Ketika Nantinya Dituntut untuk Menjual Diri

Seperti yang dikatakan oleh Anies Baswedan dalam jejaring sosial pribadinya mengatakan bahwa, “Human capital, not human resources.” dan “Apa kekayaan utama RI? Bukan laut, bukan hutan, bukan migas, bukan tambang tapi manusia Indonesia, Manusia yang tercerahkan.”

Ya, unsur terpenting dalam human capital adalah manusia itu sendiri. Dan yang paling penting dalam suatu sumber daya adalah manusia itu sendiri memang.

Mengapa manusia?

Ketika kita membuat suatu teknologi baik dari yang paling sederhana maupun kompleks, unsur yang utama adalah manusia. Sebut saja pembangunan pabrik, meskipun tetap menggunakan peralatan berat yang super canggih sekalipun tetap akan dioperasikan oleh yang namanya manusia. Dan juga, di segala bidang kehidupan, manusia adalah peran sentral dari segalanya. Sebut saja dunia pendidikan, yang meskipun berbagai macam metode pembelajaran elektronikal telah berkembang, namun saja tetap dibuat oleh manusia. Ataupun di bidang ilmu pengetahuan dan sains, manusia tetap berperan penting dalam upaya invensi-invensi penemuan yang baru.

Lalu mengapa penting?

Ya, tentu saja. Karena merupakan unsur yang paling penting, manusia ini pun yang memiliki peran sentral dalam tiap usaha dan kerja, sehingga ketika manusia itu tidak memerankan peranannya ini,berkemungkinan akan terjadi gangguan.

“ahh, gak juga. Bukannya sekarang teknologi dan mesin-mesin memainkan peranan yang lebih penting? manusia kan tinggal memerintahkan para mesin saja untuk mengoperasikan atau bekerja untuk segalanya.”

Ya, memang benar, dan bahkan ada beberapa area yang sangat tergantung pada mesin. Contohnya yang paling simpel adalah warung internet, dimana semua usaha dan kerja dilakukan adalah tergantung oleh komputer dan internet, atau di pabrik industri yang notabene di dominasi oleh penggunaan mesin-mesin dan berbagai alat berat lainnya serta pada umumnya proses produksi tidak dapat berjalan tanpa adanya mesin-mesin itu.

Tapi, ketika kita melihat lebih dalam, manusialah yang berperan di dalamnya. Manusia yang tetap mengoperasikan semua mesin itu meskipun hanya melalui sentral, manusia itu pula yang me-maintance atau merawat kesemua mesin itu. Sehingga, dari sini dapat kita tarik asumsi bahwa, apa yang akan terjadi ketika manusia tidak ada? Dapatkah proses produksi dapat berjalan atau paling tidak dapat mengaktifkan kerja komnputer? Saya pikir tidak…

Tapi, jenis manusia apakah yang terlibat disini?

Mengacu pada pertanyaan tersebut, pasti akan dimulai oleh berbagai asumsi yaitu, manusia yang ahli di bidangnya, manusia yang berkualitas di bidangnya, manusia yang memiliki spesialisasi di suatu bidang, atau berbagai hal ideal atau normatifnyalah…ya, itu tidak salah, memang benar, orang seperti itulah, dan saya lebih menyukai menggunakan kata “orang terpilih” karena memang nyatanya tidak semua orang dapat terpilih di suatu kebidangan kerja tertentu. Agak canggung memang orang seni bekerja di bidang permesinan (meskipun mungkin saja hal itu terjadi) atau berbagai contoh lainnya. Menurut pengalaman pribadi di bidang pendidikan seperti halnya seorang praktisi dan akedemisi akan sangat berbeda dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa-siswi ataupun mahasiswa. Karena kesemuanya berkenaan dengan hal-hal yang telah saya sebutkan tentang “orang terpilih.” Nah, menyusuri hal tersebut, muncul pertanyaan disini,

Lalu, bagaimana caranya untuk menjadi “orang terpilih”?

Untuk dipilih, harus ada yang memilih. Untuk dipilih harus dikenal, dan untuk dikenal harus memperkenalkan diri. Sebuah logika dasar yang saya kira semua dari kita lumayan mampu untuk melihatnya. Disini, saya menggunakan kata “menjual diri”, dimana kita pun harus meng-ekspose-kan diri kepada para pemilih agar supaya mereka memilih kita.

Menunjuk sebuah kualitas dari diri kita sendiri adalah hal yang sangat penting dan mutlak ketika kita mencalonkan diri sebagai “orang terpilih” itu sendiri. Kualitas diri itu sendiri merupakan suatu pandangan subjektif yang memang pendefisinisiannya tergantung dari pribadi kita masing-masing. namun, menyangkut kualitas diri itu sendiri, di dalam sebuah pertemuan dengan PA (Pembimbing Akademik) saya di fakultas menyatakan bahwa 2015 adalah permulaan dimana persaingan benar-benar menjadi semakin nyata. Dan dalam pernyataan serta penjelasannya, saya dapat menarik suatu kesimpulan bahwa, hukum rimba akan berlaku disini, “siapa yang kuat dia yang bertahan” dan pengaplikasian ke dalam dunia kerja yaitu, “siapa yang berkualitas dialah yang bertahan.” Persaingan yang muncul di 2015 diperkirakan tidak hanya dari Indonesia belaka tapi juga dari luar dan itu berarti, mutlak, persaingan internasional terjadi. Ketika kita tidak mampu untuk bersaing dengan mereka, habislah kita!

Kualitas diri untuk menjadi “orang terpilih” dapat dibentuk dari sekarang, bagaimana kita memanfaatkan waktu sebaiknya guna memperkaya laporan diri kita yang nantinya akan digunakan dalam persaingan. Pemanfaatan waktu disini dapat bermacam-macam. Tergantung dari kita sendiri. IP atau GPA akan nilai memang tergolong penting untuk ditingkatkan dan dipertahankan, tapi, disini, tidak kalah penting juga kegiatan lain kita selain kelas formal. Penggabungan antara softskill dan hardskill memang sangatlah penting. dan itulah mungkin salah satu cara membentuk apa yang dinamakan kualitas diri untuk “menjual diri”.

Sebagai analogi, bukankah kita tidak menyukai apel dengan kualitas yang buruk atau busuk atau rusak atau hal-hal lainnyalah yang membuat kita tidak jadi memakan apel yang sedap itu???

Kembali ke topik di atas tentang human capital, kita pun adalah bagian dari human capital. Kita pun tiap hari dibentuk dan mungkin saja membentuk diri agar supaya nanti (kasarannya), kita bisa “laku” terutama “laku” nanti pada saat persaingan global benar-benar terjadi. Hmmm,,,

Pertanyaan refleksinya adalah, “So, what’s next?”

Selamat beraktivitas,

Salam Brillian!!!

GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s