyap dibawa pergi oleh kicauan burung, dan angin pun membawa suatu kehangatan yang baru bagi mereka. Mereka berdua terhenyap dalam obrolan dan canda yang hiasi mereka. Senyum yang indah merekah di tiap bibir mereka.

“Coba gak ada kejadian ini. Pasti kita masih saling musuhan.” Ujar Aldi dengan nada bercanda, dan Kayla pun hanya tersenyum sambil membalas dengan cubitan mesra.

Loe tuh ye. Coba kalo elo tuh dari dulu kayak gini. Tapi bagus juga sih, muka loe ada souvenir gitu.” Ledek Kayla dan pipinya pun langsung dicubit Aldi. Suatu candaan yang tiba-tiba menjadi suatu tatapan. Udara seakan berhenti, tidak ada suara apapun, hanya napas mereka berdua yang saling memburu. Aldi pun menatap Kayla dengan tatapan yang sangat dalam. Kayla dengan wajah memerah langsung menundukkan kepalanya, namun Aldi mencoba bangkit dari pangkuan Kayla dan mengangkat wajah Kayla.

Elo cakep juga ya. Tapi sayang, kurang jerawatnya.” Ledek Aldi dan suasana romantis mereka pun pecah. Kayla teriak kesal kepada Aldi namun Aldi dengan tidak sengaja memegang tangan Kayla. Mereka berdua pun kembali terdiam. Semua kejadian itu berlangsung cepat. Tanpa disadari waktu terus bergulir, dan keadaan Aldi semakin parah.

*****

Sementara itu di MatterDam, Kevin dengan gusarnya mencoba untuk terus menghubungi Aldi, namun hanya operator teleponlah yang menemaninya. Ia pun pergi ke kelas. Di kelas, ia pun tetap mencoba untuk menelpon Aldi. Tidak ada jawaban. Kevin menjadi semakin takut. Entah apa yang dipikirkan Kevin, ia membongkar laci meja Aldi. Ternyata, laci itu penuh dengan tumpukan kertas sperti hasil ulangan, tugas-tugas, kertas contekan, serta berbagai kertas lainnya. Sementara membongkar dengan asyiknya, sebuah amplop biru jatuh ke lantai. Kevin segera mengambil amplop yang tak berjudul itu. Amplop itu begitu harum dan makin yakinlah ia bahwa ada surat yang terbungkus olehnya. Intuisi Kevin menyatakan ia harus membuka amplop itu meskipun ia tahu bukanlah miliknya. Kevin pun membukanya dengan sangat gugup. Benarlah pikirannya, sebuah surat mencuat dari dalam amplop beraroma wangi itu. Sebuah surat dengan kertas biru yang juga harum, laykanya surat cinta yang akan diberikan kepada seseorang yang terkasih. Kevin membaca surat itu dalam hati…..

Musuh Gue.Kayla..

Emang sih, selama ini Gue seneng buat onar apalagi gangguin elo…

Tapi, setidaknya elo harus tau Gue kayak gini semata-mata dapetin perhatian dari elo.

Semoga pas surat ini nyampe di elo, elo tau perasaan gue yang sebenarnya…

ALDI LOVE KAYLA SO MACCHH..

 

            “Apa?!” Kevin berteriak kaget setelah ia membaca surat itu. Ia begitu tercengang, bingung, merasa dimainkan dengan isi surat itu. Kevin sontak terdiam, ia menjadi begitu pucat dan berkeringat. Ternyata selama ini……..

*****

            “Di, gimana elo tau mereka jaat?” Tanya Kayla sambil mengusap rambut Aldi yang kering karena darah.

Gue takut elo gak percaya. Gue sering denger Wili telponan tapi misterius gitu, trus dia nyebutin nama elo dengan sebutan “barang”. Gue langsung curiga, bis tuh, gue juga denger dari berita, ada sindikat penculikkan gitu sama bandar narkoba yang di dekat kompleks kita, gue jadi makin curiga, makanya gue ikutin elo.”

“Bagaimana gue bisa percaya?”

Elo gak percaya juga gak apa-apa. Lagipula kita uda gak akan ketemu lagi.” Wajah Kayla yang awalnya sangat bercahaya menjadi sangat pucat. Kayla sangat kaget dengan semua itu. Aldi langsung menyambung….

“Biasanya, orang yang ditusuk pake pisau racun bertahan ampe berapa lama?” Tanya Aldi dengan senyum yang langsung menusuk hati Kayla.

Kalo gak salah cuma setengah jam gitu. Kok elo tanya gitu, Di??” Kayla sangat takut. Ia menjadi begitu pucat dan tak mampu menahan air matanya

“Hei. Hei. Kenapa menangis. Gak apa-apa. Ini takdir, La. Gue tadi ditusuk pake itu, La”

Kayla menjadi semakin hancur. Dengan tangan yang sangat gemetaran, ia membuka sedikit baju Aldi, benar, ada bekas tusukan pisau namun tidak berdarah dari luka itu. Lukanya hanya seperti goresan penggaris besi yang biasa digunakan Aldi untuk menakut-nakuti lawannya. Aldi mulai tersengal-sengal. Napasnya menjadi tak teratur dan tangan serta kakinya mulai dingin. Wajah Aldi makin memucat. Kayla mencoba untuk memanggil pertolongan tapi tangannya ditahan Aldi.

“Kay…Plliiizzzz. Gak usah, tapi gue pengen denger pengalaman elo tentang gue.” Kayla mencoba mengelak dan melepaskan genggaman Aldi.

“Kay… Jangan.” Suara Aldi serak dan napasnya bisa dihitung dengan jari. Kayla pun hanya kembali terduduk. Air matanya berlinang dan membasahi bajunya yang lebih dahulu dibasahi keringat. Aldi mencoba mengusap air mata Kayla. Dengan tangannya yang berlumuran darah dan debu, pipi Kayla pun diusapnya.

Aldi memejamkan mata dan sambil menguatkan diri, Kayla mulai bercerita dengan semangat sambil menahan tangis. Ia pun bercerita panjang lebar. Aldi hanya memejamkan matanya di pangkuan Kayla. Tapi, setelah beberapa saat…

“DI!! ALDI BANGUN DI!!..ALDI BANGUN!!!AAALLDDII!!!” Kayla menggoyang-goyangkan tubuh Aldi. Tak ada respon. Alam berdesir sepi. Semua tertunduk. Layar tertutup, semua berakhir….Surat biru itu tetap terjaga, terkoyak sampai tidak ada yang tahu. Perasaan Aldi tetap disimpan ditengah perasaan bimbang Kevin.

“Kev, loe emang sahabat gue. Surat biru itu benar, tapi, dia gak perlu tahu.”

One thought on “Surat Biru – Bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s