Gula Gula – Bagian 2

*****

“Hei. Apa yang akan kita lakukan buat Lavi besok. Gue sudah tidak sabar untuk mengolok-olok dia lagi. Dia jadi sumber hiburan di kelas kita bahkan di sekoah kita.” Kata Dio sambil menelpon teman-teman sekelasnya. Mereka akan menjadi sangat kompak dengan hal yang menyangkut bullying terhadap diri Lavi. Berbagai saran dan pendapat didiskusikan untuk lebih mem-bullying Lavi.Ada yang mengusulkan menguncinya didalam gudang belakang sekolah sambil dtemani kecoa serta tikus selokan.Ada juga yang mengusulkan menguncinya di dalam toilet dan menelanjanginya serta menggiringnya ke kelas dengan hanya mengenakan pakaian dalam.

            “Baik. Semua usul kalian akan kita laksanakan satu-satu. Itulah akibatnya bagi orang yang tidak mau berbaur dengan kita.” Kata Dio sambil mengakhiri percakapan yang sangat jahat itu. Mereka pun setuju untuk lebih mem-bullying Lavi.

*****

Keesokan harinya, cuaca sangat cerah. Lavi mengawali harinya dengan sebuah senyuman merekah dari bibirnya. Lavi melangkah dengan pasti untuk pergi ke sekolah hari ini sambil memanggul sebuah backpack yang penuh. Tampaknya, segala emosi dan berbagai perasaan yang galau dan tak mengenakkan kemarin telah terlepas dari dirinya. Namun, Lavi tetaplah Lavi. Tidak ada yang mengetahui apa arti dari senyumnya serta semangatnya hari ini dalam menjalani hari.

Sesampainya di sekolah, Dio dan kawan-kawan telah bersiap untuk melancarkan aksi-aksi mereka yang telah didiskusikan tadi malam.

“Selamat pagi Lavi.” Kata Dio kepada Lavi dengan nada yang amat sangat ramah. Suatu keajaiban terjadi.

“Selamat pagi juga, Dio.” Suatu pekataan halus keluar lembut dari dalam mulut Lavi. Mereka semua yang berada di kelas itu sontak terkejut dan terperanjat dengan apa yang barusan di dengar mereka. Lavi menyapa. Sapaan Lavi diikuti dengan tatapan tajam dari matanya yang langsung ditujukan kepada Dio yang saat itu tepat berdiri di hadapannya.

“Wah. Loe sangat bersemangat hari ini. Bagus. Kenapa Lavi?” Tanya Dio dengan sangat heran. Ekspresi yang sama pun ditunjukkan oleh teman-temannya.

“Tidak apa-apa. Dio, kata loe…” Jawab Lavi singkat, namun Dio langsung menyambung perkataan Lavi.

“Oh iya, gue punya kejutan buat loe. Tutup mata loe deh.” Pinta Dio dan Lavi dengan lugunya langsung mengiktui perintah Dio. Lavi pun memejamkan matanya. Dio segera mengambil kain dan menutup matanya. Pintu kelas pun ditutup. Dio memberi kode kepada rekan-rekannya untuk memulai proses bullying lagi sesuai dengan yang dibicarakan tadi malam. Setelah matanya di tutup, Lavi melenguh,

“Adaapa Dio? Kenapa mata gue ditutup?” Tanya Lavi dengan sangat polos. Namun, pertanyaannya tidak dijawab. Suasana kelas menjadi sangat sepi. Tapi tiba-tiba….

BBYYYUUURRRR!!!

Mereka menyiramnya dengan berbagai cairan yang menjijikan dengan bau yang sangat menyengat. Cairan itu merupakan campuran dari air sabun, air seni, maupun air parit yang sangat bau dan menjijikkan. Pecahlah tawa disitu. Mereka semua menertawakan Lavi, sambil menutup hidungnya karena bau yang sangat menyesakkan hidung.

“Eh, Vi. Meskipun loe sudah semangat, itu bukan berarti loe bebas disini. Harus tetap tahu diri. Jangan sombong. Ini cuma salah satu hadiah kenagan dari kami buat loe. Siapa tahu, loe sebentar lagi akan pergi dari sekolah ini.” Kata Dio dengan sangat tajam. Perkataan Dio sangat melukai hati Lavi, namun mereka amat sangat terkejut dengan apa yang diperbuat Lavi dengan keadaan matanya tertutup. Sebuah senyum mereka dari bibirnya yang telah dilumuri oleh cairan laknat itu.

“Terima kasih teman-teman. Tapi gue juga punya hadiah khusus buat kalian semua. Sebelumnya tolong buka tutup mata gue.” Ucap Lavi dengan sangat santai. Perkataan Lavi tidak menimbulkan kecurigaan apa-apa terhadap diri Dio dan anak-anak yang lain. Mereka menganggap perkataan Lavi hanyalah suatu bualan belaka. Tapi, mereka tetap mengikuti perkataan Lavi untuk membukakan tutup matanya.

Mata Lavi pun dibuka. Suatu tatapan yang sangat tajam kembali diperlihatkan Lavi kepada semua yang berada di tempat itu. Pancaran matanya diantara lumuran campuran tinta, air seni, sabun, dan berbagai campuran lainnya yang menghiasi mukanya seakan menyatakan sebuah fakta bahwa “inilah gue yang sebenarnya, yang akan kalian ketahui.”   

“Mana hadiahnya Lavi?” Tanya Dio sambil memukul kembali kepala Lavidan mendorong tubuhnya. Lavi pun hanya tetap tersenyum dan mengambil barang dari backpacknya.

Sungguh, tidak bisa dipercaya. Barang misterius itu benar-benar bertolak belakang dengan pribadi seorang Lavi.

“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Dio tiba-tiba berteriak setelah Lavi mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Tubuh Dio terjatuh terlentang. Mereka yang berada disitu menjadi sangat tegang, berusaha untuk melarikan diri sambil menggedor-gedor pintu, namun pintunya tidak bisa dibuka karena dikunci dan kuncinya dipegang oleh Dio. Dio jatuh terkapar bersimbah darah. Lavi pun berdiri diatas meja dan mengeluarkan seluruh yang ada di dalam backpacknya.

Sebuah pistol berpelurukan kaliber 12mm dengan peredam bunyi dikeluarkan Lavi dari balik backpack-nya. Ia pun menembaki seluruh yang ada dikelas itu. Mereka jatuh satu per satu bersimbah darah. Kelas menjadi sangat kacau. Mereka menggedor-gedor pintu, namun tidak berhasil dibuka. Lavi mengarahkan pistolnya ke arah kerumunan teman-temannya yang ada di pintu dan mulai menembaki mereka. Peluru itu amat sangat tajam sehingga satu peluru bisa menembusi dua sampai tiga badan teman-teamnnya. Mereka menjadi begitu ribut. Badan-badan teman-teman Lavi pun mulai terkujur kaku, ada juga yang menggelepar-gelepar karena timah panas menghujani tubuh mereka.

Setelah puas menembaki teman-teman, ia mengambil beberapa pisau dapur yang amat sangat tajam dan melemparkannya ke arah teman-temannya yang berkumpul sambil mendobrak pintu. Beberapa pisau itu sukses menancap tubuh-tubuh yang baginya adalah tubuh-tubuh yang sangat berdosa. Sungguh, suatu perlakuan yang sadis untuk anak berumur 17 tahun.

“Inilah gue yang sebenarnya. Gue adalah Lavi, korban kalian. Kalian yang memulai, kalian yang mengakhiri. Terimalah ini!!!” Teriak Lavi dan melanjutkan pelemparan pisau-pisau tajam itu secara lebih membabi buta dan sambil tertawa lebar. Sebuah tanda kepuasan dari Lavi sebagai pembalasan dengan apa yang diterimanya selama 3 tahun ini.

Pintu pun berhasil didobrak, namun kejadian di kelas itu belum mencuri perhatian sekolah karena keributan dalam kelas menjadi suatu hal yang biasa di sekolah itu. Setelah berhasil didobrak, anak-anak yang masih tersisa berhamburan keluar kelas sambil meminta tolong dan histeris. Langsung saja sekolah menjadi sangat ramai. Pihak sekolah menjadi sangat terkejut dengan apa yang telah terjadi. Seisi sekolah pun berbondong-bondong datang ke kelas Lavi dan mendapati sekitar sembilan siswa Setia Jaya telah tewas akibat luka tembak, beberapa masih terkapar akibat luka tusukan dari pisau-pisau yang menancap di tubuh mereka dan salah satu korbannya adalah Dio, biang dari sumber pem-bullyingan kepada Lavi.Para siswa siswi menjadi sangat histeris dengan kejadian itu, para guru pun menjadi sangat takut. Mereka hanya berdiri mematung karena saking kagetnya.

Mereka pun mencari Lavi, otak di balik pembantaian ini, namun ia menghilang tanpa jejak seakan telah di telan Bumi. Di atas meja Lavi, didapati satu-satunya tanda peninggalan Lavi, sebuah permen yang masih terbungkus rapi dengan merk yang terkenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s