Gula Gula Bagian 1

Dia melirik ke arah lapangan basket yang sangat ramai dan dipenuhi oleh berbagai sosok manusia berkarakter berbeda-beda dengan pandangan sayu dan tatapan kosong. Terlihat dan terbayang dia bisa bermain dan bergabung dengan salah satu kumpulan manusia itu, namun hanya kesendirian dan kesunyian yang selalu menjadi teman baik baginya. Mereka semua adalah musuh dan momok baginya. Dia begitu tersiksa namun apa daya tak mampu melawan, dia begitu terbelenggu, namun apa daya tak mampu berdiri. Hanya satu yang mampu mengobatinya. Sebuah permen yang berbalut merk terkenal selalu menghibur dirinya yang selalu galau.

            “Hai, anak hilang. Kenapa loe menyendiri? Tidak punya teman ya? Makanya, disekolah itu bergaul jangan cuma hidup dalam diri loe sendiri!” Kata seorang anak berperawakan tinggi dan agak gendut serta pandangan mata yang begitu tajam seakan-akan siap menyabit orang yang ditatapnya. Lavi membalikkan badannya sambil kepalanya tertunduk dan mulutnya seakan berhenti mengunyah. Dio mulai menghampirinya dengan senyumnya yang licik.

 Lavi adalah seorang anak misterius, sangat tertutup dan tak pernah mengenal apa yang namanya teman serta sosialisasi. Ia begitu misterius, sampai-sampai orang menggangapnya autis sehingga ia selalu menjadi sasaran ledekan dari orang-orang yang seharusnya menjadi temannya. Baik cowok maupun cewek selalu mengolok-olok dirinya, namun ia hanya diam membisu sambil mengunyah permen. Sikap seakan-akan tidak mempedulikan lingkungan inilah yang menjadi alasan bagi Dio, anak laki-laki ternakal dan sumber inspirasi kekacauan yang terjadi di sekolah Setia Jaya Jakarta Timur, untuk selalu mencelah bahkan mem-bullying Lavi.

“Eh, Vi, memangnya loe tidak bosan berdiam diri sendiri, tidak punya teman, diledek-ledekin seperti ini dan cuma mengurung diri loe di kelas sambil mengunyah permen yang tidak jelas itu?” Kata Dio melanjutkan pertanyaannya yang pertama seraya mendorong badan Lavi dan mencoba mengambil sesuatu yang ada di kantong Lavi. Lavi segera menepis tangan Dio dan mencoba untuk pergi dari situ namun ia ditarik lagi oleh Dio.

“Wow, loe berani juga ternyata. Kalau begitu, gue akan beri loe hadiah yang pantas.” BBBUUUUKK!!! Dio dengan ekspresi wajah yang sangat kesal, memerah penuh amarah, menonjok Lavi disaksikan oleh teman-temannya yang ada di dalam kelas itu tapi tidak seorangpun yang menolong Lavi karena tidak seorang pun yang mempedulikan dirinya. Tidak ada kata yang terucap dari mulut Lavi. Lavi merintih kesakitan dan ia pun langsung berlari ke luar entah pergi kemana. Ia berlari sambil menahan sakitnya yang meraung-raung dari perutnya tanpa mempedulikan gelak tawa yang pecah dari dalam ruangan kelasnya.

“Lari! Lari! Lari banci!” Teriak Dio dengan nada yang amat sangat bersemangat. Itulah salah satu bullying yang sering dipraktekkan Dio dan teman-temannya selama 3 tahun mereka bersekolah di sekolah itu kepada Lavi namun ia hanya diam, menerima semuanya tanpa bicara dan hanya tatapan kosong yang dilontarkan kepada siapa saja yang mengolok-olok dirinya. Apabila dia dipukul, ia akan segera berlari keluar kelas.

Dio kembali ke tempat duduknya dan mengobrol bersama teman-temannya sambil menunggu pelajaran selanjutnya. Lavi pun tidak masuk kelas. Keberadaannya ditanya oleh guru namun, Dio dan anak-anak yang lain mengatakan mereka tidak tahu. Guru-guru di sekolah itu pun menjadi bingung, kemana Lavi sering beranjak?

Jam pulang sekolah pun tiba. Bunyi bel berdentang begitu keras dan semua berteriak senang.Parasiswa pun pulang ke rumah masing-masing sedangkan Lavi dengan wajah yang sangat ketakutan dan pucat mengumpat-ngumpat sambil keluar dari tempat persembunyiannya untuk mengambil tasnya. Kelasnya telah sepi. Kelas itu kosong, tanpa ada penghuninya, tanpa tas Lavi juga yang dianggapnya berada disitu. Ia pun dengan kepala tertunduk sedih lagi keluar dari ruang kelas dengan lusuh namun tetap mengunyah permen anehnya itu. Lavi begitu sedih dengan apa yang selalu menimpanya. Tepat di depan gerbang sekolah ada sebuah parit yang berair. Air dari parit itu sangatlah bau. Ia pun melintas disitu. Alangkah terkejutnya ia melihat tasnya telah dipenuhi cairan berwarna merah yang diduga darah hewan serta air dari parit. Matanya berkaca-kaca sambil mengamit bibirnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kali ini mentalnya begitu tertekan setelah tadi fisiknya diguncangkan oleh Dio. Ia tidak mengambil tasnya dan langsung melangkahkan kakinya pulang ke rumah dengan perasaan kesal, sedih, marah, yang telah bercampur menjadi satu di dalam pikiran dan batinnya.

*****

Lavi tinggal dengan ayahnya, namun ayahnya adalah seorang pebisnis yang cukup besar. Tidak ada waktu yang tersedia bagi Lavi oleh ayahnya. Ayah Lavi menganut paham uang adalah sumber kebahagiaan. Oleh sebab itu, ayahnya hanya memberi uang kepada Lavi tanpa memperhatikan perkembangan Lavi. Ibunya yang seharusnya berada di samping Lavi sekarang hanya bisa meratapi nasib anaknya dari balik lapisan awan ketujuh.

Ia pun sampai di rumahnya. Di balik rumahnya yang bisa dibilang istana itu hanya ia sendirilah yang disana. Tidak ada pembantu ataupun orang lain. Ayahnya pergi ke kantor amat sangat pagi dan pulang pada saat tengah malam.

Kejadian hari ini tampaknya membuat kesabarannya habis total. Ia diolok-olok, diperlakukan secara kasar, dan tasnya dibuang di parit dan dilumuri darah hewan membuat batas kesabaranya sebagai manusia normal tuntas sudah. Sesampainya di rumah, ia langsung menghancurkan barang-barang yang ada di rumahnya seperti melempar gelas, piring, dan segala perabotan rumah. Sebuah tindakan anarkis dan bentuk peluapan emosi dari seorang yang selama ini tertindas dan tersisihkan. Tindakan anarkisnya ini membuat fisiknya menjadi tambah lemah, setelah berbagai kejadian buruk telah mengguncangkan fisik dan mentalnya selama ini. Ia pun berjalan terhuyung-huyung dan terjatuh di daerah taman belakang rumahnya. Ia tertidur pulas.

Jam menunjukkan pukul 18.00. ia pun terjaga dari tidurnya. Sebuah layanan pesan singkat masuk ke telepon genggamnya.

From               : Dio

Date                : 13 September 2008

Messages         : Eh. Bego. Besok gue akan beri pelajaran yang lebih berharga buat loe. Pelajaran itu akan melebihi dari suatu pukulan atau lumuran darah burung seperti tadi. Jangan lupa persiapkan mental, fisik, terutama permen aneh loe itu.

Lavi hanya terdiam sebentar, lalu tertawa. Ia tertawa lepas, seakan-akan pesan singkat tadi adalah suatu pesan singkat yang bertemakan humor. Lavi tidak bisa mengontrol tertawanya. Ia segera bangkit dari tidurnya, dan berjalan ke arah gudang sambil tertawa. Di sanaia menyalakan lampu, dan mulai memasukkan barang-barang yang misterius ke dalam backpack-nya. Ia mengatur backpack-nya sambil tak henti-hentinya tertawa. Apabila ada orang yang melihatnya, kesan pertamanya adalah Lavi gila. Tidak, ia tidak gila. Itulah luapan emosinya saat ini, setelah tadi bertindak anarkis dengan menghancurkan segala barang yang ada.

Setelah selesai membereskan backpack-nya yang kini dipenuhi oleh barang-barang misterius, Lavi pun pergi ke kamarnya untuk tidur.

“Hari baru akan menungguku.” Itulah desahan Lavi sebelum matanya terpejam dan tubuhnya dimanjakan oleh kasur air yang mahal bermerk internasional…..

bersambung…

One thought on “Gula Gula Bagian 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s